[Resensi Film] The Hundred-Foot Journey: Ketika Perbedaan Bangsa dan Budaya dipersatukan oleh Cita Rasa Masakan

hundred-foot-journey-poster-405x600

Director : Lasse Hallström

Duration : 122 Minutes

Genre : Comedy Drama

Release Date : August 8th, 2014

My Personal Rating : 4.25 / 5.00

Sesungguhnya saya sudah lama menunggu-nunggu film ini! Awalnya saya niat baca novelnya dulu tapi ini kok banyak sekali istilah kuliner yang saya tidak kenal, karena malas harus googling alhasil saya langsung nonton filmnya saja.

The Hundred-Foot Journey adalah film tentang kuliner yang diadaptasi dari novel bestseller berjudul sama. Menceritakan tentang Keluarga Kadam yang bermigrasi ke Perancis untuk menemukan kehidupan yang lebih baik. Sebelum terjadi peristiwa buruk di negara asalnya di India, mereka punya usaha restoran yang sangat laris, salah satu anggota keluarganya yaitu Hassan adalah seorang pemuda yang sedari kecil punya kepekaan tinggi terhadap rasa masakan, ia sering membantu ibunya sebagai Main-Cook yang dianggapnya seorang mentor. Setelah menghadapi peristiwa kerusuhan yang menghabiskan seluruh bisnis restoran keluarganya dan juga menewaskan Ibu Hassan dalam kebakaran, mereka pun memutuskan meninggalkan India.

Suatu hari di sebuah desa Perancis di St Antonin-Noble-Val, rem mobil yang dikendarai keluarga Kadam rusak dan terpaksa berhenti di pinggir jalan, mereka bertemu dengan wanita Perancis bernama Marguerite yang kebetulan melintas di jalur yang sama, wanita ini dengan senang hati membantu menderek mobilnya agar sampai ke tempat tinggal Marguerite. Sesampainya disana, mereka disuguhi kudapan ringan yang dibuat Marguerite dengan tangannya sendiri dan juga bahan-bahan yang diambil langsung dari kebun serta peternakan di desa itu. Kebaikan Marguerite ternyata memberikan kesan tersendiri bagi Hassan.

Keesokan harinya setelah rem mobil diperbaiki, mereka melanjutkan perjalanan, ketika tiba-tiba Papa Kadam – ayah Hassan, berhenti untuk melihat sebuah rumah kosong. Terpikir membangun bisnis restorannya disini, ia pun bertekad membelinya walaupun ditentang seluruh anak-anaknya.

Selagi mereka melihat kondisi rumah kosong itu, datanglah seorang wanita paruh baya bernama Madame Mallory seorang pemilik Restoran Perancis kelas atas bernama “Le Saule Pleureur” yang ternyata menjadi tempat kerja Marguerite sebagai Sous-Chef. Le Saule Pleureur berada tepat berseberangan dengan rumah kosong yang ditaksir Papa Kadam. Madame Mallory bermaksud mengusir secara halus dengan alasan rumah tersebut adalah properti pribadi dan pemiliknya sedang ada di Paris, namun Papa Kadam pantang menyerah dan malah berhasil negosiasi dengan pemilik rumah agar menjual rumah yang menjadi impiannya. Karena tidak ingin bisnisnya terganggu, besoknya Madame Mallory menyabotase pasar dengan membeli semua bahan-bahan yang dibutuhkan dapur Kadam.

Setelah mengetahui adanya permainan tidak sportif, Papa Kadam bersikeras membeli bahan-bahannya di tempat lain yang berjarak 10 km dari restoran mereka.

Dengan rentang waktu yang singkat akhirnya restoran yang menyajikan masakan India pun dibuka malam harinya, padahal sebelumnya anak-anak Papa Kadam tidak setuju membuka restoran karena menurut mereka orang-orang Perancis sudah memiliki cita rasa masakannya sendiri yang terkenal seantero dunia, dan lebih beratnya lagi karena tepat diseberangnya ada restorannya Madame Mallory yang jelas-jelas bukan tandingan mereka. Tepat seperti dugaan Hassan dan saudara-saudaranya, restoran yang dinamakan “Maison Mumbai” sepi pengunjung. Lagi-lagi Papa Kadam tidak menyerah, ia menyabotase orang-orang yang lewat didepannya untuk mendatangi restorannya, bahkan ia menggendong pesepeda yang jatuh untuk digiring ke rumahnya, itu semua dilakukan dengan sangat lucu tapi membuat Madame Mallory gemas, lama kelamaan pengunjungnya pun semakin banyak.

Perang persaingan dimulai, Madame Mallory mulai mengadu ke Walikota dengan alasan restoran India itu sering memasang lagu bervolume tinggi sehingga mengganggu ketenangan restorannya, Papa Kadam pun tidak mau kalah, dan seterusnya. Persaingan kedua orang tua ini begitu menghibur dan tidak ada kesan negatif ketika menontonnya. Disaat yang sama, hubungan Hassan dengan Marguerite juga semakin dekat karena mereka sering mencari bahan masakan di hutan dan makan siang bersama di pinggir danau tempat Hassan memancing ikan.

Bagaimana kelanjutan persaingan antara Madame Mallory dan Papa Kadam untuk membela restorannya masing-masing? Apakah Madame Mallory akan mengakui potensi Hassan dalam memasak? Karena selama ini Madame Mallory menyepelekan masakan dan budaya India yang tidak se-elegan masakan dan budaya Perancis.

Menurut saya, film ini menghibur dan sangat manis. Konflik utama di cerita karena bentrokan budaya juga di terjemahkan dengan aura menyenangkan, tidak memberatkan otak, dan membuat penonton tersenyum. Saya paling suka tokoh Papa Kadam, awalnya sebal karena bapak ini terlalu ngotot dan bertindak seenaknya, tapi nyatanya ia adalah seorang ayah yang penyayang dan pribadi ramah yang mudah bergaul.

Rekomendasi untuk film ini bagi yang suka kulineran 😀

Tentang Prestasi “Michelin Star”

“Michelin”

Lambang kebanggaan tertinggi para Chef dan Pemilik Restoran

Berkat The Hundred-Foot Journey, pembahasan mengenai Michelin Star sangat menarik untuk disimak bagi orang awam seperti saya 😀 Di film ini, Madame Mallory berusaha keras mempertahakan kualitas bahan masakan yang disiapkan di dapurnya karena restoran yang dimilikinya bukan sembarangan. Restoran Madame Mallory mendapat prestasi Michelin bintang satu yang diterima 30 tahun lalu, saat ini ia berusaha meningkatkan prestasinya agar mendapatkan bintang dua. Seperti kata Marguerite, bagi pemilik restoran maupun Chef, prestasi Michelin bintang satu adalah luar biasa, bintang dua adalah sangat luar biasa, dan ketiga hanya menjadi milik para dewa.

Saya mengutip beberapa paragraf dari salah satu blog mengenai Michelin:

Michelin Star adalah sebuah gelar yang diberikan oleh buku panduan restoran terbaik dunia–Michelin Guide–kepada sebuah restoran yang dianggap sangat baik kualitas makanannya dan layak untuk dikunjungi. Michelin Star memang bukan untuk makanan yang terjangkau atau murah,melainkan makanan berkulaitas tinggi yang dihasilkan oleh seorang Chef dan timnya dan memiliki harga yang sangat mahal dalam hal kuantitas ataupun kualitas. Michelin Star dimulai dari satu bintang hingga yang tertinggi tiga bintang,tetapi bukan berarti satu bintang tidak bagus. Perbandingan restoran didunia yang memiliki satu bintang Michelin adalah 1:10.000,tetapi di Indonesia sama sekali belum ada restoran yang memiliki bahkan satu bintang Michelin.

Massimo Bottura adalah Chef di “Osteria Francescana” merupakan salah satu restoran yang mendapatkan Michelin bintang 3

http://petitsluxes.com/3514/massimo-bottura-2/massimo-bottura-osteria-francescana

Bagi seorang Chef,meraih hanya satu bintang Michelin bukanlah sesuatu hal yang mudah. Karena sangat diperlukan ketelitian,kerja keras,disiplin dan paling penting passion. Tetapi memang,restoran yang memiliki bintang Michelin adalah restoran bintang lima yang rata-rata makanannya diatas Rp 300.000,- Kenapa harganya sangat mahal? hal tersebut karena;

1. Kualitas bahan yang digunakan harus selalu yang terbaik dan nomor satu.
2. Jenis masakannya memiliki tingkat kesulitan yang tinggi
3. Konsep restoran sangat berkelas dan mendukung.
4. Pelayanan yang ditawarkan selalu yang terbaik dan tidak akan ada kesalahan.

Beberapa hidangan berkelas bintang Michelin

http://en.wikipedia.org/wiki/Michelin_Guide

Oleh karena itu,harga tersebut akan sangat sebanding dengan yang kita dapatkan disebuah restoran berbintang Michelin. Bintang Michelin yang dimiliki oleh sebuah restoran,akan sangat mempengaruhi kredibilitas dan nama dari Chef restoran tersebut. Mangkanya,chef yang berkerja atau memiliki restoran berbintang Michelin akan disebut sebagai Michelin Star Chef

Sumber: http://kevindra-wonderland.blogspot.com/2011/08/gelar-michelin-star.html

===

[Resensi Film] 純情 ~ Junjou / Pure Heart

Warning: banyak bocoran ceritanya! 😛

Sebelum nonton ini, saya sudah menyiapkan strategi. Sejak drama ini diangkat dari sebuah manga berjudul sama, saya memutuskan untuk baca manganya terlebih dahulu supaya bisa lebih mudah membandingkan. Junjou menceritakan tentang cinta pertama di masa SMA yang terlupakan, yang kemudian bersemi kembali ketika mereka sudah dewasa (so sweet ya!), dan menurut saya versi live action/dramanya lebih bagus daripada versi manga. Manganya sendiri seperti manga yaoi pada umumnya yaitu mengumbar seks yang eksplisit, saya sempat curiga apakah di dramanya juga seperti itu? Nyatanya tidak, yaaah.. beberapa kali ada sih tapi tidak separah di manga 😛 walaupun ada beberapa adegan yang melenceng dari cerita aslinya tapi esensi ceritanya tidak hilang; cinta pertama – bertemu lagi – dua-duanya bingung – finalisasi tentang perasaan masing-masing.

Faktor penting dari sebuah drama yang diangkat dari cerita fiksi adalah, bagaimana penokohannya? Yuk, kita lihat!


Keisuke TOZAKI (Cast by Tochihara Rakuto)

Tozaki adalah seorang writer freelance yang bekerja dibawah perusahaan majalah advertising “Daiburu”. Waktu SMA dia naksir Kurata tapi hanya bisa melihat dari kejauhan ketika Kurata latihan running. Pada saat mereka bertemu kembali, Tozaki yang pertama menyadari bahwa pria yang ditemuinya adalah Kurata. Di drama ini Tozaki terlihat lebih modis (dan lebih imut) daripada di manga yang penampilannya biasa banget! Dimana saya lebih suka Tozaki di drama. Rakuto memerankan Tozaki dengan sangat bagus! Tozaki punya karakter yang lempeng, kalem, kadang suka bengong sebentar, tapi dia baik hati, tipikal Uke lah. Saya merasa kasihan sama si Tozaki, baik di manga atau di drama nasibnya sama. Jadi korban perasaan~!! 😀

Shosei KURATA (Cast by Takahashi Yuta)

Saya kenal Takahashi Yuta dari drama Takumi-kun Series 2 sebagai figuran dan karena dia-lah saya penasaran dengan drama ini dimana Yuta akhirnya jadi karakter utama (seme pula).

Kurata adalah seorang business man di perusahaan “VS” yang secara tidak sengaja bertemu Tozaki pada saat wawancara untuk majalah Daiburu (saya tidak ngeh ini perusahaan di bidang apa yang pasti mereka punya website “VS.com”, penjualan online kali ya? Hehehe). Haduhh! Ini nih yang membuat saya kecewa, postur badannya Kurata di drama tidak sesuai dengan Kurata di manga dimana dia lebih tinggi dan gagah o_O Kurata di drama itu badannya kecil. Sembari nonton saya tidak berhenti kecewa karena postur badannya dia, tapi lama-lama kekecewaan saya hilang juga karena Yuta bisa menciptakan sifat genggesnya Kurata dengan sangat baik (=_=)a Kurata itu adalah seorang Seme yang super gengges; kaku, kasar, posesif, temperamen, tapi disisi lain dia pemalu, mungkin dia bisa gengges karena untuk menutupi perasaan yang sebenarnya, oya satu lagi.. dia perokok berat! Dan itu tidak cocok diperankan Yuta yang posturnya lebih imut (masih aja dibahas). Anyway saya tidak bermaksud objektif lho ya mentang-mentang postur si Kurata ini tidak sesuai, saya kecewa dengan Kurata karena sifatnya (di manga) namun di sisi lain saya salut Yuta bisa mengekspresikan karakter Kurata. Bagi yang belum baca manganya mungkin akan sedikit bingung kenapa Kurata bisa tiba-tiba cemburu tak beralasan, di manga vol.2 sebenarnya terkuak mengapa, tapi di drama tidak dibahas.

Kazuomi MIYATA (Cast by Shinoda Mitsuyoshi)

Tokoh yang paling saya suka! Miyata adalah mantan senior dan mantan pacarnya Tozaki di kampus yang kemudian menjadi atasannya di Daiburu. Orangnya kepo berat, usil, tapi sangat perhatian, dan cool! Jika diperhatikan, gara-gara Miyata, Kurata dan Tozaki berkali-kali bertengkar.. ya apa lagi alasannya kalau bukan karena Kurata pencemburu, mungkin itu sebabnya Miyata suka iseng menggoda Kurata. Karena Miyata hanya muncul beberapa kali jadi karakternya tidak sepenuhnya terekspos, dan jujur saya kecewa (hehehe), tapi tampang usilnya dapet kok! 😛 Saya heran kenapa Tozaki tidak milih si Miyata sih, malah lebih milih Kurata yang gengges, tapi oh well.. cinta pertama memang susah tergantikan.

STORY

Ceritanya sih sangat simpel, seperti yang sudah tadi saya bahas sebelumnya bahwa si Tozaki ini naksir dengan Kurata semasa SMA. Beberapa tahun kemudian, karena urusan bisnis mereka tidak sengaja bertemu. Sebenarnya Tozaki sudah menyadarinya kalau seseorang yang ditemuinya adalah Kurata ketika mereka saling bertukar kartu nama, namun karena Tozaki tidak pede sehingga dia mengabaikannya. Entah apa ada yang ada dalam pikiran keduanya tiba-tiba mereka sudah tidur bareng aja di apartemennya Tozaki 😛 Kurata pun malah meninggalkan Tozaki dalam keadaan linglung. Kejadian itu tidak hanya sekali, tapi kedua kali dan seterusnya dimana Kurata sering mendatangi apartemen Tozaki untuk menidurinya (lagi) dan Tozaki dengan tololnya mau aja diperlakukan seperti itu berulang kali. Lama-kelamaan mereka pun semakin dekat dan menjalani hubungan seperti layaknya sepasang kekasih. Kemudian si iseng mantan pacarnya Tozaki semasa kuliah yaitu Miyata, hadir diantara Kurata dan Tozaki. Emang dasar usil Kurata berhasil dibuat marah olehnya. Tapi justru tindakan Miyata malah jadi menimbulkan masalah Tozaki dan Kurata, apalagi Kurata ini temperamen jadinya menyebalkan karena sering cemburu yang tidak berasalan, bertengkarlah mereka, karena tidak tahan dan dengan emosi, Tozaki mengusir Kurata dari apartemennya karena masih tidak mempercayainya. Beberapa hari kemudian mereka pun kembali melakukan aktivitas seperti biasa, namun disaat hubungan sedang renggang keduanya malah mengenang kembali masa-masa pertemuan mereka ketika SMA. Suatu hari  teman kantornya Kurata memperlihatkan sebuah majalah advertising yang berisi quote dengan latar belakang laut dimana inspirasinya datang dari perasaan masa lalunya Tozaki. Ketika itu Tozaki memperhatikan Kurata yang sedang berlatih di pinggir laut dan mengibaratkan Kurata seperti laut. Setelah melihat majalah itu dan menyadari ada sesuatu yang ingin dikatakannya, Kurata menyuruh Tozaki untuk bertemu di pinggir pantai, tempat perasaan mereka pertama kali mulai bersemi 🙂

Saya tampilkan beberapa scene yang familiar dengan di manga 😉

Adegan tergondok yaitu ketika Tozaki ditinggal setelah dimanfaatin 😀

Ada yang beda ketika Tozaki memperhatikan Kurata. Di drama settingnya di pantai, sedangkan di manga settingnya di sekolah

Sebenarnya ada beberapa adegan yang beda dengan di manga. Seperti kalau di drama ada adegan ketika Tozaki nonton film dan pergi ke pelabuhan dengan Miyata, padahal di manga dengan tokoh lain yaitu Yoshioka (Yoshioka tidak muncul di drama). Kemudian di drama, ada adegan ketika Kurata diantar pulang oleh teman kantornya – seorang wanita yang sepertinya ada hati dengan Kurata, kemudian adegan di bis waktu SMA ketika Kurata menemukan pembatas bukunya Tozaki, dan yang paling penting adalah adegan ketika Kurata membaca majalah dan memutuskan untuk bertemu Tozaki. Menurut saya adegan tersebut sangat manis sehingga adegan serupa di manga jadi tidak seberapa 🙂

Dan terakhir adalah last scene (ini sih sudah bocoran, bukan lagi spoiler) 😀

Sesungguhnya saya lebih suka last scene di drama, jauh lebih manis 😥

 Versi Manga

Saya suka sekali soundtracktnya 😀 Judulnya “Junjou” by Aotsuki

Saya penasaran dengan liriknya, maka saya minta tolong sahabat saya – Rei untuk diterjemahkan, makasih Reiiiii :-*

Junjou – Aotsuki

Boku wa sagasuyo
Chikyuu no hate ni
Towa ni tsuzuku ai no uta
Kimi ni okuru
Boku no kakenani
Itsukaya dore ao no junjou

Aku akan mencari
Sampai ke ujung dunia
Lagu cinta yg abadi selamanya
Dan pasti suatu saat akan
tersampaikan padamu
Birunya hatiku yg suci

Nani ka o oikakeru senaka
Boku o tsutae takute
Kimi wa tada hohoemi no seki ni nani kao
Misueteita

Aku ingin menyampaikan sesuatu
Pada punggung yg sedang
mengejar sesuatu itu
Kalau aku menemukan sesuatu di
dalam senyummu

Tadori tsuke Sorry nari kedo
Fuan toshi koroshite
Noikonna ai no kotobari
Inochi suwa kaketeita
Tokimeki o sare na iyouni
Yozore ni kometa negai

Aku memohon di langit malam
Agar hati ini tidak berdegup
Walaupun pd akhirnya tidak mgkin
Aku ingin menghilangkan rasa
tidak aman ini
Aku sudah mempertaruhkan
nyawaku
Pada bahasa cinta yg sprti ini

Mou sukoshi Ato sukoshi
Kimi ni todokanai kana

Sedikit lagi.. Tinggal sedikit lagi
Apakah akhrnya sampai ke kamu..

Boku wa sagasuyo
Chikyuu no hate ni
Towa ni tsuzuku ai no ute
Kimi ni okuru
Boku no kakenanii
Tsukaya dore ao no junjou

Aku akan mencari
Sampai ke ujung dunia
Lagu cinta yg abadi selamanya
Dan pasti suatu saat akan
tersampaikan padamu
Birunya hatiku yg suci

[Resensi Film] Freier Fall / Free Fall

Freier Fall01Director : Stephan Lacant

Duration : 1 hour 40 minutes

Genre : Drama

Release Date : May 23rd, 2013

My Personal Rating : 3.00 / 5.00

Note: contains spoiler

Freier Fall atau dalam bahasa Inggrisnya Free Fall adalah film Indie tema LGBT asal Jerman yang pernah singgah di Queer Film Festival (Q!Fest) di Jakarta beberapa bulan lalu. Freier Fall jadi review film terpilih di penutupan tahun 2013 untuk blog personal saya. Kenapa ya? Sejarahnya, saya sudah sempat browsing film-film dengan tema ini dan entah kenapa saya tertarik dengan Freier Fall. Setelah tahu ada di Q!Fest Saya loncat-loncat kegirangan, tapi toh pada akhirnya saya malah tidak nonton karena grogi nonton bareng dengan banyak orang, hahahahaha.

Minggu kemarin saya mendapatkan film ini dengan format BluRay 😀 ! Bisa dibilang ini film yang paling saya tunggu-tunggu disepanjang 2013, hehehe. Oke, selanjutnya saya langsung review ya

03_01Marc adalah seorang polisi yang sedang menjalani masa pelatihan di akademi, hidup terlihat sempurna bagi Marc; memiliki orang tua yang supportif, memiliki teman sekaligus tetangga yang baik, Marc juga bahagia karena sebentar lagi menjadi ayah bagi calon anaknya yang akan lahir dari pacarnya bernama Bettina. Sampai suatu ketika, Marc berkenalan dengan teman sekamarnya di asrama sekaligus berlatih di akademi yang sama bernama Kay.

Kay yang sedari awal sudah tertarik dengan Marc, mencoba mengganggunya ketika berlatih sehingga terpaksa mereka dipanggil ketua pelatihan karena bertengkar. Bukannya peristiwa tersebut membuat mereka menjadi saling bermusuhan, tapi malah hubungan keduanya menjadi lebih akrab. Marc saat itu belum merasakan keanehan pada diri Kay, padahal Kay sudah sedikit menggodanya, Marc juga terkadang memergoki Kay sedang menatapnya.

Ketika mereka jogging bersama di hutan, Kay tiba-tiba mencium bibir Marc. Sontak Marc langsung mengelak karena belum pernah disentuh laki-laki. Tapi Kay ini agresif banget, dan memang Marc juga lemah orangnya ya menyerah saja ketika dicumbu oleh Kay (tapi belum sampai kesitu sih) 😛 Berhari-hari setelah peristiwa itu, Marc menghindari Kay tapi itu malah membuatnya semakin penasaran sehingga ingin tahu apakah benar ia juga menikmati hubungan dengan laki-laki.

Mereka janjian lagi di hutan dan setelah momen pembuktian tersebut #halah, Marc menyadari bahwa ia ternyata memiliki hasrat dengan tubuh Kay. Kini, giliran Marc berada diantara dua pilihan; obligasi dengan orang-orang yang disayanginya, ataukah mengikuti nafsunya dengan Kay (yang lama-kelamaan Marc pun memiliki hubungan emosional dengan Kay).

Saya sungguh kecewa dengan aktingnya Hanno Koffler sebagai Marc, kaku, dan sangat beda dengan perannya yang ekspresif di film Sommersturm. Saya malah suka aktingnya Max Riemelt sebagai Kay, lebih luwes tapi tegas dan meyakinkan. Well, saya juga kecewa dengan overall ceritanya. Konflik dengan keluarganya karena masalah terungkapnya Marc sebagai penyuka sesama jenis belum selesai dan tidak jelas, apalagi dengan Bettina. Saya pikir aduh salah apa sih mereka, Bettina adalah wanita yang penyayang, keluarga dan temannya juga sangat supportif, kenapa Marc bisa dengan mudahnya jatuh cinta dengan Kay. Sebenarnya saya bingung, sebelum bertemu Kay, Marc ini sedari awal tidak kelihatan bahwa dirinya adalah biseksual. Di awal cerita terlihat Marc begitu memperlakukan Bettina dengan kasih sayang dan cinta mengingat ia sedang hamil, tidak ada yang salah dengan adegan tersebut. Sepanjang cerita hanya memperlihatkan Marc yang bingung dengan pilihannya. Proses terikatnya hubungan emosional antara Marc dengan Kay kurang dieksplor secara mendalam sehingga penonton butuh kepastian apa sih yang dilihat dari dalam diri Kay selain bisa “membangunkan” sebagian jiwa Marc yang tertidur? Ini salah satu kekurangan cerita Freier Fall. Walaupun di ending keputusan Marc menjadi jelas, namun masih belum bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala saya sehingga membuat saya berkomentar “hanya itu saja?”.

Namun, ada satu message yang bisa diambil dari film Freier Fall yang menurut saya begitu penting:

Life is about a choice, without a choice you will be standing in a middle of no where, without a single step to go, and make yourself into free fall. Although life demands sacrifice, but life also offers the happiness in your life as a result of your choice.”

1876511727363519140613

[Resensi Film] Restless: Kisah Pemuda “Pengkabung” dengan Gadis yang Menanti Kematiannya

08

Movie Title : Restless

Director : Gus Van Sant

Duration : 91 minutes

Genre : Drama, Romance

Release Date : April 6th, 2011

My Personal Rating : 4.00 / 5.00

Two actors who are not hot by popular standards, but damn sexy in an indie way” – Indie-lectual.blogspot.com.

Saya setuju penampilan kedua pemain utamanya kurang begitu menarik untuk ditonton oleh kalangan mainstream atau cakupan audience yang lebih luas, tapi mereka terlihat begitu menarik dalam film sederhana seperti ini.

Enoch, adalah seorang pemuda yang aktivitasnya sering mengunjungi upacara orang yang sudah meninggal, seolah-olah dirinya sedang berkabung. Enoch juga seorang penyendiri, teman satu-satunya hanyalah seorang hantu tentara Jepang yang tewas pada saat Perang Dunia II bernama Hiroshi. Seringkali mereka bermain games bersama, atau sekedar jalan-jalan sambil membagi pemikiran mereka masing-masing.

02

06

Kemudian, disaat yang tak terduga bertemulah Enoch dengan Annabel di salah satu upacara kematian seorang anak penderita kanker. Awalnya Enoch tidak menerima kehadiran Annabel yang ramah, namun Annabel telah menolong Enoch disaat dia hampir ditangkap oleh pegawai gereja karena mencurigai aktivitasnya yang sering berkabung. Lain halnya dengan Enoch yang pendiam, Annabel merupakan pribadi yang ceria, terbuka, dan menerima takdirnya dengan lapang dada terutama soal kematiannya, karena dia berpikir keberadaan keluarga yang menyayanginya telah membuatnya tegar. Dan setelah mengenal karakter Annabel, Enoch pun mulai membuka dirinya pada Annabel.

Pertemuan pertama yang menjadi sebuah pertemanan, hingga Annabel hampir menemui ajal karena menderita kanker otak adalah inti cerita perubahan pandangan Enoch akan kematian, dan juga merasakan perasaan mencintai untuk pertama kalinya. Enoch mulai berteman dengan Annabel setelah mengetahui usia hidup Annabel hanya berumur 3 bulan, yang awalnya disepelekan tapi Enoch malah jatuh cinta dengan Annabel, perasaan cinta yang sudah terlanjur melekat di hati Enoch membuatnya tidak sanggup menerima kematian Annabel, sampai akhirnya Enoch pun merelakan kepergian Annabel yang pasti akan terjadi.

001

Sejak peristiwa naas yang dialami kedua orang tuanya, Enoch pun menjadi pribadi yang tidak sanggup menerima kematian dan terus menerus berada dalam bayang-bayang “berkabung” dengan menghadiri upacara kematian orang-orang, toh setiap manusia pasti akan mati dan meninggalkan bekas menyakitkan bagi yang ditinggalkan. Namun pengalaman singkat kebersamaan Enoch dengan Annabel merubah pandangan Enoch bahwa “kematian” tidak bisa selamanya dikenang, namun “pengalaman kebersamaan” dengan orang yang dicintai lah yang patut dikenang. Annabel telah memberikan cinta pada Enoch yang sudah sekian lama tidak dirasakannya, yang membuat hidupnya berarti. Kematian yang sebelumnya dipandang suram, berubah menjadi begitu indah ketika mengingat pertemuan pertama dengan orang tersebut sampai menjelang ajalnya, seseorang yang telah membuatnya bahagia.. dalam tiga bulan lamanya.

05

Saya suka dialog ketika Enoch menyebut anak penderita kanker dengan sebutan “cancer kids”, namun Annabel mengoreksi dengan “kids with cancer”. Dua kalimat yang sama, namun mengandung makna manusiawi yang berbeda.

1876511727363519140613

[Resensi Film] When Two Oscar Winning Actors Met in “Behind The Candelabra”

Behind-the-Candelabra-2013

Liberace: I want to be everything to you, Scott. I want to be father, brother, lover, best friend.

Berkat keisengan saya membuka situs Indieway (sebuah situs teaser review tentang film indie) tiba-tiba saya menemukan harta karun #halah maksudnya film produksi HBO berjudul “Behind The Candelabra”. Diadaptasi dari sebuah buku karya Scott Thorson “My Life With Liberace” yang diterbitkan tidak lama setelah meninggalnya Liberace, buku ini pun juga diangkat berdasarkan pengalaman pribadi Scott ketika tinggal satu atap dengan Liberace.

Michael Douglas as Liberace in a film still from Behind the CandelabraSebenarnya apa sih yang membuat saya ingin nonton? Haduh! Jelas-jelas ada Matt Damon loh, masalahnya disini dia berakting sangat menantang dengan Michael Douglas. Yes, both of them are very well known A-List actors who collaborate in this movie. Menjadi salah satu film yang paling ditunggu di Film Festival Cannes 2013, akting keduanya mendapat kritikan yang sangat baik dari pengamat film (saya juga berpendapat sama!). Menceritakan tentang hubungan tersembunyi selama tahun 1977 – 1987 antara pianis terkenal pada masa itu bernama Liberace dengan seorang remaja yang beranjak dewasa bernama Scott Thorson. Yang membuatnya menarik adalah Liberace berusia 57 tahun sedangkan Scott masih berusia 17 tahun, benar-benar perbedaan usia yang sangat jauh yaitu 40 tahun.

slide13-ytv-WATN-BehindTheCandelabra-ScottThorson-jpg_012104Liberace digambarkan sebagai seorang pria tua flamboyan yang doyan daun muda (terbayang tidak sih kalau Douglas berakting lemah gemulai?), sedangkan Scott digambarkan sebagai seorang pemuda polos (Damon berhasil membuat raut mukanya beneran polos bengong seperti anak kucing yang kehilangan induk #jiah).

Intinya akting mereka berdua oke banget! Too satisfied for me, terutama Michael Douglas.

Glamor, glamor, dan glamor menghiasi keseluruhan cerita, membuat film ini terasa begitu spektakuler. Sedari awal Liberace mengincar Scott karena keluguan dan fisik yang menarik mengingat usianya yang masih kecil (jika dibandingkan Liberace). Pertanyaannya apakah Scott berhasil mengambil hati Liberace sehingga mampu mempertahankan posisi Scott sebagai kekasihnya? Setelah sekian lama berhubungan, akankah nantinya posisi Scott tergantikan oleh orang yang lebih muda dan lebih atraktif darinya? Yang penting adalah apakah Liberace mencintai Scott, karena selama hidupnya Liberace sering gonta-ganti pasangan a.k.a peliharaan #duh !

Spoiler! Saya suka sekali dialog ini karena lucu 😀 :

Liberace: I have an eye for new and refreshing talent.

Scott Thorson: You have an eye for new and refreshing dick. (perhatikan ekspresinya Damon ketika mengucapkan itu) 😛

Behind-the-candelabra

Ceritanya tidak membosankan menurut saya, disamping gaya hidupnya yang menyimpang, film ini juga memperlihatkan bagaimana sepak terjang Liberace sebagai pianis dan entertainer yang begitu dikagumi pada masa itu. This is a very good biography movie to be watched.

Trivia:

1. Sebelum produksi, film ini sempat ditolak oleh beberapa produser besar karena “terlalu gay”. Akhirnya HBO berminat dan mengambil resiko untuk mendanai filmnya. Hasilnya ketika ditayangkan, HBO memperoleh rating penonton paling tinggi sejak tahun 2004).

2. Michael Douglas berumur 68 tahun ketika memerankan Liberace yang berumur 57 tahun, Sedangkan Matt Damon berusia 42 tahun ketika memerankan Scott yang berumur 17 tahun (Damon terpaksa memakai wig agar terlihat lebih muda) 😀

3. Tambahan informasi: di Emmy Awards 2013, Behind The Candelabra menang untuk kategori OUTSTANDING MOVIE OR MINISERIES dan Michael Douglas untuk kategori OUTSTANDING IN LEAD ACTOR IN A MINI SERIES OR MOVIE. Hebatnya Douglas disini bersaing dengan Damon di dalam kategori yang sama!

1876511727363519140613