[Blog/Writing Competition] 2 Jam Bersama Bule Gengges

Setelah baca bukunya Jenny Jusuf berjudul “Eat, Play, Leave: Kisah Bule-Bule Bali”, saya langsung teringat dengan beberapa bule yang saya temui ketika trip saya terakhir ke New Zealand. Kebetulan Kak Jenny menyebarkan sayembara #lah , bukan.. maksudnya mengadakan kompetisi menulis #EPLChallenge yang bertemakan kisah menarik dengan orang asing dimana hadiahnya tiket PP dan akomodasi gratis ke Bali 2 hari 1 malam! Wah, masa saya tolak sih, berhubung saya suka menulis dan ada cerita waktu trip kemarin, apa salahnya saya mencoba. 😀

Share Kak Jenny di Twitter:

Klik gambar untuk detail lengkapnya

Baiklah, setelah dipilah-pilih, saya memutuskan untuk menceritakan kisah saya dengan cowok bule di udara alias di pesawat.

Waktu itu saya dan Sundus (travel mate satu-satunya) melakukan perjalanan dengan pesawat dari Queenstown menuju Auckland yang memakan waktu selama 2 jam. Ketika saya menemukan nomer bangku, saya langsung duduk di tengah, Sundus duduk di sebelah kanan, sedangkan cowok bule ini sudah duduk duluan di sebelah kiri dekat jendela. Karena saya capek, maka saya berniat mendengarkan mp3 sambil tidur yang menurut saya posisi seperti itu adalah “surga” .

Begitu flight attendant selesai menjelaskan prosedur keamanan, pesawat sudah lepas landas, dan sabuk pengaman sudah boleh dilepas, saya pun mengambil gadget dan earphone dari dalam tas. Namun, ketika bantalan earphone mulai menempel di telinga, si dia menegur saya “anak kecil itu teriak-teriak sambil bilang “Die! Die! (mati! mati!), jangan-jangan pesawatnya mau jatuh”. Saya langsung lepas earphone dan nengok ke sumber suara itu, ternyata ada seorang anak India yang sedang asik banting-banting bonekanya, dia duduk di barisan bangku sebelah kanan sambil teriak dengan bahasa India yang terdengar memang seperti “Die” sih.

Saya langsung melotot ke si bule “Jangan doain pesawat ini bakal jatuh! You’re crazy!” tapi dia ketawa-ketawa saja, dasar.

Oke, setelah itu saya kembali memasukkan bantalan earphone ke telinga dan mendengarkan lagu One Republic kesukaan saya. Lima sampai delapan lagu sejauh ini aman terkendali. Sampai mimpi saya yang sudah di tengah jalan diganggu sama gusrak-gusruk si dia karena kesempitan, nanti posisi dia menghadap jendela kemudian pindah lagi menghadap kanan – alias – menghadap saya. Sial, jadi tidak konsen tidur kan, lagipula badan setinggi pohon gitu tapi ngotot naik maskapai budget yang  jarak kursinya sempit dan cuma bisa muat sama ukuran cowok Asia. Tapi dalam posisi begitu saya tetap memejamkan mata karena ingin berusaha tidur berhubung harus menginap semalaman di bandara Auckland nantinya. Entah kenapa saya berpikir untuk mengintip dengan membuka mata kiri kemudian melihat dia tidur sambil mendengarkan mp3 dari gadget yang namanya “apel sentuh” yang mana “apel sentuh” ini punya desain sarang laba-laba di layarnya…… alias hancur, retak-retak, dan cuma terpasang casing belakang saja, earphone-nya dong yang nge-hits.. mereknya Dr ***!

Yaelah mas, males banget sih beli gadget baru lagi, mungkin prinsip dia yang penting selama masih fungsional, huft! 

Selang beberapa menit saya kembali ke alam mimpi, dia membangunkan saya “Sorry, senderan lengannya boleh diangkat? Saya jadi merasa sempit, it’s ok?” Tanyanya sambil cengengesan. Masa saya tega membiarkan dia tidak nyaman selama di perjalanan karena ke-egoisan saya yang tetap mau menyamankan lengan saya di senderan, lagipula kita sama-sama bayar tiket pesawat dengan harga sama, jadi prinsipnya sama-sama senasib dan sama-sama seperjuangan. #ApaSih

Jadilah kita tidur lagi dalam keadaan lengan dan lengan bertemu.

Saya jadi malas tidur gara-gara dia ditambah satu jam lagi akan tiba di Auckland, akhirnya saya mendengarkan lagu saja sambil baca-baca menu makanan (yang hanya saya pandangi karena kendala irit, hiks). Pada saat saya lagi menghayati satu lagu favorit saya, tiba-tiba dia mengganggu (lagi).

Tolong, mamaaa…… 😥

“Sorry, saya boleh keluar sebentar? Lapar nih mau makan”.

Kenapa mintanya gak pas flight attendantnya nawarin makan sih. 

Karena kasihan maka saya biarkan dia lewat bersempit-sempit ria dikala kaki saya dan kaki sundus semua naik ke kursi untuk memberikan dia jalan. Kalau kata Kak Jenny di buku EPL; mental tidak enakan merupakan hasil warisan jaman penjajahan. Karena saya mentalnya tidak enakan, dipastikan saya orang Indonesia #tos ! Tidak lama, si dia kembali ke tempat duduk sambil menghela napas “Akhirnya saya ke belakang dan beli makanan ke flight attendant-nya!”.

Whatever.

Dan memang dia beneran lapar karena makannya lahap. Menuruti mental tidak enakan saya, saya pun menawarkan biskuit coklat dari dalam tas “Want more? I have some chocolate biscuits….”. Dengan tanggap dia melambai-lambaikan tangannya “No, No.. I got this, it’s enough. Lucky, they have cupcakes because I like cupcake very much!”.

Duh, cowok pohon ini suka cupcake yang mungil ternyata.

Setelah mendengar informasi dari flight attendant bahwa pesawatnya sudah mendekati tujuan, si dia langsung girang “Akhirnya sampai juga! Saya tidak sabar mau turun, hoooooi! mbak.. mbak!!! (maksudnya manggil si flight attendant) cepetan dong pesawatnya turunin”.

Sumpah malu-maluin ini cowok, saya sampai merosot ke bawah kursi karena takut dilihat orang.

Ketika sudah landing di bandara Auckland, dia tidak berhenti mengoceh “(sambil menunjuk pesawat signaturenya New Zealand) You know what? Saya tidak suka naik pesawat itu, harga tiketnya dua kali lipat dari pesawat ini. Jarak tempuhnya sama pula, rugi banget!”.

Saya balas “Lah, tapi kan nyaman, kursinya empuk, luas lagi! Kamu mestinya naik pesawat itu karena badan kamu tinggi banget”.

“No way! No way! Saya tidak mau bayar mahal-mahal untuk pesawat seperti itu, mereka diuntungkan dengan menarik uang banyak dari penumpang-penumpangnya”.

“Bayar mahal tapi kamu bisa naik pesawat bergambar Lord of The Rings yang ada disana tuh, keren!!”.

“Iya sih, tetap saja mahal!” Jawabnya kekeh.

Pantesan “apel sentuh”nya gak di-pensiunin, pelit gitu. Hadeeeh, dan lagi ya gausah komplain kalau pesawat ini sempit kan worth it dengan harganya yang paling murah dari maskapai lain.

“Duh, lama ya kita ga boleh turun-turun nih! Mbak.. mbaaaaak (memanggil flight attendant #lagi), lama banget sih saya ga sabar mau turun! Saya loncat aja deh dari sini”.

Rasanya pengen saya jewer kupingnya karena tingkahnya kampungan.

Akhirnya pesawat pun berhenti total dan semua orang bersiap-siap ambil barang dari kabin, tidak terkecuali saya. Dia mematikan mp3 di “apel sentuh”nya, dimana dibalik sarang laba-laba yang bertengger di layar ada sesosok gambar foto model wanita seksi dengan bikini merahnya. #tepokjidat

Dia pun sibuk beres-beres kemudian memasukkan barangnya ke tas. Setelah itu dia ambil jaket miliknya, saking tingginya dia agak kesulitan mengenakan jaketnya karena kepalanya mentok ke atap. Dengan terpaksa kepalanya menjulur ke belakang, spontan dia menyapa cewek-cewek dibelakang kita “Hey girls, sorry saya mengganggu karena agak kesulitan mengenakan jaket saya” Cewek-cewek itu hanya tertawa saja, dasar. o_O

Saya mengucapkan kata perpisahan ketika kita mengantri untuk keluar dari pesawat “Ok, so we already landed here as you wish and dont forget your stuff!”.

“All packed here! (menunjuk ransel di pundaknya), anyway its very nice to meet you, see you then!”.

Kita pun berpisah.

Sundus sampai berkomentar karena saya dan dia seru banget sepanjang perjalanan, apa boleh buat salah dia juga kenapa harus gengges. Sampai saat ini saya sama sekali tidak tahu namanya, dan dia pun juga tidak tahu nama saya. Berawal dari ketidak-pedulian saya terhadap orang-orang sekitar, kemudian dia muncul dan membuat saya akhirnya peduli untuk bersosialisasi (setidaknya ada interaksi) yang kemudian melahirkan cerita ini. 🙂

Anyway, yang saya tahu dia orang Australia (yang logatnya itu membuat saya mesti pasang telinga baik-baik ketika dia berbicara).

==

Saya menceritakan kisah ini setelah mendapat inspirasi dari Buku “Eat, Play, Leave: Kisah Bule-Bule Bali”, yang merupakan hasil pengamatan tentang situasi yang terjadi dimana saja, yang kemudian menjadi suatu pembelajaran penting untuk diri sendiri. Mengambil latar belakang di Ubud – Bali yang juga menjadi latar belakang buku Eat, Pray, Love, penulis memberikan wawasan bahwa semua orang memiliki sifat yang manusiawi, tidak terkecuali para penghuni Ubud dimana banyak diantaranya merupakan pelancong dari seluruh dunia. Review lengkapnya >>disini<<

Saya, laptop kesayangan, dan Buku “Eat, Play Leave” 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s