[Resensi Film] The Hundred-Foot Journey: Ketika Perbedaan Bangsa dan Budaya dipersatukan oleh Cita Rasa Masakan

hundred-foot-journey-poster-405x600

Director : Lasse Hallström

Duration : 122 Minutes

Genre : Comedy Drama

Release Date : August 8th, 2014

My Personal Rating : 4.25 / 5.00

Sesungguhnya saya sudah lama menunggu-nunggu film ini! Awalnya saya niat baca novelnya dulu tapi ini kok banyak sekali istilah kuliner yang saya tidak kenal, karena malas harus googling alhasil saya langsung nonton filmnya saja.

The Hundred-Foot Journey adalah film tentang kuliner yang diadaptasi dari novel bestseller berjudul sama. Menceritakan tentang Keluarga Kadam yang bermigrasi ke Perancis untuk menemukan kehidupan yang lebih baik. Sebelum terjadi peristiwa buruk di negara asalnya di India, mereka punya usaha restoran yang sangat laris, salah satu anggota keluarganya yaitu Hassan adalah seorang pemuda yang sedari kecil punya kepekaan tinggi terhadap rasa masakan, ia sering membantu ibunya sebagai Main-Cook yang dianggapnya seorang mentor. Setelah menghadapi peristiwa kerusuhan yang menghabiskan seluruh bisnis restoran keluarganya dan juga menewaskan Ibu Hassan dalam kebakaran, mereka pun memutuskan meninggalkan India.

Suatu hari di sebuah desa Perancis di St Antonin-Noble-Val, rem mobil yang dikendarai keluarga Kadam rusak dan terpaksa berhenti di pinggir jalan, mereka bertemu dengan wanita Perancis bernama Marguerite yang kebetulan melintas di jalur yang sama, wanita ini dengan senang hati membantu menderek mobilnya agar sampai ke tempat tinggal Marguerite. Sesampainya disana, mereka disuguhi kudapan ringan yang dibuat Marguerite dengan tangannya sendiri dan juga bahan-bahan yang diambil langsung dari kebun serta peternakan di desa itu. Kebaikan Marguerite ternyata memberikan kesan tersendiri bagi Hassan.

Keesokan harinya setelah rem mobil diperbaiki, mereka melanjutkan perjalanan, ketika tiba-tiba Papa Kadam – ayah Hassan, berhenti untuk melihat sebuah rumah kosong. Terpikir membangun bisnis restorannya disini, ia pun bertekad membelinya walaupun ditentang seluruh anak-anaknya.

Selagi mereka melihat kondisi rumah kosong itu, datanglah seorang wanita paruh baya bernama Madame Mallory seorang pemilik Restoran Perancis kelas atas bernama “Le Saule Pleureur” yang ternyata menjadi tempat kerja Marguerite sebagai Sous-Chef. Le Saule Pleureur berada tepat berseberangan dengan rumah kosong yang ditaksir Papa Kadam. Madame Mallory bermaksud mengusir secara halus dengan alasan rumah tersebut adalah properti pribadi dan pemiliknya sedang ada di Paris, namun Papa Kadam pantang menyerah dan malah berhasil negosiasi dengan pemilik rumah agar menjual rumah yang menjadi impiannya. Karena tidak ingin bisnisnya terganggu, besoknya Madame Mallory menyabotase pasar dengan membeli semua bahan-bahan yang dibutuhkan dapur Kadam.

Setelah mengetahui adanya permainan tidak sportif, Papa Kadam bersikeras membeli bahan-bahannya di tempat lain yang berjarak 10 km dari restoran mereka.

Dengan rentang waktu yang singkat akhirnya restoran yang menyajikan masakan India pun dibuka malam harinya, padahal sebelumnya anak-anak Papa Kadam tidak setuju membuka restoran karena menurut mereka orang-orang Perancis sudah memiliki cita rasa masakannya sendiri yang terkenal seantero dunia, dan lebih beratnya lagi karena tepat diseberangnya ada restorannya Madame Mallory yang jelas-jelas bukan tandingan mereka. Tepat seperti dugaan Hassan dan saudara-saudaranya, restoran yang dinamakan “Maison Mumbai” sepi pengunjung. Lagi-lagi Papa Kadam tidak menyerah, ia menyabotase orang-orang yang lewat didepannya untuk mendatangi restorannya, bahkan ia menggendong pesepeda yang jatuh untuk digiring ke rumahnya, itu semua dilakukan dengan sangat lucu tapi membuat Madame Mallory gemas, lama kelamaan pengunjungnya pun semakin banyak.

Perang persaingan dimulai, Madame Mallory mulai mengadu ke Walikota dengan alasan restoran India itu sering memasang lagu bervolume tinggi sehingga mengganggu ketenangan restorannya, Papa Kadam pun tidak mau kalah, dan seterusnya. Persaingan kedua orang tua ini begitu menghibur dan tidak ada kesan negatif ketika menontonnya. Disaat yang sama, hubungan Hassan dengan Marguerite juga semakin dekat karena mereka sering mencari bahan masakan di hutan dan makan siang bersama di pinggir danau tempat Hassan memancing ikan.

Bagaimana kelanjutan persaingan antara Madame Mallory dan Papa Kadam untuk membela restorannya masing-masing? Apakah Madame Mallory akan mengakui potensi Hassan dalam memasak? Karena selama ini Madame Mallory menyepelekan masakan dan budaya India yang tidak se-elegan masakan dan budaya Perancis.

Menurut saya, film ini menghibur dan sangat manis. Konflik utama di cerita karena bentrokan budaya juga di terjemahkan dengan aura menyenangkan, tidak memberatkan otak, dan membuat penonton tersenyum. Saya paling suka tokoh Papa Kadam, awalnya sebal karena bapak ini terlalu ngotot dan bertindak seenaknya, tapi nyatanya ia adalah seorang ayah yang penyayang dan pribadi ramah yang mudah bergaul.

Rekomendasi untuk film ini bagi yang suka kulineran 😀

Tentang Prestasi “Michelin Star”

“Michelin”

Lambang kebanggaan tertinggi para Chef dan Pemilik Restoran

Berkat The Hundred-Foot Journey, pembahasan mengenai Michelin Star sangat menarik untuk disimak bagi orang awam seperti saya 😀 Di film ini, Madame Mallory berusaha keras mempertahakan kualitas bahan masakan yang disiapkan di dapurnya karena restoran yang dimilikinya bukan sembarangan. Restoran Madame Mallory mendapat prestasi Michelin bintang satu yang diterima 30 tahun lalu, saat ini ia berusaha meningkatkan prestasinya agar mendapatkan bintang dua. Seperti kata Marguerite, bagi pemilik restoran maupun Chef, prestasi Michelin bintang satu adalah luar biasa, bintang dua adalah sangat luar biasa, dan ketiga hanya menjadi milik para dewa.

Saya mengutip beberapa paragraf dari salah satu blog mengenai Michelin:

Michelin Star adalah sebuah gelar yang diberikan oleh buku panduan restoran terbaik dunia–Michelin Guide–kepada sebuah restoran yang dianggap sangat baik kualitas makanannya dan layak untuk dikunjungi. Michelin Star memang bukan untuk makanan yang terjangkau atau murah,melainkan makanan berkulaitas tinggi yang dihasilkan oleh seorang Chef dan timnya dan memiliki harga yang sangat mahal dalam hal kuantitas ataupun kualitas. Michelin Star dimulai dari satu bintang hingga yang tertinggi tiga bintang,tetapi bukan berarti satu bintang tidak bagus. Perbandingan restoran didunia yang memiliki satu bintang Michelin adalah 1:10.000,tetapi di Indonesia sama sekali belum ada restoran yang memiliki bahkan satu bintang Michelin.

Massimo Bottura adalah Chef di “Osteria Francescana” merupakan salah satu restoran yang mendapatkan Michelin bintang 3

http://petitsluxes.com/3514/massimo-bottura-2/massimo-bottura-osteria-francescana

Bagi seorang Chef,meraih hanya satu bintang Michelin bukanlah sesuatu hal yang mudah. Karena sangat diperlukan ketelitian,kerja keras,disiplin dan paling penting passion. Tetapi memang,restoran yang memiliki bintang Michelin adalah restoran bintang lima yang rata-rata makanannya diatas Rp 300.000,- Kenapa harganya sangat mahal? hal tersebut karena;

1. Kualitas bahan yang digunakan harus selalu yang terbaik dan nomor satu.
2. Jenis masakannya memiliki tingkat kesulitan yang tinggi
3. Konsep restoran sangat berkelas dan mendukung.
4. Pelayanan yang ditawarkan selalu yang terbaik dan tidak akan ada kesalahan.

Beberapa hidangan berkelas bintang Michelin

http://en.wikipedia.org/wiki/Michelin_Guide

Oleh karena itu,harga tersebut akan sangat sebanding dengan yang kita dapatkan disebuah restoran berbintang Michelin. Bintang Michelin yang dimiliki oleh sebuah restoran,akan sangat mempengaruhi kredibilitas dan nama dari Chef restoran tersebut. Mangkanya,chef yang berkerja atau memiliki restoran berbintang Michelin akan disebut sebagai Michelin Star Chef

Sumber: http://kevindra-wonderland.blogspot.com/2011/08/gelar-michelin-star.html

===

Advertisements

2 comments

  1. Sukaaaaaa banget sama film ini. Nontonnya bikin senyum, gregetan tapi bisa senyum lebar di akhir ceritanya haha. Coba cari film The Lunchbox (aku tulis sih ulasannya) kalo suka film ini kayaknya akan suka juga film The Lunchbox hehehe

    • Selain masak ada romantisnya juga, jadi ga ngebosenin.. apalagi adegan pas lagi masak omelet, yum!

      Wah boleh tuh The Lunchbox ya coba nanti aku cari filmnya

      Sama satu lagi film Chef juga bagus 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s