[Sekedar Bercerita] Mental Inlander?

Sumber Gambar

Sudah lama sekali saya mau curhat tentang ini, sejak baca artikelnya Travelling Precils mengenai insiden di Potato Head Bali (tapi masalah sudah selesai) barulah saya inisiatif menuliskan pengalaman saya sendiri.

Disini saya hanya membahas sampai ke ruang lingkup ‘bagaimana perilaku menghadapi langsung orang asing’, jika mengenai orang kita menyukai film asing dibanding film lokal, dll, tidak akan saya bahas karena lingkupnya terlalu luas dan harus di-telaah lebih lanjut.

Banyak yang sesungguhnya ‘tidak sadar’ bahwa orang kita masih bermental inlander. Inlander adalah suatu pemikiran bahwa orang asing atau negara asing dianggap lebih superior dan minder atas identitas dirinya sendiri. Contoh kecil, mempersilahkan orang asing yang duluan masuk lift (mempersilahkan, bukan siapa duluan yang masuk lift), dan contoh lainnya yang barangkali kita perhatikan di kegiatan sehari-hari.

Saya heran Indonesia sudah merdeka di tahun 1945 namun mental (maaf) seperti jongos ini masih melekat di jiwa banyak orang walaupun di ibukota sekalipun (saya tidak mengeneralisasi semua orang Indonesia seperti ini ya). Saya menemukan cukup banyak insiden contohnya ketika di restoran saya dan teman-teman diperlakukan kurang sopan – waiternya seperti malas melayani kami, begitu dia ke meja orang asing – tampangnya langsung sumringah dan hospitality mode on. Seperti kata Travelling Precils, saya di-diskriminasi oleh bangsa sendiri di negara sendiri (kira-kira begitulah). Entah faktor psikis apa yang menyebabkan banyak orang seperti itu, saya belum sempat observasi. Waktu ke Vietnam, saya tidak melihat penduduk lokalnya bersikap seperti orang Indonesia, orang-orang Vietnam malah menganggap turis asing (terutama orang Kaukasia) biasa saja dan keramahan orang Vietnam tetap sama dengan saya yang bertampang Asia, tidak dibeda-bedakan dengan Kaukasia.

Saya pun mungkin ada perilaku yang menunjukkan sikap inlander namun saya berusaha untuk introspeksi dan memperbaiki diri. Namun berdasarkan pengalaman saya travelling dan bertemu banyak orang asing, saya menyadari bahwa mereka hanya manusia biasa, bukan dewa seperti perlakuan orang kita kepada orang asing di Indonesia. Makanya sering mendengar atau melihat sendiri orang asing berlaku semena-mena atau sombong, kenapa? Ya karena perlakuan orang kita yang ‘melayani’ mereka ini mengakibatkan orang asing yang barangkali kurang piknik jadi ‘kaget’ dan terlihat norak dengan berlagak seperti tuan tanah.

Saya sendiri bekerja di salah satu Perusahaan Jepang. Banyak sekali contoh yang saya amati keseharian di kantor. Seperti menyebutkan istri pegawai asing dengan ‘nyonya’ (ini saya gemas sekali, memangnya kita pelayan manggil2 nyonya), parahnya yang mengucapkan adalah pegawai kantor yang berpendidikan (bukan drivernya). Atau contoh lain pegawai yang manggut2 ketika bicara dengan pegawai asing kemudian lama2 pegawai tersebut diperlakukan semena2 seperti menerima email dengan nada kurang sopan dan seperti memarahi jongos, padahal orang asing tersebut hanya berstatus advisor – bukan atasan atau bos. Saya pernah diperlakukan oleh orang yang sama, yakali saya terima email dengan kata-kata disertai tanda seru yang banyak (bisa bayangkan tidak manner-nya dia?), langsung saya jawab;

Dear …… -san

I’ll answer your questions,

First, bla.. bla.. bla.. (tentang kerjaan)

Second, bla.. bla.. bla.. (masih tentang kerjaan)

And third, for next email please do not put too many exclamation mark, it’s in-appropriate!

Selanjutnya dia langsung telp saya dan minta maaf.

Sejak itu setiap bicara dengan dia, saya selalu menjawab kalau saya tidak setuju (sebelumnya saya hanya iya2 saja walaupun menurut saya dia itu salah). Sampai saat ini, kalau mau bicara dengan saya dia mikir dan senyum2 dulu, hahahaha!

Dan contoh-contoh lainnya yang tidak bisa saya ceritakan semuanya disini.

Kesimpulannya, bagaimana kita bersikap akan mempengaruhi cara orang lain membalas sikap kita. Kalau kita berani, dia pun akan berpikir panjang untuk berlaku semena-mena.

Karena mereka berani kalau melihat kita sudah takut duluan.

[Sekedar Bercerita] “Mengingatkan” – Perhatian atau Ikut Campur?

Adik ipar: *upload foto-foto dugem di social media, kebetulan dia masih single*

Kakak ipar: *tulis di kolom komentar* “jangan dugem terus, kamu mesti mikirin nikah”

Adik ipar: (hal seperti itu terjadi hampir setiap dia upload foto) *remove pertemanan dengan si kakak ipar*

Kakak ipar: *ngadu ke suaminya yang adalah kakak kandung si adik ipar*

Kakak kandung si adik ipar: *diam saja, tidak berkomentar*

Kasus seperti ini banyak dialami oleh banyak orang dimana kita tinggal di lingkungan yang kekerabatan keluarganya masih erat, alasannya sebenarnya baik jika di dalam keluarga saling mengingatkan namun kadang terjadi mis-komunikasi.

Saya mencoba mencerna latar belakang tindakan 3 karakter tadi:

Adik ipar: dia adalah generasi muda, generasi yang sudah membaur dengan social media, kegiatan yang dia lakukan di-share ke social media.

Kakak ipar: dia adalah generasi tua, generasi yang gagap teknologi apalagi dengan social media (punya account tapi jarang dipakai), dia pikir tidak perlu hal-hal negatif di-share ke publik.

Suami si kakak ipar: dia generasi tua, gagap teknologi juga, tapi karena pergaulannya luas sekali – dia dengan bijak menghargai “personal space” si adik karena menganggap si adik sudah cukup dewasa untuk membedakan mana yang baik dan buruk.

Nah di lingkungan kita, “personal space” tampaknya masih dianggap tidak familiar  oleh generasi tua apalagi jika menyangkut soal nama baik keluarga – mati-matian si generasi tua ini berusaha menghalangi kelakuan yang akan mencoreng nama keluarga. Ini dimaklumi karena generasi tua di masa mudanya masih berada dalam lingkungan yang strict terhadap norma dan tata krama sehingga terbawa sampai mereka berumur dan dianggap “kolot” oleh generasi muda. Kemudian, si adik ipar ini karena berada di generasi dimana internet mudah di-akses dan tv kabel yang menayangkan informasi dari seluruh dunia  – wawasannya pun semakin luas dan menganggap bahwa sebagai orang dewasa dia berhak untuk melakukan sesuatu sesuai hati nuraninya. Di ibukota seperti Jakarta, konsep individualistis sudah mulai merambah generasi muda dan “personal space” pun lama kelamaan semakin melekat dalam mindset orang-orang, ibaratnya: gue mau melakukan apapun bukan urusan lo – dan ga merugikan lo juga!.

So, menurut saya.. mengingatkan boleh saja, tetapi tidak sampai masuk ke ranah personal space-nya yang bersangkutan.