[Seputar Ngetrip] Indocina: Vietnam dan Kamboja

Berpose di salah satu bangunan Angkor Wat ūüėÄ

Indocina merupakan salah satu dari must to do trip-nya saya. Setelah trip Thailand (yang sepertinya salah pilih Phuket sebagai destinasi karena sama komersilnya dengan Bali), akhirnya saya kesampaian ke Hanoi РVietnam, dan Siem Reap РKamboja!

Sebenarnya saya lebih fokusnya ke Kamboja terutama karena ingin mengunjungi Angkor Wat, tapi terpikir masa sih cuma kesana saja? Kenapa tidak ditambahkan lagi satu destinasi Indocina? Barulah Vietnam terpilih. Alasan memilih Hanoi karena menurut teman saya yang suka travelling, Hanoi lebih etnik dan membumi Рmaksutnya Vietnam banget, karena Ho Chi Minh hanya kota saja Рseperti halnya ibukota yang pernah saya kunjungi yaitu Tokyo РJepang (hanya transit, saya pergi ke Kyoto) atau Auckland РNew Zealand (transit juga, destinasi utamanya Queenstown).

Trip kali ini juga saya dapat tiket promo Air Asia (lagi!), dengan total harga tiket untuk Jakarta – Kuala Lumpur PP + Kuala Lumpur – Hanoi + Siem Reap – Kuala Lumpur dengan harga Rp 1.6 juta saja.¬†Entah sudah berapa kali maskapai ini memfasilitasi trip-trip saya ke Luar¬†Negri, saya berterima kasih sekali sama mereka ūüôā Oia, saya juga pakai pesawat VietJet untuk penerbangan domestik dari Hanoi ke Ho Chi Minh. Baiklah!¬†Berikut adalah kisah saya di Vietnam dan Kamboja ūüėČ

PERSIAPAN

Saya akui persiapan trip ini merupakan persiapan yang paling tidak siap dibandingkan trip saya sebelumnya, hahahaha! Saya pikir hanya sedikit spot yang bisa dilihat karena keterbatasan waktu kita di Hanoi dan Siem Reap selain Halong Bay dan Angkor Wat. Jadi yang kita siapkan adalah tubuh yang prima dan uang yang mencukupi *halah*.

Untuk mata uang,¬†harap bawa USD untuk ditukar ke Dong dan Riel di airport masing-masing karena USD cenderung stabil. Tukar Dong dan Riel di Jakarta cenderung susah. Jangankan Vietnam dan Kamboja, waktu tuker New Zealand Dollar saja mesti pesan dulu ūüė¶

SELAMA PERJALANAN

Suasana Bandara KLIA2 di Kuala Lumpur, Malaysia

Sebelum ke Hanoi, kita transit dulu dan menginap semalaman di¬†Kuala¬†Lumpur International Airport 2 (KLIA2) dimana airportnya itu luas sekale, tapi kita antusias menjelajah airportnya karena ini pertama kalinya¬†kita menginjak KLIA2. Kalau ingin makan dengan harga terjangkau, datang saja ke foodcourt yang terletak di dekat Nanny¬†Pavilion di lantai 2,¬†saya makan¬†ramen kimchi seharga tidak sampai Rp 50,000 kalau di-convert dan saya sangat rekomendasikan teh tarik, Rasanya¬†perfect dan yummy! ūüėÄ Jangan takut tidak halal, menurut saya, mereka menyajikan makanan halal di¬†foodcourt (ingat, ini Malaysia!) dan tempat ini juga jadi tempat favoritnya¬†flight attendant Air Asia untuk makan.

Selain pesawat, kita juga melakukan jalan darat alias¬†roadtrip karena saya ingin mencoba roadtrip di negara¬†berkembang yang yah.. sebelas-dua belas dengan jalanan di Jawa yang ajluk-ajlukan lah. Perjalanan daratnya dimulai dari Ho Chi Minh (sebelumnya naik pesawat dulu¬†¬†dari Hanoi) ke Siem Reap yang memakan waktu 7-8 jam perjalanan.¬†Jangan harap pemandangan diluar selama perjalanan seperti di Jepang¬†yang sejuk dengan sawah serta kebun teh yang membentang luas dan terlihat Gunung Fuji, selama ke Siem Reap yang saya lihat hanya tanah gersang, berdebu, dan rumah penduduk yang agak memprihatinkan. Tapi saya sangat menikmati perjalanan etnik ini kok! ūüėČ Saya pakai bis¬†Mekong Express, saya rekomendasikan karena kursinya empuk dan itu faktor penting untuk perjalanan yang sangat panjang.

Sundus¬†kayanya enjoy bener walaupun ada ‘kaki’¬†di sebelah :))

Di perbatasannya pun tidak seketat dan seseram perbatasan¬†antara Singapore dan¬†Malaysia, petugas Imigrasi¬†Vietnam justru lebih santai (beda ya antara negara maju dengan negara berkembang). Tapi ya¬†seperti halnya kelakukan petugas sipil¬†di Indonesia, banyak calo-calo yang menawarkan jasa “menyalip” antrian paspor dan¬†langsung menyerahkan ke petugas imigrasi dengan “fee” yang tidak murah. Suasana imigrasi saat itu, cuaca panas terik dan kering, turis-turis bejubelan di dalam ruangan karena tidak ada kejelasan antrian, tidak ada AC – hanya kipas angin yang muter-muter di langit-langit, berhubung kondisi tersebut familiar dengan di Indonesia¬†jadinya saya dan Sundus sudah terbiasa ūüôā

Kemudian kita harus masuk lagi ke Imigrasi Kamboja dimana lebih lega karena tidak banyak orang seperti halnya Imigrasi Vietnam. Awalnya saya sebal kenapa bule-bule rombongan kita didahulukan keluar dari Imigrasi Vietnam (dasar mental inlander, bule di-dewakan, menurut saya). Namun ternyata, sisi baiknya adalah ketika di Imigrasi Kamboja, sebagai salah satu negara anggota ASEAN, saya dengan bangga jalan terus menuju petugas imigrasi melewati bule-bule itu yang harus mengurus VOA (oh, ternyata mereka didahulukan karena mesti ada yang diurus), hahahaha!! (huft, maapkan saya yang sudah berpikir negatif).

HANOI, VIETNAM

Ternyata benar, Hanoi adalah kota etnik dengan banyak peninggalan bangunan kolosal jaman penjajahan Perancis, pedagang berjualan dipinggir jalan, pengunjung makan di emperan, banyak penduduknya pakai topi kerucut, orang-orang bersepeda, becak, this reminds me of Yogyakarta!

PENGINAPAN DAN JAJAN

Kalau kata Masiding, teman saya yang sudah trip expert ASEAN (ciee..), kalau ke Vietnam dan Kamboja lebih baik menginap di hotel budget saja karena murah (dan memang murah, kamar saya adalah twin bed  dengan kamar mandi di dalam + shower hangat hanya Rp 250,000/malam kalau dibagi dua dengan Sundus hanya Rp 125,000/malam!). Di Hanoi, kita dikasih kamar twin bed dengan double bed di masing-masing tempat tidurnya, wow!! Btw, nama hotelnya Especen , lokasinya etnik karena berada di tengah bangunan rumah penduduk (like it very very much!).

Sebelum ke Vietnam, saya sudah berhalusinasi makan Pho dan Kopi Vietnam, tapi akhirnya saya hanya kesampaian minum Egg-Coffee (kopi pakai telor biar ada kesan kental dan anehnya tidak amis!!) dan roti bagel (yang ternyata alot) karena mayoritas makanan di Hanoi tidak halal! Saya sampai masuk angin karena tidak menemukan makanan halal dan malah berakhir di KFC yang ternyata lebih enak KFC di Indonesia, huhuhuuu..

Egg-Coffee, enak karena creamy (tapi creamy-nya pakai telor)

Saya pernah coba makan mie gunting, seperti bihun berukuran besar dengan sayuran dan tahu pakai saus asem atau saus hitam, jangan terjebak otak-otak yang ditaruh diatas mie gunting ya karena setelah Sundus tanya itu adalah babi!! hampir saja saya makan (karena lapar), hahahaha.

Ini dia mie gunting, yang paling cokelat seperti otak2 itu adalah daging babi dan hampir saja saya makan :))

Selain itu, saya mencoba eskrim di Cafe Dilmah dekat Ho Chi Minh Complex, enak sekali!

DISANA NGAPAIN AJA SIH

Berhubung kita hanya punya waktu satu setengah hari di Vietnam, kita memanfaatkan waktu dengan jalan-jalan di pusat kota Hanoi, Hoan Kiem Lake yang cozy banget buat santai dan menghayal #eh Old dan French Quarter yang kental suasana jaman dulu dengan bangunan-bangunan kolosal, serta mengunjungi makam dan museum Presiden Pertama Vietnam yaitu Ho Chi Minh Complex.

Terutama di Ho Chi Minh Complex, ternyata dokumentasi¬†tertulis banyak yang menggunakan Bahasa Perancis dimana saya baru sadar bahwa Vietnam adalah¬†jajahan Perancis ūüėÄ turis-turis Perancis juga banyak yang mengunjungi¬†museum ini. Sedangkan di Indonesia, kita terbiasa dengan¬†Belanda ūüôā Oia, Vietnam merdeka dua bulan setelah Indonesia merdeka, saya jadi punya perasaan familiar dan senasib dengan negara ini.

Salah satu di sudut Danau Hoan Kiem

Ho Chi Minh Complex, tempat pemakaman Presiden Pertama Vietnam – Ho Chi Minh

Serasa di Perancis!

SIEM REAP, KAMBOJA

Setelah terpikir ke Kamboja, destinasi pertama saya justru ke Pnom Penh karena saya ingin mengunjungi Tuol Sleng Рyaitu tempat pembantaian masal masa rezim Khmer Merah yang membuat turis-turis tadinya tertawa berubah menjadi terkecam karena aura tempatnya yang mengerikan. Berhubung waktunya mepet, jadi kita putuskan melewati Pnom Penh dan langsung ke Siem Reap.

PENGINAPAN DAN JAJAN

Untuk penginapan, kita menginap di hotel namanya Villa Medamrei¬†walaupun sempat¬†ada masalah yaitu ketika bus tiba di¬†spot pemberhentian namun tuk-tuk yang kita pesan dari hotel belum¬†datang, terpaksa kita menunggu sejam (sampai-sampai petugas bus-nya meminjamkan internet ke saya supaya saya email ke pihak hotel namun ternyata tidak ada balasan). Akhirnya¬†kita naik tuk-tuk yang disupiri bapak-bapak yang¬†ngotot mendekati kita sejak kita datang dengan harga $5. ¬†Ketika tiba di hotel, petugas hotel bilang bahwa tuk-tuknya sudah menunggu dari jam 5 dan supirnya pergi karena sejam saya belum muncul juga. Duh, padahal ya sebelumnya saya sudah email ke pihak hotel bahwa kita berangkat dari Ho Chi Minh jam 9 dan seharusnya pihak hotel bisa memperkirakan jam berapa kita tiba di Siem Reap ūüė¶ (malah mengikuti kata-kata saya yang bilang kira-kira sampai Siem Reap jam 5, saya kan turis, mana tahu perkiraan waktunya berapa). Untunglah setibanya di lobby, kita disuguhi minuman lemon dingin, lap handuk yang dingin, dan kripik pisang oleh petugas yang sangat ramah! Lelah yang luar biasa akhirnya terbayar. Kamar hotelnya pun sangat cozy dan melebihi ekspektasi saya untuk budget hotel. Harga¬†per-malam nya sama dengan hotel¬†di Hanoi yaitu Rp¬†250,000/kamar termasuk¬†breakfast (menu bisa dipilih lho! Saya pilih omelet + roti bakar dengan selai + jus jeruk).

Lobby Hotel Villa Medamrei

Sarapan di teras atas hotel ini sungguh…. damai ūüėÄ

Street Food di Kamboja menurut saya adalah heaven karena makanan non-halalnya tidak sebanyak di Vietnam, kita makan mie goreng pakai telur ceplok dengan saos sambal, pancake pisang, sate jamur, dan jus buah naga dengan harga masing-masing $1 (sebelas duabelas harganya dengan street food di Jakarta).

Yahh.. walaupun penampilannya berantakan tapi mie goreng ini enak buangett!

DISANA NGAPAIN AJA SIH

Angkor Wat tentunya!

Sebelum trip, di Indonesia saya sudah mencari tahu tentang scam dan percuma saja karena sebelum menginjak tanah Kamboja kita kena scam juga oleh si bapak-bapak yang menyupiri kita ke hotel. Dia mengaku pernah kerja di NGO (Englishnya memang bagus sih, tapi kita cuma jawab iya-iya saja karena malas) dan menawari jadi guide di Angkor Wat. Kita ditawari $15/orang, karena saya ingat si Rina Рteman saya bilang untuk tuk-tuk $15 seharian jadi saya dan Sundus setuju. Setelah deal kita baru sadar kalau maksudnya Rina $15/tuk-tuk, bukan $15/orang jadi si bapak ini dapat $30 sehari. Bloon. >______<!

Okelah, dengan tekad bulat, saya dan Sundus sepakat akan pakai si bapak ini seharian dan malamnya antar kita ke Night Market dengan ongkos yang disepakati $30.

Kalau kata anak Kamboja yang kita temui di bis waktu perjalanan ke Siem Reap, Angkor Wat merupakan sebuah kota jadi jangan heran kalau ingin menjelajah Angkor Wat butuh sekitar 3 hari dan rekomendasi dengan tuk-tuk karena luar biasa luas, untuk pindah dari satu candi ke candi lain lebih baik menggunakan tuk-tuk karena lumayan jauh jaraknya.

Kita berangkat dari hotel jam 4.45 subuh karena ingin mengejar sunrise di Angkor Wat namun kita malah kesiangan¬†bangun dan alhasil agak sedikit terlambat. Untunglah masih sempat melihat sunrise dan apapun kamera yang dipakai, hasilnya spektakuler! Tapi turis-turis sudah banyak¬†yang berjubelan, jadi sedikit tidak nyaman ūüė¶

DSC_0122

Angkor Wat by different colors

Kita mengunjungi  kompleks yang utama dan paling besar, membutuhkan dua jam lebih untuk menjelajah, kurang lebih seperti Candi Prambanan Рsetidaknya kita tidak penasaran lagi seperti apa Angkor Wat itu, setengah hari kemudian kita sudah lelah, makan siangpun sepiring berdua karena seporsi nasi goreng biasa banget harganya $6.00 (apa-apaan) >_<! yasudahlah yang penting sudah ambil foto buat dipamerkan di social media, ciee..

Salah satu candi di kompleks Angkor Wat

Lokasi yang menjadi tempat syuting Tomb Rider

KESIMPULAN

Hanoi dan Siem Reap patut jadi destinasi wajib jika kalian suka tempat-tempat historikal nan eksotis!

Oia ada satu lagi yang menarik perhatian saya ketika travelling kesana

Seragamnya fight attendant VietJet lucu bangetttt! XD