[Sekedar Sharing] Kena Random Checking di Imigrasi Australia

Gini ya, saya sudah ke beberapa negara.. bukan.. saya tidak bermaksud sombong makanya dibaca dulu tulisan saya (lah galak) tapi baru kali ini saya kena random checking tanpa mereka cek record saya di paspor, ini jadi bikin saya sebel sama Australia, terkesan sombong! Jadi gini ceritanya..

Kejadiannya adalah di Bandara Tullamarine, Melbourne, begitu saya turun dari pesawat kan antri di imigrasi dulu tuh (yang panjangnya melingker-lingker dan saya tidak sangka ternyata banyak banget orang Pakistan/India yang ke Australia), sedangkan antrian untuk paspor UK, US, Singapore, Jepang, kosong melompong! huh diskriminasi sama negara ketiga nih, pikir saya sebel. Ada keluarga Pakistan/India di-interogasi cukup lama mungkin karena mereka mau mengadu nasib kali ya, kemudian kejadian lagi diantrian belakangnya, saya sih santai-santai saja karena saya mau liburan kok kenapa harus takut, Australia doang! (pede karena sudah pernah punya visa New Zealand dan Schengen, lol).

Tibalah saat saya ada di counter petugas tatoan di lengan sm leher (baru pertama kali saya lihat petugas imigrasi tatoan)

Petugas: Hello, how are you! (sapa-nya dengan ramah, tapi mukanya plain gitu)

Saya: I’m great (jawab saya mencoba jadi turis baik-baik)

Petugas: (cuma bolak-balikin lembar paspor, cek komputer, terus cap di lembar kartu deklarasi yang saya tidak declare) “Ok, thank you!”

Phiuhh.. akhirnya saya masuk Australia, hore!

Eh, tapi tunggu dulu.. kok ada antrian lagi seh -___-” ternyata masih ada antrian lagi, antrian sebelah kiri adalah antrian penumpang yang declare jadi harus scan bagasi dulu sedangkan yang lurus adalah antrian penumpang yang tidak declare dan bisa langsung melenggang keluar. Ketika pagar antrian ‘tidak declare’ dibuka oleh petugas, saya ada di antrian paling depan dengan santai geret-geret koper berjalan ke arah dia dan menyerahkan kartu deklarasi, dia cek dan bilang “Ok!”, karena saya pikir sudah selesai saya jalan dong melewati dia

Petugas: “ehhhh, tunggu dulu!

(ini apaan lagi), saya pun berhenti

Petugas: “Saya belum bilang sudah selesai”

Mati deh, ini mau diapain gue, langsung inget acara Border Security di TV -_- by the way, petugas ini cuma pegang kartu deklarasi dan tidak cek paspor saya.. SAMA SEKALI!

Petugas: “kamu di Australia ngapain?”

Saya: sambil merhatiin petugasnya cowok tinggi terus tatoan, serem >_< “saya mau holiday”

Petugas: “holiday-nya ngapain aja di Melbourne?”

Saya: “Ikut tur lah”

Petugas: “Tur apa”

Saya: “Great Ocean Road”

Petugas: “itu tur yang seperti apa”

Saya: “Tur ke pantai”

Petugas: “ke pantai aja?”

Saya: “Saya ga tau lagi, kan saya belum ikut tur-nya”

Petugas: “itu aja?”

Saya: “Paling saya jalan-jalan di city dan ke museum”

Petugas: “museum apa yang kamu tahu di Melbourne”

Saya: “Melbourne Museum”

Petugas: “Selain Melbourne Museum, museum apa lagi”

Ini rese banget petugasnya lama-lama, sumpah..

Saya: “nanti saya cari tahu pas disini yang pasti saya mau ke Melbourne Museum

Petugas: “itu aja?”

Saya: “Jalan-jalan lah, kan bisa jajan, banyak restoran”

Petugas: “Di Indonesia tinggal dimana? Central Java?”

Saya: “Jakarta”

Petugas: “Ngapain di Jakarta?”

Pengen saya tonjok nih orang, sabar.. sabar..

Saya: “Saya kerja di salah satu Perusahaan Jepang cabang Indonesia, saya hanya seminggu di Australia untuk holiday, hari ke lima saya ke Perth, setelah dari sini saya kembali ke tanah air untuk kerja lagi”

Saking keselnya saya langsung ngomong panjang x lebar 

Petugas: ngangguk-ngangguk “Ok, jadi untuk tur ini sudah dibayar di Indonesia ya?”

Ngomongnya makin ngelantur nih orang

Saya: “yes” Jawab saya malas karena sudah capek

Petugas: “Ok, kamu boleh lewat.. silahkan”

Ketika saya lihat ke belakang, antriannya sudah panjaaaaaaaaaaang banget kayanya saya di-interogasi selama 10 menit

Setelah kejadian ini saya cerita ke sepupu saya yang tinggal Perth, dia bilang banyak faktor kenapa orang seperti saya bisa d-interogasi:

  1. Saya jalan sendirian, biasanya orang yang jalan sendiri niatnya cari kerja dengan menyalahgunakan visa turis
  2. Kenapa dia tanya tempat tinggal saya? Kalau saya tinggal di Jakarta atleast dia tahu saya adalah orang kota yang bekerja di kota dan tidak ada niat mengadu nasib ke negara orang. Atau jika saya tinggal di daerah peternakan atau perkebunan karena yang ditakutkan adalah membawa virus binatang/tanaman sehingga harus dilakukan tindakan bio-security
  3. Dan terakhir alasan yang konyol, bisa jadi dia cuma usil sama saya karena mengajukan pertanyaan nonsense!!

Apapun alasannya, kesimpulannya saya sih kecewa sangat ketika berkunjung ke Australia, maksudnya saya ini sudah 6 tahun travelling dan tidak ada masalah sama penyalahgunaan visa, petugas ini dengan sok tahunya tanpa lihat paspor saya malah mengajukan pertanyaan yang saya merasa ‘direndahkan sebagai turis’ seolah-olah saya ini belum pernah travelling dan berasal dari negara miskin yang niat jadi imigran gelap. Intinya gara-gara petugas ini, saya jadi ilfeel sama Australia. Mereka sibuk mempromosikan negaranya di Indonesia, tapi saya sebagai turis malah di-interogasi disana seolah-olah saya bikin sempit negara mereka saja!

[Seputar Ngetrip] Eropa Barat Part I: Belanda

Saya jadi feeling guilty ketika menulis ini, karena saya pulang dari Eropa di bulan Agustus tapi baru kesampaian menulis trip Eropa beberapa bulan kemudian dimana adalah hari ini.

Pada saat saya menulis ini, saya sedang diopname karena diagnosa tipes, infeksi lever, ada demam berdarah dan infeksi kelenjar getah bening, penyakit keroyokan ya hahahaha. Setelah tiga malam di rumah sakit saya request dibawakan laptop sama nyokap karena bosan banget! Jadi saya pikir daripada guling-guling diatas tempat tidur ga jelas lebih baik ada kesempatan menulis ini saya kerjakan saja.

Seperti yang sudah saya sounding berulang kali di postingan sebelumnya bahwa trip ke Eropa kali ini saya sendirian, sendirian dalam artian di minggu pertama saya benar-benar sendirian dan di minggu kedua ikut tripnya Claudia Kaunang juga tanpa teman yang saya kenal jadi saya kenal teman baru saat ketemu saja.

Baiklah, seperti biasa saya tidak akan menjabarkan secara berurutan karena Eropa Barat ini kan sudah mainstream ya jadi pasti bakalan bosan bacanya, jadi saya ceritakan kesan saya ketika berada ada disana.

BELANDA

Bisa dibilang negara ini yang paling banyak saya explore kota-kotanya; dari Leiden, Delft, Utrecht, Rotterdam, dan Amsterdam (ga heran biaya transportasi membengkak jadi 1.6 juta selama 5 hari saja XD ). Tips pada saat menggunakan transportasi adalah sebelumnya pastikan mau kemana saja dan setelah itu baru cek fare-nya jadi bisa dimasukkan ke dalam budget. Saya sebel banget karena kartu kereta dan bis yang saya punya tidak bisa top up menggunakan uang kertas melainkan koin atau kartu kredit!! Jadi dengan sangat terpaksa saya pakai kartu kredit yang saya gesek jika saldo-nya sudah habis (dan pakai biaya admin pula, hiks..).

Okaaaay, lupakan soal biaya transportasi yang membengkak. Oia, saya paling naksir sama negara ini. Pertama, orang-orangnya ramah banget, saya dibantu ketika kebingungan top up kartu transportasi (yang pada akhirnya tidak ada solusi karena dia sendiri tidak mengerti, hahahaha), ada mas-mas kasir yang ramah ketika saya menanyakan toko yang jual tas murah karena tali tas saya putus :'((((( dan masih banyak orang-orang Belanda lainnya yang saya temui termasuk Aaron – temennya si host yang ganteng (bukan karena bule terus ganteng loh, ini beneran ganteng untuk ukuran bule, hahahaha), sadar tampang sih tapi untungnya baik hati dan ramah karena sudah menemani saya ngobrol semalaman sebelum saya berangkat ke Schipol besok paginya 😉

Kedua, kota-kota kecil seperti Delft dan Leiden itu homiee dan countryside banget! Nah, ini baru Belanda sejati. Banyak orang-orang bersantai dibawah pohon rindang sepanjang kanal, sepeda-sepeda parkir di jembatan, ada gereja, ada market beserta jajanan pasarnya, intinya saya suka Delft dan Leiden!

DELFT

Seperti kanal di Kota Tua Jakarta ya 😉

LEIDEN

Sudut kota

Cantik!

Sebelumnya transit di stasiun Den Haag, mirip ya sama Stasiun Kota

Amsterdam, kenapa saya kurang suka ya? Kalau disuruh tinggal saya sih pengennya di kota karena akses kemana-mana mudah, tapi kalau mau trip prefer ke countryside. Kota ini crowded banget! Jalanan kotor (mungkin karena ibu kota), dan banyak hippies, Jadi sudah bukan mencerminkan ciri khas negara tersebut, tapi tidak afdol ya kalau tidak ke Amsterdam. Namun kota besar keduanya yaitu Rotterdam justru lebih baik karena lebih bersih. Belum banyak yang saya temui disana paling hanya bangunan modern saja.

ROTTERDAM

Foodcourt (saya lupa namanya) yang lagi nge-hits disana 😉

Beda dengan Delft dan Leiden yang countryside

Rotterdam adalah kota pelabuhan, jadi sering ada kapal kargo berlalu-lalang

AMSTERDAM

Hayoo ini dimana?? 😉

Snack kesukaan~! stroopwafles ❤ apalagi kalau dimakan selagi hangat

Banyak turis di depan istana yang sudah jadi museum, bapak ini merusak pemandangan saja :’D

Bersambung untuk trip ke negara lainnya di Eropa Barat.. 😉

[Sekedar Bercerita] Traveling Sendirian itu…

I’m Feeling Sexy and Free~!!!

Ini sih saya mau curhat saja, hehehe, banyak yang berubah setelah saya melakukan perjalanan sendirian selama seminggu sebelum akhirnya bertemu rombongan di minggu kedua waktu ke Eropa kemarin.

Sebenarnya saya ada rencana mau coba traveling sendirian yah atleast di negara dekat dulu seperti Singapore atau Kuala Lumpur, tapi malah tempat paling jauh yang akhirnya jadi tempat ‘training’ saya :’D mengapa saya memutuskan pergi sendirian di Eropa? Pertama, murni kecelakaan karena gagal pergi dengan travel mate.

Padahal teman-teman yang biasa pergi sendiri sudah encourage saya supaya kaya mereka tapi saya belum niat karena saat itu saya dan travel mate rencana mau ke Eropa dan tidak adil kalau saya pergi sendirian.

Mungkin sudah jiwa-nya, saya cek harga maskapai di berbagai website sudah kaya minum obat (sakaw kalau tidak minum obat, hahaha), akhirnya nemu lah tiket murah di September, tapi ya itu travel mate saya malah php (memberi kabar juga enggak), tiketnya jadi naik, sebel banget saya, seandainya saya bisa ngapa-ngapain tanpa mikirin orang lain pasti saya sudah dapat tiketnya. Dan saat itu.. ting! Oia, pantesan teman-teman saya pada akhirnya pergi sendirian karena males mikirin orang lain saat mereka pengen banget pergi. Baiklah, saya jalani saja dulu, dan sepulangnya dari Eropa mindset saya berubah ternyata menyenangkan sesekali pergi sendirian, saya suka sih pergi bareng, tapi kalau pergi sendirian hayo aja 😉 Sebenarnya saya ada rencana ke Philippines sama teman-teman tapi ketika ditanya kapan mau pergi malah tidak dijawab, oke bai! Gini nih kalau pergi dengan orang. Saya putuskan tidak mau antusias lagi, capek, hahaha. Kalau mau pergi bareng hayok, ga mau ikutan? Monggo.

Saya heran dengan sebagian orang (tidak semua ya), padahal mau pergi tapi ketika ditanya ini itu malah php (kasih kabar juga enggak), atleast info lah kalau tidak mau ya bilang. Saya sampai akhirnya menganggap bahwa mereka ini tidak pernah mengalami seperti yang saya alami jadi tidak akan mengerti kalau cari tiket murah itu menyita waktu, cari-cari spot wisata, bikin itinerary, semua usaha butuh effort dan waktu, walaupun begitu saya suka melakukan ini tapi tidak ada rasa appreciate-kah sama orang-orang yang sukarela karena ingin perjalanannya menjadi menyenangkan?

Lebih baik saya appreciate ke diri sendiri saja, hehehe.

Apa sih kelebihan pergi sendirian? Pengalaman saya ke Eropa kemarin, pada saat beli tiket tidak perlu tanya sana sini pada bisanya kapan dan cuma sesuaikan jadwal saya sendiri saja termasuk saat spot wisata semau gue kemana. Saat di Eropa, mau berangkat sekarang atau nanti atau mager terserah saya, kesempatan ‘me time’ jauh lebih besar karena lebih konsentrasi mengunjungi spot dan mengambil foto tanpa ada obrolan yang meng-distract konsentrasi, kesempatan interaksi dengan orang asing lebih banyak karena jika terlalu asik dengan travel mate kadang orang asing segan untuk menyapa. Kekurangannya? Palingan tidak ada yang reminder untuk mencatat pengeluaran karena saya suka lupa dan akibatnya saya berkali-kali melakukan kesalahan yang sama dan berujung pada pengeluaran yang boros :’D

Tips dari saya kalau mau pergi dengan travel mate; pastikan destinasi yang ingin dituju benar-benar yang kalian inginkan, jika sampai akhirnya tinggal kalian saja yang tidak batal, tidak begitu sakit hati dan bisa pergi sendirian.

[Seputar Ngetrip] Menyaksikan Euro Pride di Kanal Amsterdam

Ini adalah pengalaman traveling anti-mainstream sebagai orang Indonesia! XD

Waktu ke Eropa kemarin, sebenarnya saya tidak sengaja mengecek event summer festival yang ada di Belanda dan ternyata di hari saya datang bertepatan dengan Euro/Gay Pride yang sudah memasuki minggu ke-2 (event-nya selama 2 minggu) dimana tanggal 6 Agustus (Sabtu) merupakan acara puncak yaitu Canal Pride (konvoi perahu-perahu yang dihias sedemikian rupa dan menyusuri kanal di Amsterdam).

Euro Pride sendiri adalah event summer tahunan yang diadakan oleh host negara terpilih diantara negara-negara Eropa yang sudah melegalkan pernikahan sesama jenis, nah negara Belanda mendapat giliran sebagai host tahun ini, kebetulan banget kan XD

Saya bahkan sampai cek spot segala dimana posisi yang paling kece untuk mengabadikan momen dengan kamera saya, akhirnya saya putuskan standby di Magere Brug salah satu jembatan diatas kanal yang mempertemukan 4 rute sungai. Mencari tahu yang terbaik untuk event ini sangat menarik bagi saya, seru! Bahkan ketika di hari-H, googlemaps muncul warna-warna pelangi yang meramaikan live map-nya saat saya mencari jalan ke kanal XD

Rute perahu-perahu tersebut berjalan, saya di posisi jam 16.00

Berdasarkan tips yang saya baca, jam 9 harus sudah standby di most wanted spot karena bakalan banyak orang-orang yang rebutan menempati spot tersebut. Niat awal saya berangkat jam 8, namun karena hujan jadi jam 10 saya baru keluar rumah. Di Stasiun Utrecht, sudah mulai banyak orang-orang pakai kostum bermacam-macam, dominannya sih warna pelangi, kemudian kereta yang saya naiki tiba di stasiun dekat kanal (bukan Amsterdam Central) yang malah sudah langsung ke spot yang saya inginkan (thank you googlemaps!).

Jam 11 saya tiba di Magere Brug, ternyata masih sepi! Baiklaah~ saya langsung ke spot tersebut dan standby sambil foto-foto keadaan sekitar (masih belum ramai juga, lol).

Stasiun Amsterdam Central bahkan sudah dipasang bendera seperti Independence Day 🙂

Karena hari itu adalah hari ‘merdeka’ nya kaum LGBT, jalan-jalan sambil gandengan tangan di public sudah biasa! XD

Dua jam kemudian mulai orang-orang berkerumun di dekat saya, wow, sudah mulai ramai nih. Semakin siang semakin panas dan benar-benar terik! Untung saya pakai topi dan sunblock (benar-benar prepare). Walaupun mulainya jam 14.00, tapi karena saya berada di spot agak di akhir sehingga baru bisa lihat paradenya jam 15:00 😦

Suasana saat itu meriah banget! Extra crowded, kebanyakan penonton sangat menikmati acara ini dan tidak sedikit membawa anak-anaknya yang masih kecil untuk turut menyaksikan 🙂 Tidak hanya kaum LGBT yang turut meramaikan dan berpartisipasi, banyak sekali orang-orang biasa juga terlibat untuk event ini.

Ramenya yang nonton~!!

Tibalah saat yang dinanti! Setelah perahu pertama muncul, saya langsung fokus sama kamera saya dan kegiatan foto-memfoto berlangsung selama dua jam (sampai ganti batere kamera, hahaha). Banyak konvoi perahu-perahu yang dihias dan diatasnya orang-orang dengan kostum menarik dan seksi (terutama para cowok, ehem) joget-joget sensual, haduh! XD

Pegawai toko pun ikut berpartisipasi! (kaosnya itu loh) 😛

Konvoi para perahu

Orang-orang di perahu ini jadi pusat perhatian saya! (seksi sekali) XD

Perahu-perahu seperti ini banyak sekali sampai-sampai saya tidak kuat lagi berdiri, lagipula teman-teman saya sudah menunggu di stasiun Amsterdam untuk jalan bareng. Saya rasa cukup lah pengalaman menyaksikan Gay Pride di Belanda pula 😉

Euphorianya tidak hanya di kawasan kanal, downtown-nya pun juga! Saya sedang menunggu teman-teman saya di halte kemudian di hadapan saya ada tiga pria yang kissing bareng! (saat itu saya berdoa pengen di-teleport langsung ke Indonesia saja!), kemudian di public area banyak saja yang mesra-mesraan XD gandengan tangan dll, saya pikir orang-orang ini bahagia banget yaa bebas melakukan apa saja karena sudah disamakan dengan orang-orang biasa serta dilindungi negara. Saya dan teman-teman sepanjang jalan sampai sebodo amat saking sudah kenyang melihat sesuatu yang tidak common di negara kami 😀

Sesampainya ke rumah Martijn, saya cerita ke Aaron (temannya Martijn – host saya di Utrecht) termasuk cerita tentang tiga pria kissing tadi tapi dia hanya bilang “Ahhh, itu sudah biasa!”, waduh 😀 Terus dia menambahkan “Cinta mah cinta aja, saya juga punya beberapa teman gay tapi kalau saya tidak suka cowok ya saya gak perlu menjadi gay, sesimpel itu”. Sepertinya Aaron seperti saya di generasi 80-an dan di-usianya sudah memiliki mindset yang mentoleransi 100% keberadaan LGBT terutama di Belanda.

Bagi saya, dengan menyaksikan event ini cukup dijadikan pengalaman menarik saja karena di belahan dunia lain ternyata ada sesuatu yang tidak ada di negara saya sendiri, dan dari sini saya belajar toleransi dan mengenal sebuah wawasan baru.

[Sekedar Sharing] Pertama Kali Menggunakan Airbnb

Pemandangan kompleks perumahan di Utrecht dari dalam rumah

Hola, saya kembali~! Setelah 2 minggu melalang buana ke Eropa Barat, saatnya saya berbagi cerita di blog! Berhubung banyak banget yang mau di-ceritakan, postingan akan di-publish terpisah aja 😀

Bagi yang sering traveling pasti tidak aneh mendengar kata Airbnb, fasilitas akomodasi ini lagi populer dimana-mana bahkan host saya di Belanda juga rencana pakai Airbnb ketika akan berkunjung ke Los Angeles.

Saya memutuskan pakai Airbnb karena semakin umur (sadar wes tue) sudah tidak bisa kompromi menginap di hostel yang kebanyakan tamu-nya abege labil dan berisiknya itu loh.. gak nahan! Saya ingin tidur dengan tenang, makan dengan tenang, santai dengan tenang, tanpa harus basa basi dengan penghuni sekamar maupun penghuni hostel di pantry. Walaupun saya ikut open trip waktu ke Eropa, namun di minggu pertama saya duluan tiba di Belanda sendirian. Saya memutuskan menginap di Utrecht karena saya tidak terlalu suka kota metropolitan yang crowded dan sesak seperti Amsterdam atau Rotterdam (cukup sudah saya merasakannya di Jakarta setiap hari T_T). Berhubung baru pertama kali menggunakan Airbnb, saya memilih host yang punya reputasi baik di testimonial, kalau dapat host dengan title superhost malah lebih bagus lagi.

Berdasarkan postingannya Mba Ade tentang tips memesan via Airbnb, saya tidak langsung klik ‘instant booking’ melainkan kirim private message ke host atleast menghormati sang host 😀 Dari 5 host yang saya message, 2 declined dan 1 PHP (hiks), namun 2 host menerima saya! Setelah mempertimbangan 2 host akhirnya saya pilih Martijn sang superhost sebagai host saya disana (beruntung banget!).

Pembicaraan antara saya dan Martijn (maaf ya Mba Ade kata-katanya saya contek sedikit, hehehe)

Satu hari menjelang keberangkatan ke Belanda, saya di private message oleh Martijn yang menanyakan kapan saya datang dan jika dia tidak ada di rumah, kunci ada di loker samping rumahnya yang bisa dibuka dengan 4 digit password. Baiklaaahh, tinggal bagaimana perjalanan saya dari Amsterdam ke Utrecht saja nih berhubung saya perdana traveling sendirian 😛

Untuk mencari rumahnya Martijn di Utrecht, googlemaps amat sangat membantu saya. Selain berfungsi sebagai live map, googlemaps juga memberikan informasi detail tentang kereta dan bis nomer berapa yang harus saya naiki berikut platform serta schedule waktunya sehingga tidak perlu buang-buang waktu nanya kesana kemari. Tidak rugi deh saya pasang paket internet provider di Indonesia mahal-mahal biar bisa akses googlemaps XD tapi lain kali pakai mifi/wifi portable saja ya lumayan bisa saving 50% dari harga paket internet yang saya pakai 😦

Pengalaman di Rumah Sang Superhost.

Pertama kali memasuki rumahnya Martijn di Utrecht, yang saya pikirkan adalah…. ini saya mesti lepas sepatu gak sih!? Karena takut rumahnya kotor, saya nyeker saja ke dalam sambil nentengin sepatu. Kesan pertama rumahnya Martijn itu, yaa.. namanya juga rumah bujang cowok, tas dan sepatu dimana-mana, laptop gletak aja di meja, tapi dapurnya dong.. bersih kinclong, toiletnya juga! Saat itu tidak ada orang, jadi mumpung lagi sendirian saya foto-foto deh rumahnya 😛

Ngarep punya dapur begini di rumah

Beberapa jam kemudian, Martijn pulang ke rumah dan kami pun berkenalan. Saya kaget dengan cowok Belanda, tinggi buangeet! Saya saja bicara dengan dia harus dongak, kepala saya hanya dibawah ketiaknya dia kali! Sampai-sampai saya bilang “kamu tuh tinggi banget!” dan dia cuma ketawa (tingginya 186cm loh!) :)) Oia, dia tidak sendirian pulang, melainkan bawa temannya dengan tinggi yang sama (hueee..) bernama Aaron yang saya anggap mukanya kaya boyband (atau persis kaya Prince William waktu umur 20-an), lucuuu! Tapi sialnya saya kenalan dengan Aaron dalam kondisi rambut saya berantakan, muka saya kucel, karena perjalanan panjang dari Indonesia kemari, arrgh! XD So far, Martijn orangnya ramah dan asik, yaah.. tipikal cowok gaul gimana sih, atleast orangnya menyenangkan. Dia tidak bisa lama-lama disitu karena ada shift malam. Selama 4 malam berikutnya kami tidak pernah ketemu karena saat dia kerja saya pulang dan saat dia pulang saya malah pergi.

Walaupun fasilitas tersedia di rumah seperti mesin cuci (yang diletakkan di kamar saya di loteng), dapur, dan tv di living room, namun tidak saya pakai. Boro-boro mau dipakai, saya saja sudah pergi pagi sekali dan pulang malam sekali jadi mau ngapa-ngapain sudah capek!

Living room

Orang Belanda seneng banget pakai sepeda, Martijn sempat menawarkan sepeda punya ceweknya yang katanya cuma setinggi 160cm (setinggi saya) tapi ketika saya duduk, kaki saya gantung dan tidak ada rem pula :(( daripada nabrak anak orang akhirnya tidak jadi deh, padahal saya mau ke grocery beli bekal buat masak di dapur.

Tempat tidurnya nyaman! Empuk-empuk cozyy, dan kamar mandinya juga bersih, ada air panasnya pula (memang harus ada!).

Satu hari menjelang check out, saya private message ke Martijn memberitahukan bahwa besok pagi-pagi saya harus pergi karena janjian sama rombongan open trip di Schiphol jam 9, Martijn menjawab dan berharap semoga saja kami bisa bertemu.

Jam 11 malam ketika saya selesai mandi mesin cuci di kamar saya ternyata sedang bekerja (saat itu saya pikir mungkin Martijn meninggalkan pakaian kotornya disini) dan setelah itu berbunyi ‘beep-beep’ terus menerus padahal putaran di dalamnya sudah berhenti, bagaimana saya mau tidur mana besok harus berangkat pagi-pagi. Saya pelajari bahasa tombol di mesin cuci (pakai Bahasa Belanda pula) duuh rasanya mau nangis, tanpa pikir panjang saya klik saja ‘pause/start’ barangkali si beep-beep jadi diam. Eehh, malah mencuci ulang dari awal, arrghh XD sudahlah, saya tinggalkan saja (pura-pura tidak tahu). Saat saya sedang bebenah diri di karpet tiba-tiba Aaron masuk ke kamar saya dong, ternyata baru ketahuan kalau Aaron pinjam mesin cucinya Martijn karena punya dia rusak, hadeuuhh.. ganteng-ganteng merepotkan orang saja -___-” dia pikir di kamar sudah tidak ada orang jadi dia mencuci disitu, tiba-tiba dia bingung kenapa mesinnya belum selesai mencuci padahal sudah disetting 50 menit, ketika saya beritahu apa yang saya lakukan terhadap mesin itu, dia ketawa dan bilang “yang kamu pencet itu artinya mencuci ulang dan saya harus berterima kasih sama kamu karena membuat pakaian saya dua kali lebih bersih”, saya jawab saja ya lagian cuci di kamar saya tidak bilang-bilang! Dia sih pasrah saja dan malah duduk di sofa samping saya O_O lah ini orang mau ngapain, pikir saya, ternyata dia mengajak ngobrol sambil menunggu mesinnya selesai bekerja. Baiklaah, kapan lagi ngobrol sama orang ganteng (padahal saya sudah ngantuk luar biasa). Aaron menyenangkan orangnya, dia cerita tentang ceweknya yang blasteran Indonesia-Belanda, sampai meng-screencapture jadwal kereta dan bis untuk saya besok (dia menunjukkan jadwal dari hpnya dalam posisi muka dekat sekali dengan saya, 1 inchi lagi pipi kami nempel kali, saya jadi tidak konsen mendengarkan karena grogi XD ). Dua jam kemudian kami masih ngobrol dan tidak lama Martijn masuk kamar dan bertanya ngapain kami berdua disini, akhirnya kami cerita tentang insiden mesin cuci dan Martijn ngakak aja gitu, duuh malu deh saya -____-” sambil bercanda dia bilang akan nulis testimonial tentang saya yang merusak propertinya, tapi gak lah.. testinya dia aman kok 😛 Anyway, Aaron juga punya 6 rumah yang disewakan untuk Airbnb lho! Jika penasaran dengan tampang boyband-nya Aaron bisa cek di website Airbnb di Utrecht dengan nama Finn.

Honestly they are very good host! Saya meng-appreciate hospitality-nya mereka, Martijn walaupun sibuk banget tapi komunikasi dengan dia justru lancar dan quick response, tidak heran sih dia dikasih gelar superhost.

Kesimpulan saya mengenai Airbnb pertama;

    1. Kalau ada sesuatu yang harus di-infokan ke host seperti preferensi makan dan minuman halal, bilang saja! Kalau tidak di-infokan, seandainya host-nya berniat mau kasih complimentary makanan atau minuman jadi tidak salah.
    2. Tanyakan ke host, untuk sepatu/sendal apakah boleh dipakai ke dalam (misal dari luar rumah ke kamar, atau dari kamar ke luar rumah). Di rumah Martijn, dia ke kamar saya dalam kondisi pakai sepatu dari luar rumah dan lantai kamar saya jadi berpasir! XD jadi besok-besoknya saya pakai sepatu dari kamar ke dapur untuk isi air ke botol kemudian keluar rumah tanpa harus nyeker di rumahnya.
    3. Tanyakan ke host, apa saja yang boleh diminta di dapur. Dapurnya Martijn banyak sekali makanan di kulkas, kopi, susu, cornflakes, wine ada diatas meja, saya agak ragu minta kopinya dia karena belum bertanya XD
    4. Dengan menggunakan Airbnb, saya merasakan langsung kehidupan orang lokal setempat, kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lokal di rumah jauh lebih banyak karena ada saja cerita ketika berinteraksi dengan mereka seperti pengalaman saya dengan Aaron, dibandingkan dengan hostel/hotel yang ujung-ujungnya ketemu dengan turis juga sehingga sharing mengenai lokasi dan budaya setempat tidak maksimal.

Sepertinya itu saja pengalaman saya tentang Airbnb yang membuat saya ingin menggunakan jasa ini lagi untuk trip selanjutnya. 😉