[Sekedar Bercerita] Kisah si Bule Hunter Bagian 2

(Dari postingan sebelumnya)

Hola! Maaf ya setelah sekian lama akhirnya saya kembali dengan cerita teman saya,¬†kalau dipikir-pikir jahat banget ya saya ngomongin orang ūüė• tapi yasudahlah saya cuma mau mengeluarkan uneg-uneg saja, hehehe #modus

Cerita terakhir pas cowok Perancis ini kembali ke negaranya ya. Baiklah, setelah doi kembali ke tanah air-nya, teman saya jadi suka share artikel tertentu di FB dengan tag-an cowok tersebut, so far masih direspon dengan isi komentar tapi lama-lama cuma di-like dan akhirnya jadi tidak ada respon sama sekali :)) (eh kok ketawa sih)

Tiba lah saat dimana saya salut dan (kalau bisa sampai standing applause) karena teman saya yang statusnya sepertinya masih sebatas teman dengan cowok ini berani menyusul ke Eropa sendirian. Kebanyakan yang saya lihat¬†foto-fotonya ada di pedesaan Perancis, teman saya sepedaan dengan cowok ini, kapan ya saya bisa begitu¬†(sepedaan di pedesaan maksutnya!). Seperti biasa teman saya kembali menunjukkan interaksi mereka dengan meng-upload di FB foto-foto cowok itu dari belakang (halah). Dan yang lebih sensasional lagi, dia memposting foto 2 sepeda yang lagi bersandar di pinggir sungai dan menuliskan kata-kata yang intinya “….disini hanya saya dan kamu” di-tag pula cowok itu, ciehh..

Dan cowok itu tidak ada respon, di-like saja tidak. Saya jadi kasihan sama teman saya ūüė¶ kalau saya jadi dia kan malu ya¬†dilihat teman-temannya di FB

Selain Perancis, yang saya lihat (alias stalking) di FB adalah Italia (huagh pengen banget kesana)

Sepulangnya teman saya dari Eropa, saya japri dia dong mau tanya tentang Eropa karena sebulan lagi saya mau pergi

Saya: “Hebat loh ke Eropa sendirian, liburan ya??”

Tmn: “Mau lihat-lihat kampus disana, mau lanjut S3” ūüôā

(bujug, saya boro-boro mikirin belajar, berjuang untuk kerja saja bisa sampai bikin saya kena tipes)

Saya: “Naik apa, dan berapa harga tiketnya?”

Tmn: “Dapet Turkish, PP 3 jutaan (nadanya terdengar bangga), emang lo dapet berapa?”

Saya: “Qatar, PP 7 Juta” (iyalah pas Summer/Peak Season gitu loh). “Oia, nginep dimana? Gw di AirBnB karena udah ga bisa toleransi sama hostel”

Tmn: “Emang berapa AirBnB?”

Saya: “Rp 700ribu/malem, Belanda sih soalnya, mahal ūüė¶ “

Tmn: “Gw couchsurfing dong (dengan nada bangga yang sepertinya tidak ada interest sama sekali sama AirBnB)”

(saya jadi baper, ini kok teman saya kaya meremehkan saya yang sepertinya tidak mengerti apa-apa di depan dia yang sudah pengalaman hitch hike naik truk antar daerah di Jawa, aktif CS waktu di Bali, dan beberapa event gathering CS. Saya mah tidak bangga kalau travelling serba backpacker dan serba murah karena saya budget oriented. Sumpah ini baper beneran, hahaha)

Naaah, setelah ini baru saya mau ceritakan inti masalah yang membuat saya jadi gemes sama dia

Sepulangnya dari Eropa, saya pernah posting pengalaman AirBnB dan di-share ke FB. Teman saya sepertinya sadar dibagian cerita saya ketika interaksi dengan Martijn dan Aaron. Mau tahu teman saya komen apa?

Menarik nih, lain kali mau coba ah AirBnB

FYI, teman saya ini kan lebih bangga pakai gratisan Couchsurfing daripada AirBnB (interest saja tidak)

Modus, dasar bule hunter!

Oia, sepertinya dia sudah tidak komunikasi lagi dengan cowok Perancis-nya di FB

[Sekedar Bercerita] Kisah si Bule Hunter Bagian 1

boy-1298788_960_720

Ouch! Kenapa saya pikir istilah ini kasar ya? Maafkan kalau ada yang merasa tersinggung, ini saya cerita berdasarkan kejadian teman saya yang dari dulu saya sebenarnya sudah seuzon sama dia, hahaha. Karena tidak tahan pengen share, saya ceritakan disini karena sudah lumayan membuat saya ilfil.

Jadi nih, dia¬†adalah teman di kantor saya sebelumnya, kami sama-sama¬†fresh graduate yang bekerja di salah satu bank dimana rata-rata memang karyawannya fresh graduate sih.¬†Saya heran, dia kok bisa ya lagi¬†online dengan customer¬†(kami saat itu sebagai call center) terus ketik-ketik handphone (saat itu layarnya masih monokrom, jadi kebayang ya itu tahun berapa #berasatuir), capek kan ya mencet-mecetin keypad yang¬†cuma 12 tombol -_-”¬†dan hp-nya selalu¬†diletakkan¬†di depan layar komputer seperti monitoring sesuatu. Jiwa kepo pun muncul dan saya tanya “lo ngapain sih sibuk banget sama hp”, dia jawab lagi chattingan sama pacarnya, hoo..¬†Jadi pacarnya ini adalah orang Romania ketemunya di chatting room¬†dan berlanjut ke yahoo messenger, wow.. hebat banget belum pernah ketemu tapi¬†tahan aja gitu 1 tahun ngobrol gak¬†tahu tampangnya. Dia cerita pacarnya ini¬†serius mau nikah sama dia dan teman saya rencananya¬†setelah menikah mau dibawa ke Jepang¬†karena pacarnya pindah kerja disitu. Sampai akhirnya kami sama-sama resign di waktu berbeda, saya di kantor baru dan teman saya melanjutkan S2. Nah, saat teman saya¬†dinyatakan lulus kuliah, dia pasang pengumuman di timeline facebook dan nge-tag¬†pacarnya, klise sih hanya bilang “Akuh lulus, akuh lulus! sambil mention si pacar” terus dijawablah sama¬†pacarnya dengan Bahasa Romania dan karena saya kepo saya google translate, hahahaha, kata-katanya kurang lebih seperti ini “selamat yaa.. aku mencintaimu lebih dari apapun..¬†kamu beautiful, blah.. and the blah.. and the blah..”. Eh¬†buset, saya mah eneg ada cowok ngomong begitu ke cewek, jangan-jangan temen saya¬†selama berhubungan dibanjiri kata-kata itu, hueeghh -_-“. Tau gak sih, saya baru sadar kalau selama ini teman saya pasang profile picture¬†bukan muka dia, melainkan gambar kartun atau gambar yang bukan dia. Kemudian begitu pasang muka asli dia,¬†jrengggg! Apa yang saya takutkan terjadi, si pacar ini menghilang tanpa jejak, teman saya kalau update¬†status dengan mention dia¬†sudah tidak di-respon lagi, saya jadi sedih karena orang-orang pasti tahu betapa gondoknya dia ūüė¶ dan sepertinya setelah itu mereka sudah tidak kontak-kontakan lagi, atleast itu yang saya perhatikan di timeline facebook, biasanya sih¬†lumayan sering.

Setelah kejadian tersebut, dia pindah ke Bali dan aktif couchsurfing, saya pikir hebat ya¬†menjadi guide turis jalan-jalan seperti sepedaan atau sekedar nongkrong di pantai, foto-fotonya dibanjiri teman-temannya yang orang asing, terus dia juga ke asia tenggara¬†dan gathering dengan anggota couchsurfing lainnya. Sedangkan saya di kantor baru lagi struggling dengan karir, hahaha. Sampai suatu saat saya menemukan di timeline (lagi), dia update status dan ada komentar temannya kira-kira begini “eh gimana lo sama si…. (sebutkanlah Mr I)” terus sama dia dijawab¬†menggantung. Hmm.. jangan-jangan lagi baper sama cowok¬†nih, dan benar sajah!¬†Cowok ini adalah orang Iran (atau Timur Tengah lah) anggota couchsurfing yang lagi ke Bali. Mulai lagi deh tuh timeline dia¬†yang ada hubungannya sama cowok Iran. Mungkin karena cowok ini¬†niatnya cuma mau traveling, temen saya yang tadinya ditanggapi lama-lama dicuekin ditambah lagi sepertinya si Iran¬†banyak fans cewek yang komentar di foto dia (saya stalking lho, hahaha), dan si Iran¬†karena cuma murni mau traveling ya cuek juga sama mereka sih. Dia dan Cowok Iran pun – End.

Sekitar tahun lalu, teman saya¬†update status (lagi-lagi) menemani cowok kali ini orang Perancis (halah,¬†siapa lagi ini), sampai ada foto-foto snorkeling, dan….¬†munculah foto dia pegangan tangan (tangannya doang yang ke-foto) sama cowok itu! Wah kemajuan nih, pikir saya, banyak teman-teman yang menyoraki “ciee.. ciee.. sama bule”, tapi teman saya malah gak klarifikasi (aneh ah, kalau pegangan tangan artinya sudah dekat dong, lagian seneng banget bikin teman-temannya penasaran #koksayayangribet). Tapi setelah lama-lama¬†saya perhatikan di timeline, mereka cuma teman saja deh! (kan orang lain yang menilai, lol) jangan-jangan teman saya cuma mau bikin statement ini loh dia lagi ‘dekat’ sama bule, dan lagipula setelah saya perhatikan pegangan tangannya kelihatan memaksa! Kaya nangkep orang yang mau jatuh, bukan pegangan¬†romantis (you know ah..). Selama yang saya perhatikan, cowok Perancis ini responnya baik sama dia dibanding cowok-cowok sebelumnya, akhirnya cowok Perancis ini pun pulang ke negaranya.

(berlanjut kesini….)

[Sekedar Sharing] Pertama Kali Menggunakan Airbnb

Pemandangan kompleks perumahan di Utrecht dari dalam rumah

Hola, saya kembali~! Setelah 2 minggu melalang buana ke Eropa Barat, saatnya saya berbagi cerita di blog! Berhubung banyak banget yang mau di-ceritakan,¬†postingan akan di-publish terpisah aja¬†ūüėÄ

Bagi yang sering traveling pasti tidak aneh mendengar kata Airbnb, fasilitas akomodasi ini lagi populer dimana-mana bahkan host saya di Belanda juga rencana pakai Airbnb ketika akan berkunjung ke Los Angeles.

Saya memutuskan pakai Airbnb karena semakin umur (sadar wes tue) sudah tidak bisa kompromi menginap di hostel yang kebanyakan tamu-nya abege labil dan berisiknya itu loh.. gak nahan! Saya ingin tidur dengan tenang, makan dengan tenang, santai dengan tenang, tanpa harus basa basi dengan penghuni sekamar maupun penghuni hostel di pantry. Walaupun saya ikut open trip waktu ke Eropa, namun di minggu pertama saya duluan tiba di Belanda sendirian. Saya memutuskan menginap di Utrecht karena saya tidak terlalu suka kota metropolitan yang crowded dan sesak seperti Amsterdam atau Rotterdam (cukup sudah saya merasakannya di Jakarta setiap hari T_T). Berhubung baru pertama kali menggunakan Airbnb, saya memilih host yang punya reputasi baik di testimonial, kalau dapat host dengan title superhost malah lebih bagus lagi.

Berdasarkan¬†postingannya Mba Ade¬†tentang tips memesan via Airbnb, saya tidak langsung klik ‘instant booking’ melainkan kirim¬†private message ke host atleast menghormati sang host ūüėĬ†Dari 5 host yang¬†saya¬†message, 2 declined dan 1 PHP (hiks), namun 2 host menerima¬†saya!¬†Setelah mempertimbangan 2 host akhirnya saya pilih Martijn sang superhost sebagai host saya disana (beruntung banget!).

Pembicaraan antara saya dan Martijn (maaf ya Mba Ade kata-katanya saya contek sedikit, hehehe)

Satu hari menjelang keberangkatan ke Belanda, saya di private message oleh Martijn yang menanyakan kapan saya datang dan jika dia tidak ada di rumah, kunci ada di loker samping rumahnya yang bisa dibuka dengan 4 digit password. Baiklaaahh, tinggal¬†bagaimana perjalanan saya dari Amsterdam ke Utrecht saja nih berhubung saya perdana traveling sendirian ūüėõ

Untuk mencari rumahnya Martijn di Utrecht, googlemaps amat sangat membantu saya. Selain berfungsi sebagai live map, googlemaps juga memberikan informasi detail tentang kereta dan bis nomer berapa yang harus saya naiki berikut platform serta¬†schedule waktunya sehingga tidak perlu buang-buang waktu nanya kesana kemari.¬†Tidak rugi deh saya pasang paket internet provider di Indonesia mahal-mahal biar bisa akses googlemaps XD tapi lain kali pakai mifi/wifi portable saja ya lumayan bisa saving 50% dari harga paket internet yang saya pakai ūüė¶

Pengalaman di Rumah Sang Superhost.

Pertama kali memasuki rumahnya Martijn di Utrecht, yang saya pikirkan adalah…. ini saya mesti lepas sepatu gak sih!? Karena takut rumahnya kotor, saya nyeker saja¬†ke dalam sambil nentengin sepatu. Kesan pertama rumahnya Martijn itu, yaa.. namanya juga rumah bujang cowok, tas dan sepatu dimana-mana, laptop gletak aja di meja, tapi dapurnya dong.. bersih kinclong, toiletnya juga! Saat itu tidak ada orang, jadi mumpung lagi sendirian saya foto-foto deh rumahnya ūüėõ

Ngarep punya dapur begini di rumah

Beberapa jam kemudian, Martijn pulang ke rumah dan¬†kami pun berkenalan.¬†Saya kaget dengan cowok Belanda, tinggi buangeet! Saya saja bicara dengan dia harus dongak,¬†kepala saya hanya dibawah ketiaknya dia kali! Sampai-sampai saya bilang “kamu tuh tinggi banget!” dan dia cuma ketawa (tingginya 186cm loh!) :)) Oia, dia tidak sendirian pulang, melainkan bawa temannya dengan tinggi yang sama (hueee..) bernama Aaron yang saya anggap mukanya kaya boyband (atau persis kaya Prince William waktu umur 20-an), lucuuu! Tapi sialnya saya kenalan dengan Aaron dalam kondisi rambut saya berantakan, muka saya kucel, karena perjalanan panjang dari Indonesia kemari, arrgh! XD So far, Martijn orangnya¬†ramah dan asik, yaah.. tipikal cowok gaul gimana sih, atleast orangnya menyenangkan. Dia tidak bisa lama-lama¬†disitu¬†karena ada shift malam. Selama 4 malam berikutnya kami tidak pernah ketemu karena saat dia kerja saya pulang dan saat dia pulang saya malah pergi.

Walaupun fasilitas tersedia di rumah seperti mesin cuci (yang diletakkan di kamar saya di loteng), dapur, dan tv di living room, namun tidak saya pakai. Boro-boro mau dipakai, saya saja sudah pergi pagi sekali dan pulang malam sekali jadi mau ngapa-ngapain sudah capek!

Living room

Orang Belanda seneng banget pakai sepeda, Martijn sempat menawarkan sepeda punya ceweknya yang katanya cuma setinggi 160cm (setinggi saya) tapi ketika saya duduk, kaki saya gantung dan tidak ada rem pula :(( daripada nabrak anak orang akhirnya tidak jadi deh, padahal saya mau ke grocery beli bekal buat masak di dapur.

Tempat tidurnya nyaman! Empuk-empuk cozyy, dan kamar mandinya juga bersih, ada air panasnya pula (memang harus ada!).

Satu hari menjelang check out, saya private message ke Martijn memberitahukan bahwa besok pagi-pagi saya harus pergi karena janjian sama rombongan open trip di Schiphol jam 9, Martijn menjawab dan berharap semoga saja kami bisa bertemu.

Jam 11 malam ketika saya selesai mandi¬†mesin cuci di kamar saya ternyata sedang bekerja (saat itu saya pikir mungkin Martijn meninggalkan pakaian kotornya disini)¬†dan setelah itu berbunyi ‘beep-beep’ terus menerus padahal putaran di dalamnya sudah berhenti, bagaimana saya mau tidur mana besok harus berangkat pagi-pagi. Saya pelajari bahasa tombol di mesin cuci (pakai¬†Bahasa Belanda pula) duuh rasanya mau nangis, tanpa pikir panjang saya klik saja ‘pause/start’ barangkali si beep-beep jadi diam. Eehh, malah mencuci ulang dari awal, arrghh XD sudahlah, saya tinggalkan saja (pura-pura tidak tahu). Saat saya sedang bebenah diri di karpet tiba-tiba Aaron masuk ke kamar saya dong, ternyata baru¬†ketahuan¬†kalau Aaron¬†pinjam mesin cucinya Martijn karena punya dia rusak, hadeuuhh.. ganteng-ganteng merepotkan orang saja -___-”¬†dia¬†pikir di kamar sudah tidak ada orang jadi dia mencuci disitu, tiba-tiba dia bingung kenapa¬†mesinnya belum selesai mencuci padahal sudah disetting 50 menit, ketika saya beritahu apa yang saya lakukan terhadap mesin itu, dia ketawa dan bilang “yang kamu pencet itu artinya mencuci ulang dan¬†saya harus berterima kasih sama kamu karena membuat pakaian saya¬†dua kali lebih bersih”, saya jawab saja ya lagian cuci¬†di kamar saya tidak bilang-bilang! Dia sih pasrah saja dan malah duduk di sofa samping¬†saya O_O lah ini orang mau ngapain, pikir saya, ternyata dia mengajak ngobrol sambil menunggu mesinnya¬†selesai bekerja. Baiklaah, kapan lagi ngobrol sama orang ganteng (padahal saya sudah ngantuk luar biasa). Aaron menyenangkan orangnya, dia cerita tentang ceweknya yang blasteran Indonesia-Belanda, sampai meng-screencapture jadwal kereta dan bis untuk saya besok (dia menunjukkan jadwal dari hpnya dalam posisi muka dekat sekali dengan saya, 1 inchi lagi pipi kami nempel kali, saya jadi tidak konsen mendengarkan karena grogi XD ). Dua jam kemudian kami masih ngobrol dan tidak lama Martijn masuk kamar dan bertanya ngapain kami berdua disini, akhirnya kami cerita tentang insiden mesin cuci dan Martijn ngakak¬†aja gitu, duuh malu deh saya -____-”¬†sambil bercanda dia bilang akan nulis testimonial tentang saya yang merusak propertinya,¬†tapi gak lah.. testinya dia aman kok ūüėõ Anyway, Aaron juga punya 6 rumah yang disewakan untuk Airbnb lho! Jika penasaran dengan tampang boyband-nya Aaron bisa cek di website Airbnb di Utrecht dengan nama Finn.

Honestly they are very good host! Saya meng-appreciate hospitality-nya mereka, Martijn walaupun sibuk banget tapi komunikasi dengan dia justru lancar dan quick response, tidak heran sih dia dikasih gelar superhost.

Kesimpulan saya mengenai Airbnb pertama;

    1. Kalau ada sesuatu yang harus di-infokan ke host seperti preferensi makan dan minuman halal, bilang saja! Kalau tidak di-infokan, seandainya host-nya berniat mau kasih complimentary makanan atau minuman jadi tidak salah.
    2. Tanyakan ke host, untuk sepatu/sendal apakah boleh dipakai ke dalam (misal dari luar rumah ke kamar, atau dari kamar ke luar rumah). Di rumah Martijn, dia ke kamar saya dalam kondisi pakai sepatu dari luar rumah dan lantai kamar saya jadi berpasir! XD jadi besok-besoknya saya pakai sepatu dari kamar ke dapur untuk isi air ke botol kemudian keluar rumah tanpa harus nyeker di rumahnya.
    3. Tanyakan ke host, apa saja yang boleh diminta di dapur. Dapurnya Martijn banyak sekali makanan di kulkas, kopi, susu, cornflakes, wine ada diatas meja, saya agak ragu minta kopinya dia karena belum bertanya XD
    4. Dengan menggunakan Airbnb, saya merasakan langsung kehidupan orang lokal setempat, kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lokal di rumah jauh lebih banyak karena ada saja cerita ketika berinteraksi dengan mereka seperti pengalaman saya dengan Aaron, dibandingkan dengan hostel/hotel yang ujung-ujungnya ketemu dengan turis juga sehingga sharing mengenai lokasi dan budaya setempat tidak maksimal.

Sepertinya itu saja pengalaman saya¬†tentang Airbnb yang membuat saya ingin¬†menggunakan jasa ini lagi untuk trip selanjutnya. ūüėČ

[Sekedar Bercerita] Apakah Tiba Saatnya Saya Travelling Sendirian?

Teman¬†baik saya pernah berkata “kalau mau travelling, andalkan diri sendiri saja dan jangan bergantung¬†dengan teman seperjalanan karena kalau bergantung – plan travelling lo yang sudah direncanakan akan berantakan dimana¬†seharusnya¬†kesempatan itu sudah terbuka untuk lo.. gue pernah begitu ada rencana pergi dan sudah mempersiapkan ini itu tapi¬†teman gue¬†satu persatu batal dan pada akhirnya gue pergi sendiri. Sejak itu kalau mau travelling gue selalu¬†berprinsip, kalau¬†teman gue mau ikut – silahkan, tidak ya monggo.. yang penting gue tetap bisa pergi”.

Awalnya saya tidak begitu menyerap kata-kata teman saya karena saya pikir selama ini punya travel mate yang saya pikir sudah cocok banget! Beberapa travelling selalu berhasil dijalankan sampai akhirnya kami merencanakan travelling ke suatu negara tahun ini.

Pada waktu travelling ke NZ, kami sudah merencakan akan ke suatu negara 2 tahun kemudian (yang mana sudah memasuki tahun ini), saya sudah browsing mulai dari destinasi, akomodasi, pesawat, dan lain sebagainya, termasuk soal pengaturan cuti. Selama travelling saya senang mengatur segalanya juga untuk teman saya dari beli tiket pesawat, booking hostel, beli paket tur, termasuk mengurus visa.

Ketika¬†tiba¬†saatnya saya menemukan promo tiket pesawat ke suatu negara, saya menghubungi teman saya tapi ternyata¬†dia¬†bakalan terpakai cutinya sehingga kami tidak bisa ke suatu negara¬†selama 2 minggu. Oh okay, saya sudah menawarkan bagaimana kalau seminggu? Dijawabnya “kok hanya sebentar, tidak seru”. Sampai akhirnya saya kasih ultimatum “mau pergi tahun ini atau tahun depan? Gue ikut lo aja”. Namun,¬†hampir seminggu tidak ada kabar, tiket pesawatpun jadi menjulang tinggi – kekecewaan pun mulai muncul di diri saya, usaha saya yang hampir setiap hari browsing tiket pesawat murah hasilnya nihil, sia-sia. Apalah susahnya hanya menjawab ya dan tidak. Saya sudah berusaha toleransi, mengorbankan keinginan saya yang ingin pergi dua minggu menjadi hanya satu minggu dan tidak memaksakan pergi tahun ini karena saya tidak boleh egois.¬†Saat itu¬†saya pasrah¬†memundurkan jadwalnya menjadi tahun depan karena saya tidak pede jalan sendirian.

Sampai teman saya yang lain menyarankan “lo kenapa ga ambil tur aja? Cari yang murah”, tiba-tiba muncul lah ide saya untuk ambil tur, benar juga hitung-hitung latihan pergi tanpa teman yang dikenal walaupun saya ikut tur. Sambil semangat saya mendaftarkan diri mengikuti tur, saya memutuskan pergi duluan 5 hari kesana untuk menikmati kesendirian saya dulu, tiket pesawat dan akomodasi pun juga sudah beres. Betapa menyenangkannya sesekali melakukan sesuatu untuk diri sendiri¬†sendiri tanpa mempertimbangkan pendapat¬†orang lain yang mungkin¬†akan¬†mengalami kekecewaan.

Saya tidak boleh menyalahkan dia karena dia punya alasan sendiri. Saya yang harus disalahkan karena saya tidak bisa ambil keputusan untuk kepentingan diri saya sendiri. Pelajaran buat saya nantinya.

Lagipula selagi ada kesempatan, kenapa tidak saya ambil?¬†Selagi masih single saya harus memanfaatkan kesempatan ini – passion saya untuk travelling. Tuntutan hidup akan terus ada, suatu saat saya harus berkeluarga – siapa tahu tahun depan saya tidak bisa bebas seperti ini lagi ūüėČ

Untuk trip saya selanjutnya, akan ditulis yaa.. coming soon!

[Sekedar Bercerita] Mental Inlander?

Sumber Gambar

Sudah lama sekali saya mau curhat tentang ini, sejak baca artikelnya Travelling Precils mengenai insiden di Potato Head Bali (tapi masalah sudah selesai) barulah saya inisiatif menuliskan pengalaman saya sendiri.

Disini saya hanya membahas sampai ke¬†ruang lingkup ‘bagaimana perilaku menghadapi langsung orang asing’, jika mengenai¬†orang kita menyukai film asing dibanding film lokal, dll, tidak akan saya bahas karena lingkupnya terlalu luas dan harus di-telaah lebih lanjut.

Banyak yang¬†sesungguhnya ‘tidak sadar’ bahwa orang kita masih bermental inlander. Inlander adalah suatu pemikiran bahwa orang asing atau negara asing dianggap lebih superior dan minder¬†atas identitas dirinya sendiri.¬†Contoh kecil, mempersilahkan orang asing yang duluan masuk lift (mempersilahkan, bukan siapa duluan yang masuk lift), dan contoh lainnya yang barangkali kita¬†perhatikan di kegiatan sehari-hari.

Saya heran Indonesia sudah merdeka di tahun 1945 namun mental (maaf) seperti jongos ini masih melekat di jiwa banyak orang walaupun di ibukota sekalipun (saya tidak mengeneralisasi semua orang Indonesia seperti ini ya). Saya menemukan cukup banyak insiden contohnya ketika di restoran saya dan teman-teman diperlakukan kurang sopan Рwaiternya seperti malas melayani kami, begitu dia ke meja orang asing Рtampangnya langsung sumringah dan hospitality mode on. Seperti kata Travelling Precils, saya di-diskriminasi oleh bangsa sendiri di negara sendiri (kira-kira begitulah). Entah faktor psikis apa yang menyebabkan banyak orang seperti itu, saya belum sempat observasi. Waktu ke Vietnam, saya tidak melihat penduduk lokalnya bersikap seperti orang Indonesia, orang-orang Vietnam malah menganggap turis asing (terutama orang Kaukasia) biasa saja dan keramahan orang Vietnam tetap sama dengan saya yang bertampang Asia, tidak dibeda-bedakan dengan Kaukasia.

Saya pun mungkin ada perilaku yang menunjukkan sikap inlander namun saya berusaha untuk introspeksi dan memperbaiki diri.¬†Namun berdasarkan pengalaman saya travelling dan bertemu banyak orang asing, saya menyadari bahwa mereka hanya manusia biasa, bukan dewa seperti perlakuan orang kita kepada orang asing di Indonesia. Makanya sering¬†mendengar atau melihat sendiri orang asing berlaku semena-mena atau¬†sombong, kenapa? Ya karena perlakuan orang kita yang ‘melayani’ mereka ini mengakibatkan orang asing yang barangkali kurang piknik jadi¬†‘kaget’ dan terlihat norak dengan berlagak seperti tuan tanah.

Saya sendiri bekerja di salah satu¬†Perusahaan¬†Jepang. Banyak sekali contoh yang saya¬†amati¬†keseharian di kantor. Seperti menyebutkan¬†istri pegawai asing dengan ‘nyonya’ (ini saya gemas sekali, memangnya kita¬†pelayan manggil2¬†nyonya), parahnya yang mengucapkan adalah pegawai kantor yang berpendidikan (bukan drivernya). Atau contoh lain pegawai yang manggut2 ketika bicara dengan pegawai asing kemudian¬†lama2 pegawai tersebut diperlakukan semena2 seperti menerima email dengan nada kurang sopan dan seperti memarahi jongos,¬†padahal orang asing tersebut hanya berstatus¬†advisor – bukan atasan atau bos. Saya pernah diperlakukan oleh orang yang sama, yakali saya terima email dengan¬†kata-kata disertai tanda seru yang banyak (bisa bayangkan¬†tidak manner-nya dia?), langsung saya jawab;

Dear …… -san

I’ll¬†answer your questions,

First, bla.. bla.. bla.. (tentang kerjaan)

Second, bla.. bla.. bla.. (masih tentang kerjaan)

And third, for next email please¬†do not put too many¬†exclamation mark, it’s¬†in-appropriate!

Selanjutnya dia langsung telp saya dan minta maaf.

Sejak itu setiap bicara dengan dia, saya selalu menjawab kalau saya tidak setuju (sebelumnya saya hanya iya2 saja walaupun menurut saya dia itu salah). Sampai saat ini, kalau mau bicara dengan saya dia mikir dan senyum2 dulu, hahahaha!

Dan contoh-contoh lainnya yang tidak bisa saya ceritakan semuanya disini.

Kesimpulannya, bagaimana kita bersikap akan mempengaruhi cara orang lain membalas sikap kita. Kalau kita berani, dia pun akan berpikir panjang untuk berlaku semena-mena.

Karena mereka berani kalau melihat kita sudah takut duluan.