[Sekedar Bercerita] Drama Malec

rs_1024x691-151120131342-1024.shadow-hunters-freeform.ch.1112015

Shadowhunters TVSeries

[mengandung spoiler]

Hi teman-teman! Bagi kalian yang sudah baca novel The Mortal Instruments #series tolong ditegur jikalau saya salah informasi ya karena ada kemungkinan saya akan salah karena sok tau XD *minta digeplak*.

Saya kenal Mortal Instruments awalnya dari film dengan judul yang sama yang diperankan Lily Collins. Jujur ya saya beropini film ini jelek banget! (bukan ceritanya), jeleknya adalah di pengemasanya, duh! Ini seperti dibuat oleh film maker amatiran, dialognya juga cheesy banget! dan plot yang cetek. Dan benar saja, film ini termasuk film dengan budget pemasukkan yang rendah dan dianggap tidak sukses sehingga tidak dilanjutkan sekuelnya. Tapi, beberapa tahun kemudian saya dapat kabar bahwa akan dibuat film seriesnya berjudul Shadowhunters.

Pertama-tama, saya cuma test drive nonton melalui Netflix karena baru buat account dan kebetulan Shadowhunters terpilih, yang namanya nonton dari awal pasti malah jadi penasaran ya pengen lanjut 😛 Kemudian, ada satu karakter yang menarik perhatian saya karena dia super cakep banget, dia memerankan Alec Lightwood. Setelah mencoba semedi *gak lah* saya merasa seperti kembali waktu nonton Mortal Instruments – dan baru ingat – lha, si Alec ini kan gay yang nanti di-pairing sama Magnus Bane XD langsung deh naluri fangirl saya keluar dan mengikuti Shadowhunters salah satunya karena ada #Malec – Magnus dan Alec 😛

Apa sih yang menarik dari Malec yang membuat saya jadi… *isi sendiri* hmm.. sebenarnya dari status mereka juga kontroversi, Alec adalah seorang Shadowhunter yaitu berdarah human/angel sedangkan Magnus adalah Warlock yaitu berdarah human/demon (koreksi kalau salah). Walaupun begitu, Magnus salah satu Warlock terkuat dan immortal sedangkan Alec terus berumur (nah lho..). Anyway, diluar kontroversi tadi, mengikuti progress relationshipnya mereka sangat menarik 🙂

Di episode awal, Alec ini naksirnya sama Jace – parabatainya, tapi romantic interestnya Jace justru  ke Clary #Clace. Tapi karena Magnus (yang adalah seorang bisexual dan playboy) gencar banget deketin Alec – ya lama-lama perasaan Alec luluh juga (ciee..). Yang bikin geregetan adalah Alec ini mukanya datar banget entah aktingnya kaku atau memang Alec dibuat begitu >.< I admit, Malec is a charm in Shadowhunters. Pairing lainnya (yang saya juga suka), adalah Simon dan Isabelle #Sizzy

Kalau nge-blank soal Mortal Instruments, apa itu shadowhunters, downworlders, rune, dll (pengetahuan dasar banget yak) – silahkan baca di wikipedia :))

Ini kehebohan saya menjelang episode 12: Malec

Saya sudah tahu endingnya kalau Malec pasti jadian, tapi eksekusinya kan tidak tahu (lagipula beda dengan di buku). Saya rencana nonton malam (karena tidak mungkin nonton di kantor), menjelang 10 menit mau nonton ternyata teman saya (dengan lugunya) share gambar melalui whatsapp untuk memastikan kalau ini film Shadowhunters tapi yang dia share justru eksekusinya :(( mau nangis darah ga, berhari-hari nungguin eksekusinya kaya gimana tapi di ruined dalam semalam :(( tapi yasudahlah ini kan baru awal :))

Hasil akhir dari episode ini adalah….

Teaser clip:

a little talk from a girl who now is in fangirl mode: 

[Sekedar Bercerita] Tanda-Tandanya Kamu Harus Menyerah Membaca Buku

Tadi pagi saya menemukan artikel yang menarik 10 Signs You Should Give Up On A Book You’re In The Middle Of (No, Really, It’s OK) di internet. Walaupun suka baca buku tapi tidak sedikit juga buku yang tidak saya lanjutkan sampai habis, ternyata hal seperti itu adalah lumrah dan bukan salah saya #mencobangeles

Kebanyakan dari 10 tanda tersebut memang terjadi di diri saya #okepositipsayabookworms

Marii, saya jabarkan opini saya ke 10 tanda-tandanya;

  1. Kamu Benci dengan si Tokoh Utama. Ada 1 buku yang saya baca dimana saya sebal dengan tokoh utamanya, tapi saya berusaha mengerti apa yang melatar-belakangi dia bisa bersikap menyebalkan. Lebih bagus lagi kalau penulisnya menceritakan latar belakang si tokoh, baru-lah saya paham dan malah jadi simpatik karena si tokoh menunjukkan sisi manusiawi-nya. Tapi, kalau si tokoh tidak menunjukkan apapun, yah.. goodbye deh dengan si buku!
  2. Kamu Selalu Tertidur Ketika Sedang Baca. Kecuali kalau benar-benar mengantuk karena lelah, biasanya saya mengantuk karena ceritanya membosankan, plotnya terlalu lambat.
  3. Kamu Baca Buku Lain Selain Buku yang Kamu Baca Sekarang. Atau disebut juga baca tandem-an, saya menghindari multi-tasking dengan baca lebih dari satu buku. Bukannya sok idealis sih tapi sering terjadi saya tertukar tokoh yang seharusnya ada di buku A ternyata di buku B, maupun konfliknya juga sering tertukar 😛 Jadi, saya bertekad hanya satu buku agar lebih fokus pada saat baca sehingga me-reviewnya pun lebih maksimal.
  4. Kamu Sering Menemukan Tata Bahasa yang Salah. Nah! Ini kadang yang mengganggu saya, sering teralihkan gara-gara soal grammar/tata bahasa, kalau sudah begitu saya langsung ilfeel dan memutuskan hubungan dengan si buku.
  5. Kamu Baca Hanya Karena Si Buku Sedang Nge-Hits. Saya pernah terjebak ketika ingin baca buku Fifty Shades of Grey karena doski sedang nge-hits, tapi begitu baca sinopsisnya ternyata tema ceritanya saya tidak suka (you know lhaa..). Poin-nya adalah, bacalah buku yang ingin kamu baca, kamu baca karena suka.
  6. Kamu Bahkan Tidak Tertawa Sama Sekali. Kalau tertawa sih jarang ya karena bacaan saya kebanyakan romance, tapi kalau buku tersebut bisa membuat perasaan saya tercampur aduk barulah saya bilang buku itu bagus!
  7. Kamu Mencari Tahun Ending-nya. Haduh, ini yang bikin saya bingung kenapa ada saja orang yang baca duluan di ending dibandingkan menikmati perasaan roller-coaster seiring cerita berjalan. Kalau sudah penasaran banget, paling saya baca di pertengahan buku tapi pada akhirnya berujung penyesalan karena sensasinya jadi berbeda. It spoiled the mood!
  8. Masih Stuck Membaca Buku yang Tidak Kamu Suka. Kadang terjadi dengan saya. Hanya sayang duit karena sudah beli, saya jadi memaksakan baca bukunya. Seriously, itu benar-benar menyiksa dan mempengaruhi mood sehari-hari saya #lebay
  9. Pikirannya Malah Kemana-Mana Saat Kamu Baca Buku. Kalau sudah seperti itu, artinya saya sudah tidak tertarik dengan bukunya karena faktor-faktor diatas! Tapi saya jarang sekali mengalami ini.
  10. Kamu Menanti si Buku untuk Dibaca. Buku seharusnya menjadi trigger bagi saya untuk dibaca sampai habis, ketika saya menanti buku tersebut maka akan meninggalkan jejak berkesan ketika selesai dibaca. Jangan sampai buku menjadikan kewajiban/paksaan untuk dibaca. Book is a thing that you should enjoy by heart, not your obligation.

And the last words!

~ Reading is supposed to be a fun and relaxing pastime ~

[Resensi Buku] Kisah Ksatria Pumpkin yang Gagah Berani Melamar Sang Pangeran

Beberapa bulan lalu, media sempat dihebohkan dengan keberadaan children book – buku fairy tale anak-anak yang memiliki tokoh pahlawan gay. Menurut sang penulis yang sudah terkenal menciptakan cerita anak-anak yaitu Daniel Errico, ini pertama kalinya dia menciptakan pahlawan yang mencintai sesama jenis. Ia mengatakan bahwa sangat penting mengenalkan adanya LGBT kepada anak-anak dengan cara yang positif yaitu menciptakan karakter tersebut ke dalam buku fairy tale dimana bisa lebih mudah diterima oleh kalangan anak-anak. Errico ingin anak-anak melihat keberanian dan ketulusan yang ada dalam tokoh Cedric – yang bisa mendorong anak-anak untuk jujur terhadap diri sendiri, menerima kondisi yang dialami orang lain maupun lingkungan.

The Bravest Knight Who Ever Lived memperkenalkan seorang anak petani labu yang miskin tapi baik hati bernama Cedric. Sedari kecil ia senang bermain dan berpetualang bersama anak-anak seumurnya.

Pada suatu hari, ia memergoki pencuri yang ingin mengambil koin-koin emas dalam kereta kuda, karena berjiwa penolong ia melempari si pencuri dengan kenari-kenari yang ada di pohon sehingga membuat si pencuri kabur. Seorang ksatria yang mengetahui kejadian tersebut bangga dengan keberanian Cedric, akhirnya ksatria tersebut mengangkat Cedric menjadi apprentice-nya. Beberapa tahun kemudian, setelah sang mentor meninggal, gelar ksatria pun diserahkan kepada Cedric.

Dengan tugasnya yang baru, ia menyelamatkan banyak orang dari kejahatan termasuk menyelamatkan para putri, namun ia sering menolak cinta sang putri karena menurut Cedric “ini bukan akhir cerita untuk saya”.

Pada suatu hari, ia menyelamatkan sepasang kakak-beradik putri dan pangeran kerajaan yang diserang oleh naga. Setelah dikalahkan oleh Cedric, naga itu kabur. Kemudian Cedric membawa anak-anak raja kembali ke istana.

Atas keberaniannya melawan naga, membuat sang putri jatuh cinta dan menawarkan diri untuk menikahi sang pahlawan. Benar-benar seperti fairy tale khas buku anak-anak 🙂

Namun ending ini dibuat berbeda yaitu ketika Cedric menolak sang putri namun ia menghargai nilai pertemanan mereka dengan mengatakan “anda adalah wanita yang sangat cantik dan sangat baik hati, namun dengan berat hati saya menolak karena ini bukan akhir cerita untuk saya” kemudian ia melanjutkan “saya jatuh cinta dengan seseorang.. dengan pangeran, saya ingin menikah dengannya, jika pangeran juga memiliki perasaan sama dengan saya” ternyata sang pangeran membalas perasaan Cedric. Awalnya raja bingung dengan kondisi ini, namun karena melihat raut muka anak laki-lakinya yang bahagia, raja pun merestui. Pesta pernikahan antara ksatria pumpkin dengan pangeran diadakan dengan meriah, rakyat gembira, semua orang ikut gembira, termasuk sang raja dan ratu.

Cedric akhirnya bisa mengatakan “inilah akhir cerita untuk saya” – and they lived happily ever after.

Walaupun banyak feedback positif dari masyarakat, namun ada juga yang menentang keberadaan buku ini terutama para orang tua yang takut anak-anaknya menganggap LGBT adalah sesuatu yang biasa – pastinya terkait dengan soal moral dan agama.

Beruntunglah saya sempat download film pendek berdurasi 8 menit ini melalui Vimeo, hehehe.

Sumber:

http://www.huffingtonpost.com/2015/06/09/bravest-knight-who-ever-lived_n_7545240.html

http://www.themarysue.com/hulu-bravest-knight-short-film/

[Sekedar Bercerita] Little Knowledge Means Something Big! (Meresensi Buku)

Sebelum baca buku baru seringkali saya mengunjungi www.goodreads.com karena ingin tahu seberapa banyak review orang tentang buku2 tersebut? Setidaknya saya punya gambaran seperti apa bentuk ceritanya.

Tapi, sering juga saya merasa kecewa sangat. Bukan rasa penasaran yang saya dapat.. yang membuat saya ingin beli buku tersebut, justru saya jadi malas karena malah baca spoiler, bahkan jalan ceritanya dibeber habis oleh beberapa review’ers.

Menceritakan apa yang kita baca itu memang menyenangkan, seperti uneg2 yang keluar dari kepala sendiri. Tapi ada baiknya kita punya etika, kita pun sebal kan kalau sudah tahu ceritanya dari orang lain?

Berdasarkan pengalaman itu, saya yang juga pemilik blog buku pribadi berinisiatif belajar bagaimana me-review atau meresensi buku dengan baik dan benar, dan ber-etika tentunya!

Namanya juga proses belajar, tentunya review buatan saya ini tidak sempurna seperti review’er lain yang punya lebih banyak jam terbang 😀 Ok, here it goes!

Bagaimana Meresensi Buku:

1. Sesuaikan jenis buku dengan minat dan selera pembaca.

2. Sebaiknya meresensi buku baru. Buku lama bisa diresensi tapi hanya sekedar berbagi ilmu dan hanya diterbitkan dalam blog.

3. Membuat anatomi buku:

– Judul buku
– Penulis
– Penerbit
– Harga
– Tebal

4. Baca dan catat hal-hal penting seperti mencatat kutipan dan pemikiran yang dianggap penting

5. Ketika menulis resensi, buatlah ulasan singkat buku tersebut

6. Jangan beberkan  jalan ceritanya!

7. Gagasan atau ide dari cerita tersebut

8. Pendapat pribadi tentang keseluruhan ceritanya bagus atau tidak?

9. Cara penuturan penulis, apakah jelas atau tidak?

10. Bagaimana sifat dan karakter tokoh utama? Dan kesan pribadi tentang tokoh tersebut

11. Terakhir adalah manfaat dari buku ini

1876511727363519140613