[Resensi Film] Freier Fall / Free Fall

Freier Fall01Director : Stephan Lacant

Duration : 1 hour 40 minutes

Genre : Drama

Release Date : May 23rd, 2013

My Personal Rating : 3.00 / 5.00

Note: contains spoiler

Freier Fall atau dalam bahasa Inggrisnya Free Fall adalah film Indie tema LGBT asal Jerman yang pernah singgah di Queer Film Festival (Q!Fest) di Jakarta beberapa bulan lalu. Freier Fall jadi review film terpilih di penutupan tahun 2013 untuk blog personal saya. Kenapa ya? Sejarahnya, saya sudah sempat browsing film-film dengan tema ini dan entah kenapa saya tertarik dengan Freier Fall. Setelah tahu ada di Q!Fest Saya loncat-loncat kegirangan, tapi toh pada akhirnya saya malah tidak nonton karena grogi nonton bareng dengan banyak orang, hahahahaha.

Minggu kemarin saya mendapatkan film ini dengan format BluRay 😀 ! Bisa dibilang ini film yang paling saya tunggu-tunggu disepanjang 2013, hehehe. Oke, selanjutnya saya langsung review ya

03_01Marc adalah seorang polisi yang sedang menjalani masa pelatihan di akademi, hidup terlihat sempurna bagi Marc; memiliki orang tua yang supportif, memiliki teman sekaligus tetangga yang baik, Marc juga bahagia karena sebentar lagi menjadi ayah bagi calon anaknya yang akan lahir dari pacarnya bernama Bettina. Sampai suatu ketika, Marc berkenalan dengan teman sekamarnya di asrama sekaligus berlatih di akademi yang sama bernama Kay.

Kay yang sedari awal sudah tertarik dengan Marc, mencoba mengganggunya ketika berlatih sehingga terpaksa mereka dipanggil ketua pelatihan karena bertengkar. Bukannya peristiwa tersebut membuat mereka menjadi saling bermusuhan, tapi malah hubungan keduanya menjadi lebih akrab. Marc saat itu belum merasakan keanehan pada diri Kay, padahal Kay sudah sedikit menggodanya, Marc juga terkadang memergoki Kay sedang menatapnya.

Ketika mereka jogging bersama di hutan, Kay tiba-tiba mencium bibir Marc. Sontak Marc langsung mengelak karena belum pernah disentuh laki-laki. Tapi Kay ini agresif banget, dan memang Marc juga lemah orangnya ya menyerah saja ketika dicumbu oleh Kay (tapi belum sampai kesitu sih) 😛 Berhari-hari setelah peristiwa itu, Marc menghindari Kay tapi itu malah membuatnya semakin penasaran sehingga ingin tahu apakah benar ia juga menikmati hubungan dengan laki-laki.

Mereka janjian lagi di hutan dan setelah momen pembuktian tersebut #halah, Marc menyadari bahwa ia ternyata memiliki hasrat dengan tubuh Kay. Kini, giliran Marc berada diantara dua pilihan; obligasi dengan orang-orang yang disayanginya, ataukah mengikuti nafsunya dengan Kay (yang lama-kelamaan Marc pun memiliki hubungan emosional dengan Kay).

Saya sungguh kecewa dengan aktingnya Hanno Koffler sebagai Marc, kaku, dan sangat beda dengan perannya yang ekspresif di film Sommersturm. Saya malah suka aktingnya Max Riemelt sebagai Kay, lebih luwes tapi tegas dan meyakinkan. Well, saya juga kecewa dengan overall ceritanya. Konflik dengan keluarganya karena masalah terungkapnya Marc sebagai penyuka sesama jenis belum selesai dan tidak jelas, apalagi dengan Bettina. Saya pikir aduh salah apa sih mereka, Bettina adalah wanita yang penyayang, keluarga dan temannya juga sangat supportif, kenapa Marc bisa dengan mudahnya jatuh cinta dengan Kay. Sebenarnya saya bingung, sebelum bertemu Kay, Marc ini sedari awal tidak kelihatan bahwa dirinya adalah biseksual. Di awal cerita terlihat Marc begitu memperlakukan Bettina dengan kasih sayang dan cinta mengingat ia sedang hamil, tidak ada yang salah dengan adegan tersebut. Sepanjang cerita hanya memperlihatkan Marc yang bingung dengan pilihannya. Proses terikatnya hubungan emosional antara Marc dengan Kay kurang dieksplor secara mendalam sehingga penonton butuh kepastian apa sih yang dilihat dari dalam diri Kay selain bisa “membangunkan” sebagian jiwa Marc yang tertidur? Ini salah satu kekurangan cerita Freier Fall. Walaupun di ending keputusan Marc menjadi jelas, namun masih belum bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala saya sehingga membuat saya berkomentar “hanya itu saja?”.

Namun, ada satu message yang bisa diambil dari film Freier Fall yang menurut saya begitu penting:

Life is about a choice, without a choice you will be standing in a middle of no where, without a single step to go, and make yourself into free fall. Although life demands sacrifice, but life also offers the happiness in your life as a result of your choice.”

1876511727363519140613

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s