[Sekedar Sharing] Kena Random Checking di Imigrasi Australia

Gini ya, saya sudah ke beberapa negara.. bukan.. saya tidak bermaksud sombong makanya dibaca dulu tulisan saya (lah galak) tapi baru kali ini saya kena random checking tanpa mereka cek record saya di paspor, ini jadi bikin saya sebel sama Australia, terkesan sombong! Jadi gini ceritanya..

Kejadiannya adalah di Bandara Tullamarine, Melbourne, begitu saya turun dari pesawat kan antri di imigrasi dulu tuh (yang panjangnya melingker-lingker dan saya tidak sangka ternyata banyak banget orang Pakistan/India yang ke Australia), sedangkan antrian untuk paspor UK, US, Singapore, Jepang, kosong melompong! huh diskriminasi sama negara ketiga nih, pikir saya sebel. Ada keluarga Pakistan/India di-interogasi cukup lama mungkin karena mereka mau mengadu nasib kali ya, kemudian kejadian lagi diantrian belakangnya, saya sih santai-santai saja karena saya mau liburan kok kenapa harus takut, Australia doang! (pede karena sudah pernah punya visa New Zealand dan Schengen, lol).

Tibalah saat saya ada di counter petugas tatoan di lengan sm leher (baru pertama kali saya lihat petugas imigrasi tatoan)

Petugas: Hello, how are you! (sapa-nya dengan ramah, tapi mukanya plain gitu)

Saya: I’m great (jawab saya mencoba jadi turis baik-baik)

Petugas: (cuma bolak-balikin lembar paspor, cek komputer, terus cap di lembar kartu deklarasi yang saya tidak declare) “Ok, thank you!”

Phiuhh.. akhirnya saya masuk Australia, hore!

Eh, tapi tunggu dulu.. kok ada antrian lagi seh -___-” ternyata masih ada antrian lagi, antrian sebelah kiri adalah antrian penumpang yang declare jadi harus scan bagasi dulu sedangkan yang lurus adalah antrian penumpang yang tidak declare dan bisa langsung melenggang keluar. Ketika pagar antrian ‘tidak declare’ dibuka oleh petugas, saya ada di antrian paling depan dengan santai geret-geret koper berjalan ke arah dia dan menyerahkan kartu deklarasi, dia cek dan bilang “Ok!”, karena saya pikir sudah selesai saya jalan dong melewati dia

Petugas: “ehhhh, tunggu dulu!

(ini apaan lagi), saya pun berhenti

Petugas: “Saya belum bilang sudah selesai”

Mati deh, ini mau diapain gue, langsung inget acara Border Security di TV -_- by the way, petugas ini cuma pegang kartu deklarasi dan tidak cek paspor saya.. SAMA SEKALI!

Petugas: “kamu di Australia ngapain?”

Saya: sambil merhatiin petugasnya cowok tinggi terus tatoan, serem >_< “saya mau holiday”

Petugas: “holiday-nya ngapain aja di Melbourne?”

Saya: “Ikut tur lah”

Petugas: “Tur apa”

Saya: “Great Ocean Road”

Petugas: “itu tur yang seperti apa”

Saya: “Tur ke pantai”

Petugas: “ke pantai aja?”

Saya: “Saya ga tau lagi, kan saya belum ikut tur-nya”

Petugas: “itu aja?”

Saya: “Paling saya jalan-jalan di city dan ke museum”

Petugas: “museum apa yang kamu tahu di Melbourne”

Saya: “Melbourne Museum”

Petugas: “Selain Melbourne Museum, museum apa lagi”

Ini rese banget petugasnya lama-lama, sumpah..

Saya: “nanti saya cari tahu pas disini yang pasti saya mau ke Melbourne Museum

Petugas: “itu aja?”

Saya: “Jalan-jalan lah, kan bisa jajan, banyak restoran”

Petugas: “Di Indonesia tinggal dimana? Central Java?”

Saya: “Jakarta”

Petugas: “Ngapain di Jakarta?”

Pengen saya tonjok nih orang, sabar.. sabar..

Saya: “Saya kerja di salah satu Perusahaan Jepang cabang Indonesia, saya hanya seminggu di Australia untuk holiday, hari ke lima saya ke Perth, setelah dari sini saya kembali ke tanah air untuk kerja lagi”

Saking keselnya saya langsung ngomong panjang x lebar 

Petugas: ngangguk-ngangguk “Ok, jadi untuk tur ini sudah dibayar di Indonesia ya?”

Ngomongnya makin ngelantur nih orang

Saya: “yes” Jawab saya malas karena sudah capek

Petugas: “Ok, kamu boleh lewat.. silahkan”

Ketika saya lihat ke belakang, antriannya sudah panjaaaaaaaaaaang banget kayanya saya di-interogasi selama 10 menit

Setelah kejadian ini saya cerita ke sepupu saya yang tinggal Perth, dia bilang banyak faktor kenapa orang seperti saya bisa d-interogasi:

  1. Saya jalan sendirian, biasanya orang yang jalan sendiri niatnya cari kerja dengan menyalahgunakan visa turis
  2. Kenapa dia tanya tempat tinggal saya? Kalau saya tinggal di Jakarta atleast dia tahu saya adalah orang kota yang bekerja di kota dan tidak ada niat mengadu nasib ke negara orang. Atau jika saya tinggal di daerah peternakan atau perkebunan karena yang ditakutkan adalah membawa virus binatang/tanaman sehingga harus dilakukan tindakan bio-security
  3. Dan terakhir alasan yang konyol, bisa jadi dia cuma usil sama saya karena mengajukan pertanyaan nonsense!!

Apapun alasannya, kesimpulannya saya sih kecewa sangat ketika berkunjung ke Australia, maksudnya saya ini sudah 6 tahun travelling dan tidak ada masalah sama penyalahgunaan visa, petugas ini dengan sok tahunya tanpa lihat paspor saya malah mengajukan pertanyaan yang saya merasa ‘direndahkan sebagai turis’ seolah-olah saya ini belum pernah travelling dan berasal dari negara miskin yang niat jadi imigran gelap. Intinya gara-gara petugas ini, saya jadi ilfeel sama Australia. Mereka sibuk mempromosikan negaranya di Indonesia, tapi saya sebagai turis malah di-interogasi disana seolah-olah saya bikin sempit negara mereka saja!

Advertisements

[Seputar Ngetrip] Eropa Barat Part I: Belanda

Saya jadi feeling guilty ketika menulis ini, karena saya pulang dari Eropa di bulan Agustus tapi baru kesampaian menulis trip Eropa beberapa bulan kemudian dimana adalah hari ini.

Pada saat saya menulis ini, saya sedang diopname karena diagnosa tipes, infeksi lever, ada demam berdarah dan infeksi kelenjar getah bening, penyakit keroyokan ya hahahaha. Setelah tiga malam di rumah sakit saya request dibawakan laptop sama nyokap karena bosan banget! Jadi saya pikir daripada guling-guling diatas tempat tidur ga jelas lebih baik ada kesempatan menulis ini saya kerjakan saja.

Seperti yang sudah saya sounding berulang kali di postingan sebelumnya bahwa trip ke Eropa kali ini saya sendirian, sendirian dalam artian di minggu pertama saya benar-benar sendirian dan di minggu kedua ikut tripnya Claudia Kaunang juga tanpa teman yang saya kenal jadi saya kenal teman baru saat ketemu saja.

Baiklah, seperti biasa saya tidak akan menjabarkan secara berurutan karena Eropa Barat ini kan sudah mainstream ya jadi pasti bakalan bosan bacanya, jadi saya ceritakan kesan saya ketika berada ada disana.

BELANDA

Bisa dibilang negara ini yang paling banyak saya explore kota-kotanya; dari Leiden, Delft, Utrecht, Rotterdam, dan Amsterdam (ga heran biaya transportasi membengkak jadi 1.6 juta selama 5 hari saja XD ). Tips pada saat menggunakan transportasi adalah sebelumnya pastikan mau kemana saja dan setelah itu baru cek fare-nya jadi bisa dimasukkan ke dalam budget. Saya sebel banget karena kartu kereta dan bis yang saya punya tidak bisa top up menggunakan uang kertas melainkan koin atau kartu kredit!! Jadi dengan sangat terpaksa saya pakai kartu kredit yang saya gesek jika saldo-nya sudah habis (dan pakai biaya admin pula, hiks..).

Okaaaay, lupakan soal biaya transportasi yang membengkak. Oia, saya paling naksir sama negara ini. Pertama, orang-orangnya ramah banget, saya dibantu ketika kebingungan top up kartu transportasi (yang pada akhirnya tidak ada solusi karena dia sendiri tidak mengerti, hahahaha), ada mas-mas kasir yang ramah ketika saya menanyakan toko yang jual tas murah karena tali tas saya putus :'((((( dan masih banyak orang-orang Belanda lainnya yang saya temui termasuk Aaron – temennya si host yang ganteng (bukan karena bule terus ganteng loh, ini beneran ganteng untuk ukuran bule, hahahaha), sadar tampang sih tapi untungnya baik hati dan ramah karena sudah menemani saya ngobrol semalaman sebelum saya berangkat ke Schipol besok paginya 😉

Kedua, kota-kota kecil seperti Delft dan Leiden itu homiee dan countryside banget! Nah, ini baru Belanda sejati. Banyak orang-orang bersantai dibawah pohon rindang sepanjang kanal, sepeda-sepeda parkir di jembatan, ada gereja, ada market beserta jajanan pasarnya, intinya saya suka Delft dan Leiden!

DELFT

Seperti kanal di Kota Tua Jakarta ya 😉

LEIDEN

Sudut kota

Cantik!

Sebelumnya transit di stasiun Den Haag, mirip ya sama Stasiun Kota

Amsterdam, kenapa saya kurang suka ya? Kalau disuruh tinggal saya sih pengennya di kota karena akses kemana-mana mudah, tapi kalau mau trip prefer ke countryside. Kota ini crowded banget! Jalanan kotor (mungkin karena ibu kota), dan banyak hippies, Jadi sudah bukan mencerminkan ciri khas negara tersebut, tapi tidak afdol ya kalau tidak ke Amsterdam. Namun kota besar keduanya yaitu Rotterdam justru lebih baik karena lebih bersih. Belum banyak yang saya temui disana paling hanya bangunan modern saja.

ROTTERDAM

Foodcourt (saya lupa namanya) yang lagi nge-hits disana 😉

Beda dengan Delft dan Leiden yang countryside

Rotterdam adalah kota pelabuhan, jadi sering ada kapal kargo berlalu-lalang

AMSTERDAM

Hayoo ini dimana?? 😉

Snack kesukaan~! stroopwafles ❤ apalagi kalau dimakan selagi hangat

Banyak turis di depan istana yang sudah jadi museum, bapak ini merusak pemandangan saja :’D

Bersambung untuk trip ke negara lainnya di Eropa Barat.. 😉

[Sekedar Bercerita] Traveling Sendirian itu…

I’m Feeling Sexy and Free~!!!

Ini sih saya mau curhat saja, hehehe, banyak yang berubah setelah saya melakukan perjalanan sendirian selama seminggu sebelum akhirnya bertemu rombongan di minggu kedua waktu ke Eropa kemarin.

Sebenarnya saya ada rencana mau coba traveling sendirian yah atleast di negara dekat dulu seperti Singapore atau Kuala Lumpur, tapi malah tempat paling jauh yang akhirnya jadi tempat ‘training’ saya :’D mengapa saya memutuskan pergi sendirian di Eropa? Pertama, murni kecelakaan karena gagal pergi dengan travel mate.

Padahal teman-teman yang biasa pergi sendiri sudah encourage saya supaya kaya mereka tapi saya belum niat karena saat itu saya dan travel mate rencana mau ke Eropa dan tidak adil kalau saya pergi sendirian.

Mungkin sudah jiwa-nya, saya cek harga maskapai di berbagai website sudah kaya minum obat (sakaw kalau tidak minum obat, hahaha), akhirnya nemu lah tiket murah di September, tapi ya itu travel mate saya malah php (memberi kabar juga enggak), tiketnya jadi naik, sebel banget saya, seandainya saya bisa ngapa-ngapain tanpa mikirin orang lain pasti saya sudah dapat tiketnya. Dan saat itu.. ting! Oia, pantesan teman-teman saya pada akhirnya pergi sendirian karena males mikirin orang lain saat mereka pengen banget pergi. Baiklah, saya jalani saja dulu, dan sepulangnya dari Eropa mindset saya berubah ternyata menyenangkan sesekali pergi sendirian, saya suka sih pergi bareng, tapi kalau pergi sendirian hayo aja 😉 Sebenarnya saya ada rencana ke Philippines sama teman-teman tapi ketika ditanya kapan mau pergi malah tidak dijawab, oke bai! Gini nih kalau pergi dengan orang. Saya putuskan tidak mau antusias lagi, capek, hahaha. Kalau mau pergi bareng hayok, ga mau ikutan? Monggo.

Saya heran dengan sebagian orang (tidak semua ya), padahal mau pergi tapi ketika ditanya ini itu malah php (kasih kabar juga enggak), atleast info lah kalau tidak mau ya bilang. Saya sampai akhirnya menganggap bahwa mereka ini tidak pernah mengalami seperti yang saya alami jadi tidak akan mengerti kalau cari tiket murah itu menyita waktu, cari-cari spot wisata, bikin itinerary, semua usaha butuh effort dan waktu, walaupun begitu saya suka melakukan ini tapi tidak ada rasa appreciate-kah sama orang-orang yang sukarela karena ingin perjalanannya menjadi menyenangkan?

Lebih baik saya appreciate ke diri sendiri saja, hehehe.

Apa sih kelebihan pergi sendirian? Pengalaman saya ke Eropa kemarin, pada saat beli tiket tidak perlu tanya sana sini pada bisanya kapan dan cuma sesuaikan jadwal saya sendiri saja termasuk saat spot wisata semau gue kemana. Saat di Eropa, mau berangkat sekarang atau nanti atau mager terserah saya, kesempatan ‘me time’ jauh lebih besar karena lebih konsentrasi mengunjungi spot dan mengambil foto tanpa ada obrolan yang meng-distract konsentrasi, kesempatan interaksi dengan orang asing lebih banyak karena jika terlalu asik dengan travel mate kadang orang asing segan untuk menyapa. Kekurangannya? Palingan tidak ada yang reminder untuk mencatat pengeluaran karena saya suka lupa dan akibatnya saya berkali-kali melakukan kesalahan yang sama dan berujung pada pengeluaran yang boros :’D

Tips dari saya kalau mau pergi dengan travel mate; pastikan destinasi yang ingin dituju benar-benar yang kalian inginkan, jika sampai akhirnya tinggal kalian saja yang tidak batal, tidak begitu sakit hati dan bisa pergi sendirian.