Book Sale is Here!

Hi friends! Sudah saatnya saya mengucapkan selamat tinggal dengan buku-buku kesayangan. Saya menjual beberapa buku saya disini dengan harga miring.. silahkan dilihat yaa 😉

— Harga Tidak Termasuk Ongkir —

Order bisa dilakukan di kolom Comment, LINE: atash.putri, email: write.simplelife@gmail.com

GRATIS 1 buku di section ini untuk pembelian minimal 1 buku (di section lain) dan berlaku kelipatan, misalnya beli 1 buku dapet 1 free, atau beli 3 buku dapet 3 free

Bangkok by Moemoe Rizal

Unfriend You by Dyah Rinni

The Scent of Sake by Joyce Lebra

Pudar by Anif Khasanah

Mencari Tepi Langit by Fauzan Mukrim

Studying Abroad by Windy Ariestanty & Maurin Andri

Lampau by Sandi Firly

Roma by Robin Wijaya

Dog Lover’s Book by Tito Sigilipoe

Career First by Maya Arvini

My Life as Writer

BUKU TERJEMAHAN

Harga:

1 buku: 15,000

3 buku: 20,000

6 buku: 30,000

Asking for Trouble by Elizabeth Young

Train Man by Hitori Nakano

Will Grayson Will Grayson by John Green & David Levithan

Maze Runner by James Dashner

Scorch Trials by James Dashner

Death Cure (segel) by James Dashner

BUKU NON FIKSI

Harga:

1 buku: 10,000

3 buku: 15,000

6 buku: 25,000

Young on Top by Billy Boen

My Stupid Boss by Chaos@Work

The Naked Traveler 1 Year Round-The-World Trip Part 1 by Trinity

The Naked Traveler 1 Year Round-The-World Trip Part 2 by Trinity

The Naked Traveler Across The Indonesian Archipelago by Trinity

Eat Play Leave by Jenny Jusuf

Traveling is Possible! By Claudia Kaunang

Au Pair by Icha Ayu

101 Creative Notes by Yoris Sebastians

WNI Dilarang Baca by Christophe Dorigne Thomson

BUKU FIKSI

Harga:

1 buku: 10,000

3 buku: 15,000

6 buku: 25,000

Life Traveler by Windy Ariestanty

Laskar Pelangi by Andrea Hirata

Tomodachi (segel) by Winna Efendi

9 Summers 10 Autumns by Iwan Setyawan

Jakarta Love Story by Rudy Efendy

The Secret of Two Suns by Rudy Efendy

The Sweet Sins by Rangga Wirianto Putra

Lelaki Terindah by Andrei Aksana

BUKU HISTORICAL ROMANCE      

Harga:

1 buku: 10,000

3 buku: 15,000

6 buku: 25,000

By Julia London

The Devil’s Love (free jika ada pembelian buku lain minimal 1 buku, krn halamannya copot)

The Dangerous Gentleman

The Ruthless Charmer

The Beautiful Stranger

The Secret Lover

By Johanna Lindsey

Love Only Once

Tender Rebel

Gentle Rogue

The Magic of You

Say You Love Me

The Present

Captive of My Desires

No Choice But Seduction

A Loving Scoundrel

Savage Thunder

Tender is The Storm (segel)

Secret Fire

A Heart so Wild

You Belong to Me

By Catherine Anderson

Comanche Moon

Comanche Heart

Comanche Magic

Indigo Blue

Blue Skies

Baby Love (segel)

By Lorraine Heath

In Bed with The Devil

Between Devil and Desire

Surrender to the Devil

Midnight Pleasures with a Scoundrel

To Marry an Heiress

Slightly Shady by Amanda Quick

Don’t Look Back by Amanda Quick (segel)

Late for The Wedding by Amanda Quick (segel)

The Secret by Julie Garwood

The Bachelor List by Jane Feather

The Bride Hunt by Jane Feather

Desperate Duchesses by Eloisa James

BUKU ASING

Captive Prince by C.S Pacat: 20,000

Gravity Eyes (vol.01 dan vol.02) by Shinri Fuwa: 30,000

Tsumasaki ni Kisu (vol.01 dan vol.02) by Shinri Fuwa: 30,000

Gravity Eyes + Tsumasaki ni Kisu: 50,000

Topeng Kaca New Edition Bundle (tidak bisa dibeli terpisah)

Topeng Kaca (vol.01 – vol.24)

Bersatunya Dua Jiwa (vol.01 – vol.03)

Dua Akoya (vol.01 dan vol.02)

Total: 100,000

1 buku: 2,000

Bundle: 10,000

To Walk with You by Mito Orihara

Together We Will Be by Mito Orihara

Once You Were There by Mito Orihara

When I Become a Mother by Yukari Kawachi

Miiko (vol.23 dan vol.22) by Ono Eriko

Densha Otoko by Hitori Nakano & Machiko Ocha

Advertisements

[Sekedar Sharing] Kena Random Checking di Imigrasi Australia

Gini ya, saya sudah ke beberapa negara.. bukan.. saya tidak bermaksud sombong makanya dibaca dulu tulisan saya (lah galak) tapi baru kali ini saya kena random checking tanpa mereka cek record saya di paspor, ini jadi bikin saya sebel sama Australia, terkesan sombong! Jadi gini ceritanya..

Kejadiannya adalah di Bandara Tullamarine, Melbourne, begitu saya turun dari pesawat kan antri di imigrasi dulu tuh (yang panjangnya melingker-lingker dan saya tidak sangka ternyata banyak banget orang Pakistan/India yang ke Australia), sedangkan antrian untuk paspor UK, US, Singapore, Jepang, kosong melompong! huh diskriminasi sama negara ketiga nih, pikir saya sebel. Ada keluarga Pakistan/India di-interogasi cukup lama mungkin karena mereka mau mengadu nasib kali ya, kemudian kejadian lagi diantrian belakangnya, saya sih santai-santai saja karena saya mau liburan kok kenapa harus takut, Australia doang! (pede karena sudah pernah punya visa New Zealand dan Schengen, lol).

Tibalah saat saya ada di counter petugas tatoan di lengan sm leher (baru pertama kali saya lihat petugas imigrasi tatoan)

Petugas: Hello, how are you! (sapa-nya dengan ramah, tapi mukanya plain gitu)

Saya: I’m great (jawab saya mencoba jadi turis baik-baik)

Petugas: (cuma bolak-balikin lembar paspor, cek komputer, terus cap di lembar kartu deklarasi yang saya tidak declare) “Ok, thank you!”

Phiuhh.. akhirnya saya masuk Australia, hore!

Eh, tapi tunggu dulu.. kok ada antrian lagi seh -___-” ternyata masih ada antrian lagi, antrian sebelah kiri adalah antrian penumpang yang declare jadi harus scan bagasi dulu sedangkan yang lurus adalah antrian penumpang yang tidak declare dan bisa langsung melenggang keluar. Ketika pagar antrian ‘tidak declare’ dibuka oleh petugas, saya ada di antrian paling depan dengan santai geret-geret koper berjalan ke arah dia dan menyerahkan kartu deklarasi, dia cek dan bilang “Ok!”, karena saya pikir sudah selesai saya jalan dong melewati dia

Petugas: “ehhhh, tunggu dulu!

(ini apaan lagi), saya pun berhenti

Petugas: “Saya belum bilang sudah selesai”

Mati deh, ini mau diapain gue, langsung inget acara Border Security di TV -_- by the way, petugas ini cuma pegang kartu deklarasi dan tidak cek paspor saya.. SAMA SEKALI!

Petugas: “kamu di Australia ngapain?”

Saya: sambil merhatiin petugasnya cowok tinggi terus tatoan, serem >_< “saya mau holiday”

Petugas: “holiday-nya ngapain aja di Melbourne?”

Saya: “Ikut tur lah”

Petugas: “Tur apa”

Saya: “Great Ocean Road”

Petugas: “itu tur yang seperti apa”

Saya: “Tur ke pantai”

Petugas: “ke pantai aja?”

Saya: “Saya ga tau lagi, kan saya belum ikut tur-nya”

Petugas: “itu aja?”

Saya: “Paling saya jalan-jalan di city dan ke museum”

Petugas: “museum apa yang kamu tahu di Melbourne”

Saya: “Melbourne Museum”

Petugas: “Selain Melbourne Museum, museum apa lagi”

Ini rese banget petugasnya lama-lama, sumpah..

Saya: “nanti saya cari tahu pas disini yang pasti saya mau ke Melbourne Museum

Petugas: “itu aja?”

Saya: “Jalan-jalan lah, kan bisa jajan, banyak restoran”

Petugas: “Di Indonesia tinggal dimana? Central Java?”

Saya: “Jakarta”

Petugas: “Ngapain di Jakarta?”

Pengen saya tonjok nih orang, sabar.. sabar..

Saya: “Saya kerja di salah satu Perusahaan Jepang cabang Indonesia, saya hanya seminggu di Australia untuk holiday, hari ke lima saya ke Perth, setelah dari sini saya kembali ke tanah air untuk kerja lagi”

Saking keselnya saya langsung ngomong panjang x lebar 

Petugas: ngangguk-ngangguk “Ok, jadi untuk tur ini sudah dibayar di Indonesia ya?”

Ngomongnya makin ngelantur nih orang

Saya: “yes” Jawab saya malas karena sudah capek

Petugas: “Ok, kamu boleh lewat.. silahkan”

Ketika saya lihat ke belakang, antriannya sudah panjaaaaaaaaaaang banget kayanya saya di-interogasi selama 10 menit

Setelah kejadian ini saya cerita ke sepupu saya yang tinggal Perth, dia bilang banyak faktor kenapa orang seperti saya bisa d-interogasi:

  1. Saya jalan sendirian, biasanya orang yang jalan sendiri niatnya cari kerja dengan menyalahgunakan visa turis
  2. Kenapa dia tanya tempat tinggal saya? Kalau saya tinggal di Jakarta atleast dia tahu saya adalah orang kota yang bekerja di kota dan tidak ada niat mengadu nasib ke negara orang. Atau jika saya tinggal di daerah peternakan atau perkebunan karena yang ditakutkan adalah membawa virus binatang/tanaman sehingga harus dilakukan tindakan bio-security
  3. Dan terakhir alasan yang konyol, bisa jadi dia cuma usil sama saya karena mengajukan pertanyaan nonsense!!

Apapun alasannya, kesimpulannya saya sih kecewa sangat ketika berkunjung ke Australia, maksudnya saya ini sudah 6 tahun travelling dan tidak ada masalah sama penyalahgunaan visa, petugas ini dengan sok tahunya tanpa lihat paspor saya malah mengajukan pertanyaan yang saya merasa ‘direndahkan sebagai turis’ seolah-olah saya ini belum pernah travelling dan berasal dari negara miskin yang niat jadi imigran gelap. Intinya gara-gara petugas ini, saya jadi ilfeel sama Australia. Mereka sibuk mempromosikan negaranya di Indonesia, tapi saya sebagai turis malah di-interogasi disana seolah-olah saya bikin sempit negara mereka saja!

[Sekedar Sharing] Pengalaman Mengurus Visa Australia

Visa Australia adalah visa yang paling baik memperlakukan saya dibandingkan visa lainnya karena memberikan 1 tahun dengan multiple entry! (atau memang standardnya begitu namun saya yang norak, hahahahaha). Dari pengalaman saya, baik Visa Jepang, Schengen, dan New Zealand hanya memberikan 3 bulan single entry pula! Awalnya saya sudah skeptis Australia sangat susah ketika mengajukan visa (kalau yang saya baca di berita karena banyaknya turis-turis overstay atau imigran gelap) jadi negara ini memperketat kunjungan turis, kemudian saya pernah ada pengalaman waktu transit di Australia sampai di body-scanning segala gara-gara urusan jepit rambut.

Seperti biasa saya sudah beli tiketnya duluan (karena promo) dengan resiko tiket hangus padahal saya tidak tahu visa-nya bakal granted/tidak (saya selalu seperti ini selama mengajukan visa 😛 ). Dan… mepet pula!! 20 hari menjelang hari-H, saya baru submit dokumen ke VFS karena saya pikir New Zealand yang masih satu payung dengan Australia hanya 14 hari, bisa lah Australia segitu juga.

Setelah submit, saya dibilang sama beberapa teman saya yang cerita visa temannya rejected karena ada duit kaget di tabungan, atau visa Australia tidak beda jauh dengan visa Perancis yang baru di-granted pas hari H! Apalagi staff VFS bilang proses 15-30 hari kerja. Makin merana deh saya sampai saya bersumpah akan mem-blacklist negara ini kalau sampai tidak memberikan jawaban di hari H #ngambeg, ehh ternyata.. hanya 8 hari kalender saja!

Apa sih tips-nya? Berdasarkan pengalaman saya dan apa yang sudah saya infokan ke postingan sebelumnya tentang Visa Schengen, yang terpenting dokumen harus jelas dan lengkap! Berikut poin-poin mengenai supporting dokumen;

  1. Sebagai warga negara yang baik, saya punya tanggung jawab bayar pajak dengan menunjukkan nomer NPWP, selain itu adalah KTP, Kartu Keluarga, kemudian Akta Lahir
  2. Sebagai karyawan yang baik, saya punya surat pernyataan HRD yang menyatakan bahwa saya hanya bertujuan holiday dan tidak ada niat mencari pekerjaan disana, disebutkan juga tanggal saya kembali ke tanah air untuk meneruskan tanggung jawab saya di perusahaan tempat saya bekerja.
  3. Sebagai turis yang baik, saya menunjukkan bukti tiket pesawat, bookingan akomodasi menginap, serta itinerary dan asuransi berikut summary budgetnya sehingga pihak kedutaan punya gambaran saya akan menghabiskan berapa selama disana.
  4. Bukti rekening koran 3 bulan. Waini! yang jadi momok orang yang mau apply visa. Memang benar, rekening tabungan tidak selalu menentukan granted/tidaknya. Sodara saya yang juga bareng ke Australia (tapi apply-nya terpisah) disuruh deposit 25-150 juta sama agentnya padahal disana hanya seminggu. Sedangkan saya apply sendiri hanya deposit 15 juta sesuai dengan itinerary. Claudia Kaunang, seorang travel writer dan traveller memberikan tips ampuh menentukan deposit rekening koran dan tipsnya ini berhasil di visa-visa saya sebelumnya. Yaitu:  Total Budget Pesawat, Akomodasi, Jajan, Tour (jika ada) = Deposit Rekening Koran.

Ini adalah itinerary saya dimana jumlahnya (Rp 14,022,309), saya samakan dengan deposit di rekening tabungan (Rp 15,000,000).

Kira-kira seperti ini Itinerary yang saya buat, yang penting jelas budgetnya.

Oia, sebenarnya saya punya saudara yang kerja di Melbourne dan satu lagi di Perth, namun saya tidak menyebutkan bahwa saya punya saudara disana, karena pasti akan REMPONG. Saya tidak mau merepotkan mereka dengan menyiapkan surat undangan lah, rekening koran lah, surat pernyataan lah, dll, yang akan makan waktu lama. Jadi pastikan itinerary-nya menunjukkan bahwa saya memang pergi sendirian secara mandiri tanpa ketergantungan dengan orang disana.

Demikian cerita saya tentang Visa Australia, tidak perlu mendetail lha ya karena semuanya sudah tertulis dengan jelas di website VFS

[Seputar Ngetrip] Eropa Barat Part I: Belanda

Saya jadi feeling guilty ketika menulis ini, karena saya pulang dari Eropa di bulan Agustus tapi baru kesampaian menulis trip Eropa beberapa bulan kemudian dimana adalah hari ini.

Pada saat saya menulis ini, saya sedang diopname karena diagnosa tipes, infeksi lever, ada demam berdarah dan infeksi kelenjar getah bening, penyakit keroyokan ya hahahaha. Setelah tiga malam di rumah sakit saya request dibawakan laptop sama nyokap karena bosan banget! Jadi saya pikir daripada guling-guling diatas tempat tidur ga jelas lebih baik ada kesempatan menulis ini saya kerjakan saja.

Seperti yang sudah saya sounding berulang kali di postingan sebelumnya bahwa trip ke Eropa kali ini saya sendirian, sendirian dalam artian di minggu pertama saya benar-benar sendirian dan di minggu kedua ikut tripnya Claudia Kaunang juga tanpa teman yang saya kenal jadi saya kenal teman baru saat ketemu saja.

Baiklah, seperti biasa saya tidak akan menjabarkan secara berurutan karena Eropa Barat ini kan sudah mainstream ya jadi pasti bakalan bosan bacanya, jadi saya ceritakan kesan saya ketika berada ada disana.

BELANDA

Bisa dibilang negara ini yang paling banyak saya explore kota-kotanya; dari Leiden, Delft, Utrecht, Rotterdam, dan Amsterdam (ga heran biaya transportasi membengkak jadi 1.6 juta selama 5 hari saja XD ). Tips pada saat menggunakan transportasi adalah sebelumnya pastikan mau kemana saja dan setelah itu baru cek fare-nya jadi bisa dimasukkan ke dalam budget. Saya sebel banget karena kartu kereta dan bis yang saya punya tidak bisa top up menggunakan uang kertas melainkan koin atau kartu kredit!! Jadi dengan sangat terpaksa saya pakai kartu kredit yang saya gesek jika saldo-nya sudah habis (dan pakai biaya admin pula, hiks..).

Okaaaay, lupakan soal biaya transportasi yang membengkak. Oia, saya paling naksir sama negara ini. Pertama, orang-orangnya ramah banget, saya dibantu ketika kebingungan top up kartu transportasi (yang pada akhirnya tidak ada solusi karena dia sendiri tidak mengerti, hahahaha), ada mas-mas kasir yang ramah ketika saya menanyakan toko yang jual tas murah karena tali tas saya putus :'((((( dan masih banyak orang-orang Belanda lainnya yang saya temui termasuk Aaron – temennya si host yang ganteng (bukan karena bule terus ganteng loh, ini beneran ganteng untuk ukuran bule, hahahaha), sadar tampang sih tapi untungnya baik hati dan ramah karena sudah menemani saya ngobrol semalaman sebelum saya berangkat ke Schipol besok paginya 😉

Kedua, kota-kota kecil seperti Delft dan Leiden itu homiee dan countryside banget! Nah, ini baru Belanda sejati. Banyak orang-orang bersantai dibawah pohon rindang sepanjang kanal, sepeda-sepeda parkir di jembatan, ada gereja, ada market beserta jajanan pasarnya, intinya saya suka Delft dan Leiden!

DELFT

Seperti kanal di Kota Tua Jakarta ya 😉

LEIDEN

Sudut kota

Cantik!

Sebelumnya transit di stasiun Den Haag, mirip ya sama Stasiun Kota

Amsterdam, kenapa saya kurang suka ya? Kalau disuruh tinggal saya sih pengennya di kota karena akses kemana-mana mudah, tapi kalau mau trip prefer ke countryside. Kota ini crowded banget! Jalanan kotor (mungkin karena ibu kota), dan banyak hippies, Jadi sudah bukan mencerminkan ciri khas negara tersebut, tapi tidak afdol ya kalau tidak ke Amsterdam. Namun kota besar keduanya yaitu Rotterdam justru lebih baik karena lebih bersih. Belum banyak yang saya temui disana paling hanya bangunan modern saja.

ROTTERDAM

Foodcourt (saya lupa namanya) yang lagi nge-hits disana 😉

Beda dengan Delft dan Leiden yang countryside

Rotterdam adalah kota pelabuhan, jadi sering ada kapal kargo berlalu-lalang

AMSTERDAM

Hayoo ini dimana?? 😉

Snack kesukaan~! stroopwafles ❤ apalagi kalau dimakan selagi hangat

Banyak turis di depan istana yang sudah jadi museum, bapak ini merusak pemandangan saja :’D

Bersambung untuk trip ke negara lainnya di Eropa Barat.. 😉

[Sekedar Bercerita] Kisah si Bule Hunter Bagian 2

(Dari postingan sebelumnya)

Hola! Maaf ya setelah sekian lama akhirnya saya kembali dengan cerita teman saya, kalau dipikir-pikir jahat banget ya saya ngomongin orang 😥 tapi yasudahlah saya cuma mau mengeluarkan uneg-uneg saja, hehehe #modus

Cerita terakhir pas cowok Perancis ini kembali ke negaranya ya. Baiklah, setelah doi kembali ke tanah air-nya, teman saya jadi suka share artikel tertentu di FB dengan tag-an cowok tersebut, so far masih direspon dengan isi komentar tapi lama-lama cuma di-like dan akhirnya jadi tidak ada respon sama sekali :)) (eh kok ketawa sih)

Tiba lah saat dimana saya salut dan (kalau bisa sampai standing applause) karena teman saya yang statusnya sepertinya masih sebatas teman dengan cowok ini berani menyusul ke Eropa sendirian. Kebanyakan yang saya lihat foto-fotonya ada di pedesaan Perancis, teman saya sepedaan dengan cowok ini, kapan ya saya bisa begitu (sepedaan di pedesaan maksutnya!). Seperti biasa teman saya kembali menunjukkan interaksi mereka dengan meng-upload di FB foto-foto cowok itu dari belakang (halah). Dan yang lebih sensasional lagi, dia memposting foto 2 sepeda yang lagi bersandar di pinggir sungai dan menuliskan kata-kata yang intinya “….disini hanya saya dan kamu” di-tag pula cowok itu, ciehh..

Dan cowok itu tidak ada respon, di-like saja tidak. Saya jadi kasihan sama teman saya 😦 kalau saya jadi dia kan malu ya dilihat teman-temannya di FB

Selain Perancis, yang saya lihat (alias stalking) di FB adalah Italia (huagh pengen banget kesana)

Sepulangnya teman saya dari Eropa, saya japri dia dong mau tanya tentang Eropa karena sebulan lagi saya mau pergi

Saya: “Hebat loh ke Eropa sendirian, liburan ya??”

Tmn: “Mau lihat-lihat kampus disana, mau lanjut S3” 🙂

(bujug, saya boro-boro mikirin belajar, berjuang untuk kerja saja bisa sampai bikin saya kena tipes)

Saya: “Naik apa, dan berapa harga tiketnya?”

Tmn: “Dapet Turkish, PP 3 jutaan (nadanya terdengar bangga), emang lo dapet berapa?”

Saya: “Qatar, PP 7 Juta” (iyalah pas Summer/Peak Season gitu loh). “Oia, nginep dimana? Gw di AirBnB karena udah ga bisa toleransi sama hostel”

Tmn: “Emang berapa AirBnB?”

Saya: “Rp 700ribu/malem, Belanda sih soalnya, mahal 😦 “

Tmn: “Gw couchsurfing dong (dengan nada bangga yang sepertinya tidak ada interest sama sekali sama AirBnB)”

(saya jadi baper, ini kok teman saya kaya meremehkan saya yang sepertinya tidak mengerti apa-apa di depan dia yang sudah pengalaman hitch hike naik truk antar daerah di Jawa, aktif CS waktu di Bali, dan beberapa event gathering CS. Saya mah tidak bangga kalau travelling serba backpacker dan serba murah karena saya budget oriented. Sumpah ini baper beneran, hahaha)

Naaah, setelah ini baru saya mau ceritakan inti masalah yang membuat saya jadi gemes sama dia

Sepulangnya dari Eropa, saya pernah posting pengalaman AirBnB dan di-share ke FB. Teman saya sepertinya sadar dibagian cerita saya ketika interaksi dengan Martijn dan Aaron. Mau tahu teman saya komen apa?

Menarik nih, lain kali mau coba ah AirBnB

FYI, teman saya ini kan lebih bangga pakai gratisan Couchsurfing daripada AirBnB (interest saja tidak)

Modus, dasar bule hunter!

Oia, sepertinya dia sudah tidak komunikasi lagi dengan cowok Perancis-nya di FB