[Sekedar Bercerita] “Mengingatkan” – Perhatian atau Ikut Campur?

Adik ipar: *upload foto-foto dugem di social media, kebetulan dia masih single*

Kakak ipar: *tulis di kolom komentar* “jangan dugem terus, kamu mesti mikirin nikah”

Adik ipar: (hal seperti itu terjadi hampir setiap dia upload foto) *remove pertemanan dengan si kakak ipar*

Kakak ipar: *ngadu ke suaminya yang adalah kakak kandung si adik ipar*

Kakak kandung si adik ipar: *diam saja, tidak berkomentar*

Kasus seperti ini banyak dialami oleh banyak orang dimana kita tinggal di lingkungan yang kekerabatan keluarganya masih erat, alasannya sebenarnya baik jika di dalam keluarga saling mengingatkan namun kadang terjadi mis-komunikasi.

Saya mencoba mencerna latar belakang tindakan 3 karakter tadi:

Adik ipar: dia adalah generasi muda, generasi yang sudah membaur dengan social media, kegiatan yang dia lakukan di-share ke social media.

Kakak ipar: dia adalah generasi tua, generasi yang gagap teknologi apalagi dengan social media (punya account tapi jarang dipakai), dia pikir tidak perlu hal-hal negatif di-share ke publik.

Suami si kakak ipar: dia generasi tua, gagap teknologi juga, tapi karena pergaulannya luas sekali – dia dengan bijak menghargai “personal space” si adik karena menganggap si adik sudah cukup dewasa untuk membedakan mana yang baik dan buruk.

Nah di lingkungan kita, “personal space” tampaknya masih dianggap tidak familiar  oleh generasi tua apalagi jika menyangkut soal nama baik keluarga – mati-matian si generasi tua ini berusaha menghalangi kelakuan yang akan mencoreng nama keluarga. Ini dimaklumi karena generasi tua di masa mudanya masih berada dalam lingkungan yang strict terhadap norma dan tata krama sehingga terbawa sampai mereka berumur dan dianggap “kolot” oleh generasi muda. Kemudian, si adik ipar ini karena berada di generasi dimana internet mudah di-akses dan tv kabel yang menayangkan informasi dari seluruh dunia  – wawasannya pun semakin luas dan menganggap bahwa sebagai orang dewasa dia berhak untuk melakukan sesuatu sesuai hati nuraninya. Di ibukota seperti Jakarta, konsep individualistis sudah mulai merambah generasi muda dan “personal space” pun lama kelamaan semakin melekat dalam mindset orang-orang, ibaratnya: gue mau melakukan apapun bukan urusan lo – dan ga merugikan lo juga!.

So, menurut saya.. mengingatkan boleh saja, tetapi tidak sampai masuk ke ranah personal space-nya yang bersangkutan.

[Sekedar Bercerita] Detoksifikasi Social Media

Rasanya sangat menyenangkan melihat kegiatan apa saja yang dilakukan teman di Facebook maupun Path, atau jika baca berita ter-update apa yang sedang happening saat ini di Twitter. Bagi sebagian orang, keberadaan social media sangat berguna apalagi untuk saya yang senang baca berita Hollywood atau film-film yang sedang nge-hits, tidak dipungkiri saya sangat membutuhkan keberadaan social media.

Sampai saat dimana saya akhirnya menyesali bahwa saya sudah sampai ke tahap ketergantungan dengan social media ditambah smartphone saya yang sangat mendukung aplikasi tersebut. Waktu itu kejadiannya ketika saya sedang melakukan trip ke Vietnam dan Kamboja, disela-sela menjelajah lokasi saya sering craving dengan wifi, cari tempat makan atau tempat nongkrong yang harus ada wifi, begitu ketemu tempatnya saya langsung buka Facebook dan Twitter untuk update lokasi, maupun Instagram untuk apload foto. Esensi travelling 100% tidak benar-benar saya jalani, saya pun merasa menyesal sepulangnya ke Tanah Air. Mengecek social media bisa dimana saja dan kapan saja, tapi menjelajah tempat baru dan asing hanya bisa dilakukan sekali seumur hidup – ini yang benar-benar saya sesali, dan saya bertekad tidak ingin terjadi untuk kedua kalinya.

Akhirnya, saya cari ide bagaimana mengurangi kadar ketergantungan saya terhadap social media? Walaupun saya akui saya masih membutuhkan social media untuk sekedar ingin tahu update informasi karena saat ini berita apapun selalu terupdate melalui social media. Dalam hal ini saya ingin mengurangi kadarnya saja, tujuannya? Agar saya bisa melakukan kegiatan lain yang berguna diluar ketergantungan saya terhadap smartphone tanpa harus putus komunikasi sama sekali dengan teman-teman social media.

Menurut saya, cara paling ampuh agar tidak terganggu notifikasi disaat saya tidak ingin ber-social media adalah me-log off semua aplikasi seperti Facebook, Twitter, dan Instagram saya. Adanya notifikasi lumayan menciptakan distraction dan selalu membuat saya penasaran – ketergantungan mode: on lagi

Pada saat aktivitas rutin:

Kegiatan rutin saya dari Senin sampai Jumat adalah pulang-pergi dari rumah ke kantor, di kantor pun kerja.

LOG ON. Jika mau, sempatkan waktu cek social media di rumah sebelum keluar untuk pergi ke kantor. Saya sering cek Twitter dan Facebook ketika mengeringkan rambut, lumayan supaya tidak bosan 🙂 Setelah keluar rumah barulah di-log off.

LOG OFF. Selama beraktifitas agar waktu kerja lebih efisien. Biasanya ketika jam makan siang, saya makan diluar, aplikasi pun harus tetap off karena hanya di jam tersebut saya bisa bersosialisasi dengan orang-orang. Jika dalam kondisi saya harus makan siang di meja kerja (karena malas kemana-kemana), saya usahakan untuk baca novel, atau buka buzzfeed, atau toko online, bahkan website maskapai 😛

LOG OFF. Di tengah aktifitas, jika ada sesuatu yang harus saya share untuk Instagram, saya pasti langsung foto (sayang kan kalau momennya terlewat), kemudian saya simpan dan saya catat komentar saya di notes. Ketika saatnya buka social media barulah saya share fotonya dan copy komentar saya yang di notes ke dalam Instagram.

LOG ON. Pulang kantor (yang pasti jalanannya macet), saya pasti bosan. Nah, barulah saat seperti itu saya gunakan untuk cek social media! Log on kembali 🙂

Pada saat weekend:

Weekend adalah waktu terpanjang untuk saya bisa cek social media semau saya, tapi saya juga tidak mau menjadi ketergantungan. Biasanya yang saya lakukan adalah:

LOG ON. Begitu bangun tidur saya cek social media sambil ngopi, badan masih lemas jadi boleh lah bermalas-malasan dulu di sofa 😛 setelah itu log off kembali karena banyak yang saya lakukan di weekend selain hanya mengecek social media; blogging, nonton dvd, baca novel, hangout, atau main The Sims di laptop.

LOG OFF. Pada saat hangout karena saat itu saya bersosialisasi dengan keluarga jika pergi dengan keluarga, atau teman-teman pada saat janjian, menikmati ambience suasana baru setelah bosan di ruangan kantor. Hello, weekend masih saja berhubungan dengan social media. Jika menunggu teman yang belum datang? Saya usahakan baca novel.

LOG ON. Jika sudah sampai rumah, biasanya sore atau menjelang malam, barulah saya cek social media, done!

Pada saat travelling:

Nah justru ini yang memberatkan karena saya ingin pamer ke teman-teman kalau saya pergi ke suatu tempat. Saya notes untuk urusan social media:

LOG ON. Jika berada di bandara menunggu pesawat take off, atau menunggu di bandara dalam jangka waktu lama (misalnya menginap), saya cek social media untuk mengurangi bosan.

LOG OFF. Pada saat makan siang atau nongkrong, saya usahakan baca novel saja atau buka detik.com dan teman-temannya. Travelling menjadikan saya lebih lama mengecek social media dibandingkan saat tidak travelling karena ketika membuka social media; newsfeednya sudah bejibun sehingga butuh waktu lebih lama menghabiskan newsfeed, akibatnya waktu nongkrong pun semakin panjang dan batas waktu untuk menjelajah tempat menjadi semakin sempit.

LOG ON. Lebih baik dilakukan jika sudah sampai di hostel, mengecek sambil tiduran di tempat tidur.

Finally…

Mungkin segini dulu tips dari saya, sebenarnya belum sepenuhnya saya kerjakan karena saya baru proses belajar 🙂 namanya juga sudah lama menggandrungi social media, untuk lepas dari ketergantunga itu butuh waktu yang tidak sebentar.

Bagaimana dengan Whatsapp? Seperti halnya BBM atau SMS, Whatsapp harus aktif setiap saat karena siapa tahu ada hal penting yang harus saya tahu secepatnya. Swarm juga tidak saya off-kan karena tidak ada newsfeed yang penting, hanya update lokasi orang-orang saja.