[Sekedar Sharing] Kena Random Checking di Imigrasi Australia

Gini ya, saya sudah ke beberapa negara.. bukan.. saya tidak bermaksud sombong makanya dibaca dulu tulisan saya (lah galak) tapi baru kali ini saya kena random checking tanpa mereka cek record saya di paspor, ini jadi bikin saya sebel sama Australia, terkesan sombong! Jadi gini ceritanya..

Kejadiannya adalah di Bandara Tullamarine, Melbourne, begitu saya turun dari pesawat kan antri di imigrasi dulu tuh (yang panjangnya melingker-lingker dan saya tidak sangka ternyata banyak banget orang Pakistan/India yang ke Australia), sedangkan antrian untuk paspor UK, US, Singapore, Jepang, kosong melompong! huh diskriminasi sama negara ketiga nih, pikir saya sebel. Ada keluarga Pakistan/India di-interogasi cukup lama mungkin karena mereka mau mengadu nasib kali ya, kemudian kejadian lagi diantrian belakangnya, saya sih santai-santai saja karena saya mau liburan kok kenapa harus takut, Australia doang! (pede karena sudah pernah punya visa New Zealand dan Schengen, lol).

Tibalah saat saya ada di counter petugas tatoan di lengan sm leher (baru pertama kali saya lihat petugas imigrasi tatoan)

Petugas: Hello, how are you! (sapa-nya dengan ramah, tapi mukanya plain gitu)

Saya: I’m great (jawab saya mencoba jadi turis baik-baik)

Petugas: (cuma bolak-balikin lembar paspor, cek komputer, terus cap di lembar kartu deklarasi yang saya tidak declare) “Ok, thank you!”

Phiuhh.. akhirnya saya masuk Australia, hore!

Eh, tapi tunggu dulu.. kok ada antrian lagi seh -___-” ternyata masih ada antrian lagi, antrian sebelah kiri adalah antrian penumpang yang declare jadi harus scan bagasi dulu sedangkan yang lurus adalah antrian penumpang yang tidak declare dan bisa langsung melenggang keluar. Ketika pagar antrian ‘tidak declare’ dibuka oleh petugas, saya ada di antrian paling depan dengan santai geret-geret koper berjalan ke arah dia dan menyerahkan kartu deklarasi, dia cek dan bilang “Ok!”, karena saya pikir sudah selesai saya jalan dong melewati dia

Petugas: “ehhhh, tunggu dulu!

(ini apaan lagi), saya pun berhenti

Petugas: “Saya belum bilang sudah selesai”

Mati deh, ini mau diapain gue, langsung inget acara Border Security di TV -_- by the way, petugas ini cuma pegang kartu deklarasi dan tidak cek paspor saya.. SAMA SEKALI!

Petugas: “kamu di Australia ngapain?”

Saya: sambil merhatiin petugasnya cowok tinggi terus tatoan, serem >_< “saya mau holiday”

Petugas: “holiday-nya ngapain aja di Melbourne?”

Saya: “Ikut tur lah”

Petugas: “Tur apa”

Saya: “Great Ocean Road”

Petugas: “itu tur yang seperti apa”

Saya: “Tur ke pantai”

Petugas: “ke pantai aja?”

Saya: “Saya ga tau lagi, kan saya belum ikut tur-nya”

Petugas: “itu aja?”

Saya: “Paling saya jalan-jalan di city dan ke museum”

Petugas: “museum apa yang kamu tahu di Melbourne”

Saya: “Melbourne Museum”

Petugas: “Selain Melbourne Museum, museum apa lagi”

Ini rese banget petugasnya lama-lama, sumpah..

Saya: “nanti saya cari tahu pas disini yang pasti saya mau ke Melbourne Museum

Petugas: “itu aja?”

Saya: “Jalan-jalan lah, kan bisa jajan, banyak restoran”

Petugas: “Di Indonesia tinggal dimana? Central Java?”

Saya: “Jakarta”

Petugas: “Ngapain di Jakarta?”

Pengen saya tonjok nih orang, sabar.. sabar..

Saya: “Saya kerja di salah satu Perusahaan Jepang cabang Indonesia, saya hanya seminggu di Australia untuk holiday, hari ke lima saya ke Perth, setelah dari sini saya kembali ke tanah air untuk kerja lagi”

Saking keselnya saya langsung ngomong panjang x lebar 

Petugas: ngangguk-ngangguk “Ok, jadi untuk tur ini sudah dibayar di Indonesia ya?”

Ngomongnya makin ngelantur nih orang

Saya: “yes” Jawab saya malas karena sudah capek

Petugas: “Ok, kamu boleh lewat.. silahkan”

Ketika saya lihat ke belakang, antriannya sudah panjaaaaaaaaaaang banget kayanya saya di-interogasi selama 10 menit

Setelah kejadian ini saya cerita ke sepupu saya yang tinggal Perth, dia bilang banyak faktor kenapa orang seperti saya bisa d-interogasi:

  1. Saya jalan sendirian, biasanya orang yang jalan sendiri niatnya cari kerja dengan menyalahgunakan visa turis
  2. Kenapa dia tanya tempat tinggal saya? Kalau saya tinggal di Jakarta atleast dia tahu saya adalah orang kota yang bekerja di kota dan tidak ada niat mengadu nasib ke negara orang. Atau jika saya tinggal di daerah peternakan atau perkebunan karena yang ditakutkan adalah membawa virus binatang/tanaman sehingga harus dilakukan tindakan bio-security
  3. Dan terakhir alasan yang konyol, bisa jadi dia cuma usil sama saya karena mengajukan pertanyaan nonsense!!

Apapun alasannya, kesimpulannya saya sih kecewa sangat ketika berkunjung ke Australia, maksudnya saya ini sudah 6 tahun travelling dan tidak ada masalah sama penyalahgunaan visa, petugas ini dengan sok tahunya tanpa lihat paspor saya malah mengajukan pertanyaan yang saya merasa ‘direndahkan sebagai turis’ seolah-olah saya ini belum pernah travelling dan berasal dari negara miskin yang niat jadi imigran gelap. Intinya gara-gara petugas ini, saya jadi ilfeel sama Australia. Mereka sibuk mempromosikan negaranya di Indonesia, tapi saya sebagai turis malah di-interogasi disana seolah-olah saya bikin sempit negara mereka saja!

Advertisements

[Sekedar Sharing] Pengalaman Mengurus Visa Australia

Visa Australia adalah visa yang paling baik memperlakukan saya dibandingkan visa lainnya karena memberikan 1 tahun dengan multiple entry! (atau memang standardnya begitu namun saya yang norak, hahahahaha). Dari pengalaman saya, baik Visa Jepang, Schengen, dan New Zealand hanya memberikan 3 bulan single entry pula! Awalnya saya sudah skeptis Australia sangat susah ketika mengajukan visa (kalau yang saya baca di berita karena banyaknya turis-turis overstay atau imigran gelap) jadi negara ini memperketat kunjungan turis, kemudian saya pernah ada pengalaman waktu transit di Australia sampai di body-scanning segala gara-gara urusan jepit rambut.

Seperti biasa saya sudah beli tiketnya duluan (karena promo) dengan resiko tiket hangus padahal saya tidak tahu visa-nya bakal granted/tidak (saya selalu seperti ini selama mengajukan visa 😛 ). Dan… mepet pula!! 20 hari menjelang hari-H, saya baru submit dokumen ke VFS karena saya pikir New Zealand yang masih satu payung dengan Australia hanya 14 hari, bisa lah Australia segitu juga.

Setelah submit, saya dibilang sama beberapa teman saya yang cerita visa temannya rejected karena ada duit kaget di tabungan, atau visa Australia tidak beda jauh dengan visa Perancis yang baru di-granted pas hari H! Apalagi staff VFS bilang proses 15-30 hari kerja. Makin merana deh saya sampai saya bersumpah akan mem-blacklist negara ini kalau sampai tidak memberikan jawaban di hari H #ngambeg, ehh ternyata.. hanya 8 hari kalender saja!

Apa sih tips-nya? Berdasarkan pengalaman saya dan apa yang sudah saya infokan ke postingan sebelumnya tentang Visa Schengen, yang terpenting dokumen harus jelas dan lengkap! Berikut poin-poin mengenai supporting dokumen;

  1. Sebagai warga negara yang baik, saya punya tanggung jawab bayar pajak dengan menunjukkan nomer NPWP, selain itu adalah KTP, Kartu Keluarga, kemudian Akta Lahir
  2. Sebagai karyawan yang baik, saya punya surat pernyataan HRD yang menyatakan bahwa saya hanya bertujuan holiday dan tidak ada niat mencari pekerjaan disana, disebutkan juga tanggal saya kembali ke tanah air untuk meneruskan tanggung jawab saya di perusahaan tempat saya bekerja.
  3. Sebagai turis yang baik, saya menunjukkan bukti tiket pesawat, bookingan akomodasi menginap, serta itinerary dan asuransi berikut summary budgetnya sehingga pihak kedutaan punya gambaran saya akan menghabiskan berapa selama disana.
  4. Bukti rekening koran 3 bulan. Waini! yang jadi momok orang yang mau apply visa. Memang benar, rekening tabungan tidak selalu menentukan granted/tidaknya. Sodara saya yang juga bareng ke Australia (tapi apply-nya terpisah) disuruh deposit 25-150 juta sama agentnya padahal disana hanya seminggu. Sedangkan saya apply sendiri hanya deposit 15 juta sesuai dengan itinerary. Claudia Kaunang, seorang travel writer dan traveller memberikan tips ampuh menentukan deposit rekening koran dan tipsnya ini berhasil di visa-visa saya sebelumnya. Yaitu:  Total Budget Pesawat, Akomodasi, Jajan, Tour (jika ada) = Deposit Rekening Koran.

Ini adalah itinerary saya dimana jumlahnya (Rp 14,022,309), saya samakan dengan deposit di rekening tabungan (Rp 15,000,000).

Kira-kira seperti ini Itinerary yang saya buat, yang penting jelas budgetnya.

Oia, sebenarnya saya punya saudara yang kerja di Melbourne dan satu lagi di Perth, namun saya tidak menyebutkan bahwa saya punya saudara disana, karena pasti akan REMPONG. Saya tidak mau merepotkan mereka dengan menyiapkan surat undangan lah, rekening koran lah, surat pernyataan lah, dll, yang akan makan waktu lama. Jadi pastikan itinerary-nya menunjukkan bahwa saya memang pergi sendirian secara mandiri tanpa ketergantungan dengan orang disana.

Demikian cerita saya tentang Visa Australia, tidak perlu mendetail lha ya karena semuanya sudah tertulis dengan jelas di website VFS

[Sekedar Sharing] Pertama Kali Menggunakan Airbnb

Pemandangan kompleks perumahan di Utrecht dari dalam rumah

Hola, saya kembali~! Setelah 2 minggu melalang buana ke Eropa Barat, saatnya saya berbagi cerita di blog! Berhubung banyak banget yang mau di-ceritakan, postingan akan di-publish terpisah aja 😀

Bagi yang sering traveling pasti tidak aneh mendengar kata Airbnb, fasilitas akomodasi ini lagi populer dimana-mana bahkan host saya di Belanda juga rencana pakai Airbnb ketika akan berkunjung ke Los Angeles.

Saya memutuskan pakai Airbnb karena semakin umur (sadar wes tue) sudah tidak bisa kompromi menginap di hostel yang kebanyakan tamu-nya abege labil dan berisiknya itu loh.. gak nahan! Saya ingin tidur dengan tenang, makan dengan tenang, santai dengan tenang, tanpa harus basa basi dengan penghuni sekamar maupun penghuni hostel di pantry. Walaupun saya ikut open trip waktu ke Eropa, namun di minggu pertama saya duluan tiba di Belanda sendirian. Saya memutuskan menginap di Utrecht karena saya tidak terlalu suka kota metropolitan yang crowded dan sesak seperti Amsterdam atau Rotterdam (cukup sudah saya merasakannya di Jakarta setiap hari T_T). Berhubung baru pertama kali menggunakan Airbnb, saya memilih host yang punya reputasi baik di testimonial, kalau dapat host dengan title superhost malah lebih bagus lagi.

Berdasarkan postingannya Mba Ade tentang tips memesan via Airbnb, saya tidak langsung klik ‘instant booking’ melainkan kirim private message ke host atleast menghormati sang host 😀 Dari 5 host yang saya message, 2 declined dan 1 PHP (hiks), namun 2 host menerima saya! Setelah mempertimbangan 2 host akhirnya saya pilih Martijn sang superhost sebagai host saya disana (beruntung banget!).

Pembicaraan antara saya dan Martijn (maaf ya Mba Ade kata-katanya saya contek sedikit, hehehe)

Satu hari menjelang keberangkatan ke Belanda, saya di private message oleh Martijn yang menanyakan kapan saya datang dan jika dia tidak ada di rumah, kunci ada di loker samping rumahnya yang bisa dibuka dengan 4 digit password. Baiklaaahh, tinggal bagaimana perjalanan saya dari Amsterdam ke Utrecht saja nih berhubung saya perdana traveling sendirian 😛

Untuk mencari rumahnya Martijn di Utrecht, googlemaps amat sangat membantu saya. Selain berfungsi sebagai live map, googlemaps juga memberikan informasi detail tentang kereta dan bis nomer berapa yang harus saya naiki berikut platform serta schedule waktunya sehingga tidak perlu buang-buang waktu nanya kesana kemari. Tidak rugi deh saya pasang paket internet provider di Indonesia mahal-mahal biar bisa akses googlemaps XD tapi lain kali pakai mifi/wifi portable saja ya lumayan bisa saving 50% dari harga paket internet yang saya pakai 😦

Pengalaman di Rumah Sang Superhost.

Pertama kali memasuki rumahnya Martijn di Utrecht, yang saya pikirkan adalah…. ini saya mesti lepas sepatu gak sih!? Karena takut rumahnya kotor, saya nyeker saja ke dalam sambil nentengin sepatu. Kesan pertama rumahnya Martijn itu, yaa.. namanya juga rumah bujang cowok, tas dan sepatu dimana-mana, laptop gletak aja di meja, tapi dapurnya dong.. bersih kinclong, toiletnya juga! Saat itu tidak ada orang, jadi mumpung lagi sendirian saya foto-foto deh rumahnya 😛

Ngarep punya dapur begini di rumah

Beberapa jam kemudian, Martijn pulang ke rumah dan kami pun berkenalan. Saya kaget dengan cowok Belanda, tinggi buangeet! Saya saja bicara dengan dia harus dongak, kepala saya hanya dibawah ketiaknya dia kali! Sampai-sampai saya bilang “kamu tuh tinggi banget!” dan dia cuma ketawa (tingginya 186cm loh!) :)) Oia, dia tidak sendirian pulang, melainkan bawa temannya dengan tinggi yang sama (hueee..) bernama Aaron yang saya anggap mukanya kaya boyband (atau persis kaya Prince William waktu umur 20-an), lucuuu! Tapi sialnya saya kenalan dengan Aaron dalam kondisi rambut saya berantakan, muka saya kucel, karena perjalanan panjang dari Indonesia kemari, arrgh! XD So far, Martijn orangnya ramah dan asik, yaah.. tipikal cowok gaul gimana sih, atleast orangnya menyenangkan. Dia tidak bisa lama-lama disitu karena ada shift malam. Selama 4 malam berikutnya kami tidak pernah ketemu karena saat dia kerja saya pulang dan saat dia pulang saya malah pergi.

Walaupun fasilitas tersedia di rumah seperti mesin cuci (yang diletakkan di kamar saya di loteng), dapur, dan tv di living room, namun tidak saya pakai. Boro-boro mau dipakai, saya saja sudah pergi pagi sekali dan pulang malam sekali jadi mau ngapa-ngapain sudah capek!

Living room

Orang Belanda seneng banget pakai sepeda, Martijn sempat menawarkan sepeda punya ceweknya yang katanya cuma setinggi 160cm (setinggi saya) tapi ketika saya duduk, kaki saya gantung dan tidak ada rem pula :(( daripada nabrak anak orang akhirnya tidak jadi deh, padahal saya mau ke grocery beli bekal buat masak di dapur.

Tempat tidurnya nyaman! Empuk-empuk cozyy, dan kamar mandinya juga bersih, ada air panasnya pula (memang harus ada!).

Satu hari menjelang check out, saya private message ke Martijn memberitahukan bahwa besok pagi-pagi saya harus pergi karena janjian sama rombongan open trip di Schiphol jam 9, Martijn menjawab dan berharap semoga saja kami bisa bertemu.

Jam 11 malam ketika saya selesai mandi mesin cuci di kamar saya ternyata sedang bekerja (saat itu saya pikir mungkin Martijn meninggalkan pakaian kotornya disini) dan setelah itu berbunyi ‘beep-beep’ terus menerus padahal putaran di dalamnya sudah berhenti, bagaimana saya mau tidur mana besok harus berangkat pagi-pagi. Saya pelajari bahasa tombol di mesin cuci (pakai Bahasa Belanda pula) duuh rasanya mau nangis, tanpa pikir panjang saya klik saja ‘pause/start’ barangkali si beep-beep jadi diam. Eehh, malah mencuci ulang dari awal, arrghh XD sudahlah, saya tinggalkan saja (pura-pura tidak tahu). Saat saya sedang bebenah diri di karpet tiba-tiba Aaron masuk ke kamar saya dong, ternyata baru ketahuan kalau Aaron pinjam mesin cucinya Martijn karena punya dia rusak, hadeuuhh.. ganteng-ganteng merepotkan orang saja -___-” dia pikir di kamar sudah tidak ada orang jadi dia mencuci disitu, tiba-tiba dia bingung kenapa mesinnya belum selesai mencuci padahal sudah disetting 50 menit, ketika saya beritahu apa yang saya lakukan terhadap mesin itu, dia ketawa dan bilang “yang kamu pencet itu artinya mencuci ulang dan saya harus berterima kasih sama kamu karena membuat pakaian saya dua kali lebih bersih”, saya jawab saja ya lagian cuci di kamar saya tidak bilang-bilang! Dia sih pasrah saja dan malah duduk di sofa samping saya O_O lah ini orang mau ngapain, pikir saya, ternyata dia mengajak ngobrol sambil menunggu mesinnya selesai bekerja. Baiklaah, kapan lagi ngobrol sama orang ganteng (padahal saya sudah ngantuk luar biasa). Aaron menyenangkan orangnya, dia cerita tentang ceweknya yang blasteran Indonesia-Belanda, sampai meng-screencapture jadwal kereta dan bis untuk saya besok (dia menunjukkan jadwal dari hpnya dalam posisi muka dekat sekali dengan saya, 1 inchi lagi pipi kami nempel kali, saya jadi tidak konsen mendengarkan karena grogi XD ). Dua jam kemudian kami masih ngobrol dan tidak lama Martijn masuk kamar dan bertanya ngapain kami berdua disini, akhirnya kami cerita tentang insiden mesin cuci dan Martijn ngakak aja gitu, duuh malu deh saya -____-” sambil bercanda dia bilang akan nulis testimonial tentang saya yang merusak propertinya, tapi gak lah.. testinya dia aman kok 😛 Anyway, Aaron juga punya 6 rumah yang disewakan untuk Airbnb lho! Jika penasaran dengan tampang boyband-nya Aaron bisa cek di website Airbnb di Utrecht dengan nama Finn.

Honestly they are very good host! Saya meng-appreciate hospitality-nya mereka, Martijn walaupun sibuk banget tapi komunikasi dengan dia justru lancar dan quick response, tidak heran sih dia dikasih gelar superhost.

Kesimpulan saya mengenai Airbnb pertama;

    1. Kalau ada sesuatu yang harus di-infokan ke host seperti preferensi makan dan minuman halal, bilang saja! Kalau tidak di-infokan, seandainya host-nya berniat mau kasih complimentary makanan atau minuman jadi tidak salah.
    2. Tanyakan ke host, untuk sepatu/sendal apakah boleh dipakai ke dalam (misal dari luar rumah ke kamar, atau dari kamar ke luar rumah). Di rumah Martijn, dia ke kamar saya dalam kondisi pakai sepatu dari luar rumah dan lantai kamar saya jadi berpasir! XD jadi besok-besoknya saya pakai sepatu dari kamar ke dapur untuk isi air ke botol kemudian keluar rumah tanpa harus nyeker di rumahnya.
    3. Tanyakan ke host, apa saja yang boleh diminta di dapur. Dapurnya Martijn banyak sekali makanan di kulkas, kopi, susu, cornflakes, wine ada diatas meja, saya agak ragu minta kopinya dia karena belum bertanya XD
    4. Dengan menggunakan Airbnb, saya merasakan langsung kehidupan orang lokal setempat, kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lokal di rumah jauh lebih banyak karena ada saja cerita ketika berinteraksi dengan mereka seperti pengalaman saya dengan Aaron, dibandingkan dengan hostel/hotel yang ujung-ujungnya ketemu dengan turis juga sehingga sharing mengenai lokasi dan budaya setempat tidak maksimal.

Sepertinya itu saja pengalaman saya tentang Airbnb yang membuat saya ingin menggunakan jasa ini lagi untuk trip selanjutnya. 😉

[Sekedar Sharing] Pengalaman Mengurus Visa Schengen

Halaaah, topik ini mainstream banget sih, sebenarnya sudah banyak blog yang sharing pengalaman mengurus visa schengen dan tentunya kalian sudah pada bosan 😛 Tapi berhubung blog saya belum pernah bahas tentang Eropa, saya putuskan untuk berbagi pengalaman saya sendiri dimulai dari urus visanya.

Berawal dari gagal pergi bareng travel mate (detailnya ada disini), akhirnya saya banting setir #halah untuk pergi sendiri, tapi saya jadi mikir “bagaimana kalau sendirian terus kesasar.. terus mendekam di pos satpam kaya anak hilang.. kedutaan telp ortu di Indonesia.. saya akhirnya di-deportasi..” bukannya mandiri jadi malah ngerepotin ortu >_< dan lain-lain segala keparnoan berlebihan yang menghantui saya 😛 akhirnya saya pun memutuskan pergi sendiri #lah . Maksutnya, saya ikut open tripnya Claudia Kaunang atau biasa dipanggil CK (instagram: @claudiakaunang). Saya sudah follow beliau dari jaman dia talkshow masih berdampingan dengan Trinity dan Rini Raharjanti tahun 2011 (ada postingannya lho). Kadang saya kepikiran kapan2 mau ikutan tripnya CK ah, tapi keinginan untuk jalan sendiri masih lebih kuat jadi selama ini saya pergi secara mandiri. Sampai akhirnya trip ke Eropa saya pakai jasanya CK 😀 (karena harga lebih terjangkau dari travel agent tentunya). Pengalaman trip bareng CK dimulai dari persiapan dll akan saya bahas di postingan tersendiri yaa.

Okay! Back to the topic. Setelah deal dengan team CK, saya mulai mempersiapkan segala dokumen yang akan dibawa ke Kedutaan Belanda (FYI, per 1 Juli 2016 Kedutaan Belanda menunjuk VFS Global sebagai pihak agent untuk mengurus Visa, kecewa? Trust me, lebih enak pakai jasa VFS Global karena berdasarkan pengalaman urus Visa New Zealand, staff-nya ramah dan bisa diajak ber-haha hihi dibandingkan kedutaan yang staff-nya itu.. serem). Dokumen yang saya submit antara lain:

  • Formulir yang harus diisi. Karena Belgium masuk ke dalam destinasi, saya sampai menuliskan Belgium sekaligus Brussels ke dalam daftar destinasi dan saya baru sadar ketika menunggu interview, mau diperbaiki tapi yang saya coret malah Belgium >_< keliatan banget tidak siap karena saya pikir sudah terima beres kalau pakai tur tapi saya lupa kalau saya apply visa sendiri – tidak pakai jasa travel agent. Mistake #1

  • Fotokopi Paspor + Paspor Asli. Waktu itu saya juga serahkan paspor lama tapi mereka tidak ambil.

  • Pas Foto 3,5 x 4,5 dengan background putih.

  • Bukti reservasi pesawat. Saya nekat beli tiket Qatar Airways KL – AMS dan Air Asia CKG – KL, kalau visa ditolak ya resiko hangus. 😛

  • Bukti reservasi hotel. Karena saya pergi dengan tur, saya serahkan bukti reservasi atas nama CK dan kalau bisa serahkan list daftar peserta tur ya biar kedutaan percaya bahwa kita memang pergi bareng dengan tur. Kesalahan saya, saya tidak serahkan list tersebut. Mistake #2 

  • Asuransi Perjalanan. Saya biasa pakai Zurich yang sudah ketahuan mendunia, bukti pembelian asuransi dijadikan sebagai surat ijin kita untuk apply visa, kalau tidak ada ini bakal diusir sama satpam keluar. 😦

  • Rekening Tabungan 3 bulan terakhir. Saya pakai rekening bank keluar masuk gaji saya karena memang paling aktif (jika rekeningnya masih dalam status payroll sebaiknya ganti menjadi rekening tabungan). Minimal saldo kurang lebih Rp 20,000,000 untuk trip selama 2 minggu.

  • Surat pernyataan dari HRD kantor kalau mereka mengetahui saya pergi dari tanggal segini sampai tanggal segitu, menjamin saya akan pulang ke Indonesia sesuai waktunya karena masih ada keterikatan hubungan kerja, dan tidak berniat mencari pekerjaan disana. Komplit kan, saya request ke HRD dengan kata2 tersebut dan point 8 ini menurut saya yang paling sakti agar visa approve karena ada jaminan dari lembaga/perusahaan yang terdaftar usahanya secara resmi di Indonesia dan jika karyawannya bermasalah, pihak kedutaan bisa minta pertanggung jawaban ke si pemberi jaminan dan si pemberi jaminan bisa berurusan dengan si karyawan sehingga si karyawan akan berpikir panjang jika suatu saat membuat masalah. Karena surat ini sepertinya Mistake #1 dan Mistake #2 diabaikan oleh kedutaan. XD

Akhirnya saat interview..

Ruangannya tidak terlalu besar, terdiri dari bangku yang menghadap loket seperti teller bank tapi mereka pakai kaca. Jujur saya stress menghadapi interview ini karena beberapa orang sebelum saya dimarahi staff kedutaan karena dokumen tidak lengkap, salah satunya:

Staff: “beberapa dokumen tidak lengkap, ibu tolong dilengkapkan dulu

Ibu2: “tapi kan…. *bla bla bla” (sambil begging)

Staff: “gak! gak! gak! saya tidak mau terima! ibu silahkan keluar dan kembali kesini dengan dokumen lengkap” dengan lunglai ibu tersebut keluar dan curhat dengan pihak travel agent

Hueee, gimana saya tidak stress, tapi ibu2 sebelah saya menenangkan dan menyemangkatkan saya bahwa saya pasti lolos. Hidup si ibu!

Tibalah giliran saya dipanggil #glek

Staff: sambil lihat2 paspor lama saya “ini kok paspornya expired 2015?

Saya: “itu paspor lama saya, yang baru ada disitu” (tidak dipegang sama dia)

Staff: “iyaaa, ini expired 2015

Saya: “ada disitu paspor barunyaa ToT “

Staff: “ooohh,ini, yang lama sudah tidak terpakai” sambil dilempar paspornya ke saya, Iiiiihhh…

Staff: “mau pergi dengan tujuan apa?

Saya: “holiday

Staff: “kemana saja?

Saya: “Belanda, Perancis, Jerman, Belgia…” padahal baru saya hafalkan sampai ke kota2nya sebelum interview, saking gugupnya saya lupa menyebutkan Luxembourg -__-“

Staff: “paling lama stay dimana?”

Saya: Belanda“. Pede lah jawab Belanda, saya advance 4 hari di Belanda pasti sudah masuk hitungan paling lama disana XD

Dokumen saya hanya dibalik satu kali (tidak dibolak-balik, harusnya pertanda baik yaa..), setelah dokumen disteples oleh dia, saya langsung bayar di loket pembayaran sebesar Rp 910,000 (setara 60 Euro). Dulu, keputusan visa keluar hanya 4 hari kerja, entah karena lagi proses migrasi ke VFS Global sehingga dokumen2 saya dikirim ke Kuala Lumpur dan harus menunggu selama 2 minggu -__-“

Dua minggu kemudian… visa saya keluar!

Yaaah, walaupun hanya dikasih 30 hari yang penting saya sudah di-ijinkan masuk Uni Eropa.