[Seputar Ngetrip] Gara-gara Transportasi, Tersasar di Singapore

Enjoy S’Pore!

Bagi kita, salah satu pelajaran terpenting setelah mengalami jalan-jalan di luar negri adalah pentingnya mengenal transportasi di negara tersebut; apa saja transportasi yang tersedia, bagaimana sistem pembayaran, jalurnya, dan lain-lain. Karena jujur, pertama kalinya kita ke luar negri baru-baru ini adalah ke Singapore, tidak berbekal itinerary yang akurat (hanya copy-paste dari google). Sebelum menginjakkan kaki di Changi Airport, kita bahkan belum membayangkan MRT itu seperti apa, bentuknya apa, subway atau monorail? Yang pasti, kita percaya sepenuhnya dengan itin yang kita bawa. Yang penting sudah tertulis tujuan ke hostel naik kereta apa dan jalur apa. Begitu sampai di Changi, kita mulai bingung dan kalang kabut mau ke luar airportnya bagaimana? Pesawat sudah landing jam sepuluh malam, tapi kita baru bisa keluar airport jam setengah dua belas. Parahnya, kita pikir pintu masuk kereta Skytrain menuju Terminal 3 adalah toko yang sudah tutup! Sesuatu terbodoh yang dialami turis seperti kita.

Capek! Istirahat dulu 😛

Setelah mempelajari peta jalur kereta, kita berjalan ke arah mesin tiket. Kita mengutak-atik mesin tiket, seandainya teman saya di Indonesia tidak meminjamkan saya kartu isi ulang, mungkin saya tidak akan tahu bahwa MRT di Singapore bisa menggunakan kartu ini. Teman-teman yang lain juga ingin beli kartu seperti saya, tapi sayang waktu sudah mendekati tengah malam dan pusat informasi sudah tutup sehingga mereka terpaksa beli karcis satuan. Sedangkan saya isi ulang kartu pinjaman ini. Bodohnya lagi, kita tidak bisa melewati pintu gerbang padahal sudah kita jelas menempelkan kartunya ke pintu sampai kita heboh sendiri, ternyata yang kita tekan itu pintu gerbang betuliskan “X” bukan “tanda panah”. Kecanggihan membuat kita linglung.

Selamat berbingung-bingung!

Mempelajari rute MRT

Begitu sampai ke Stasiun Tanah Merah, kita kaget karena kereta yang akan menjadi tujuan kita ke Bugis sudah berhenti beroperasi, saat itu jam 12 malam. Terpaksa kita bertanya ke bapak-bapak yang duduk sendiri, dia bilang bisa menggunakan bis. Kita pun menunggu bis di halte. Begitu bis menghampiri halte, kita dibuat bingung lagi, kenapa orang-orang menge-tap kartunya di mesin sebelah pak supir ya? Dengan pedenya kita masuk ke dalam bis. Kita bengong saja berdiri disebelah pak supir, mungkin pak supirnya tahu kita ini terlihat seperti turis kebingungan.

Dia bertanya “Where are you going?”

Teman saya malah bertanya lagi “Ehmmm… How to pay???”

Pak supir melanjutkan “What destination?”

Teman saya jawab “We would like to go to this place (nama jalan posisi hostel)”

Dia mengangguk dan melihat tabelnya “Oke, 1 dollar 70”

Ketika teman saya mengeluarkan uang 50 dollar. Kita dimarahi pak supir “No, change, no change, haaaa” Pakai logat China.

Untungnya ada bapak-bapak penumpang yang dengan senang hati menawarkan pecahan uang. Kita pun bernapas lega. Perjuangan kita berurusan dengan transportasi belum berakhir. Di dalam bis, kita bertanya alamat hostel ke salah satu penumpang orang Melayu, dia tidak merasa yakin tapi dia menyarankan kita untuk turun dengan patokan gedung bertanda “V” dan entah itu gedung apa kita tidak ingat karena sudah terlalu capek.

Nikmati transportasi umum sepuas-puasnya!

Alhasil kita turun kembali ke halte bis dengan pikiran blank. Kita terpaksa bertanya lagi pada salah satu anak muda, yang membuat kita syok, dia bilang alamat ini masih sangat jauh jika jalan kaki. Kita berjalan-jalan tanpa arah yang jelas (saat itu waktu menunjukkan pukul setengah satu malam, para pengendara mobil dan bis melihat kita, dan mungkin mentertawakan kita karena kita sukses tersasar!). Di tengah jalan kita juga mentertawakan kekonyolan kita sendiri.

Akhirnya kita memutuskan sesuatu yang sebenarnya kita hindari sebelum berangkat ke Singapore. Yaitu menggunakan taksi! Dengan perasaan was-was kita pun naik taksi. Kita sudah paranoid saja ini supir taksinya jahat tidak ya, apakah akan dibawa berputar-putar? Bahkan yang lebih parah diculik! dan berbagai pikiran paranoid lainnya. Yah, jangan pernah judge orang dari tampang dulu, ternyata pak supir ini sangat baik, dia mengajak kita mengobrol (walaupun dengan logat yang kurang jelas kita dengar). Akhirnya, dia mengantar kita tepat di depan hostel. Pada saat kita membayar, dia memberikan uang kembalian yang kelebihan! Kita inisiatif untuk mencari lagi uang lebih kecil tapi dia menolak. Betapa baiknya bapak ini! Dengan senang hati kita keluar dari taksi dan tidak putus-putusnya mengucapkan terima kasih sama bapak supir itu.

Sialnya, saya baru tahu bahwa kartu yang saya bawa-bawa ini bisa dipakai untuk bayar bis (saya sudah mengeluarkan uang untuk bayar bis tadi!).

Maklum, turis norak naik Skytrain

Karena sudah tahu tentang sistem transportasi disana, besoknya kita ketagihan berlenggang kesana kemari dengan menggunakan MRT dan bis mengelilingi Singapore. Ada saja alasan ke tempat tertentu agar kita bisa naik lagi, naik lagi, dan naik lagi, walaupun kita masih saja tersasar tapi tidak separah semalam. Disamping orang-orang kebanyakan jalan-jalan ke tempat wisata, kita malah senang naik turun kereta.

Crowded tapi bersih dan rapih!

Kita begitu bersyukur karena bertemu dengan orang-orang lokal yang menurut saya kooperatif, padahal kita berpikir mereka pasti tidak akan memperlakukan turis seperti kita ini dengan baik, ternyata kita salah duga. Namun, bukan berarti kita akan mengulangi hal yang sama. Pelajaran yang bisa kita ambil adalah bahwa sangat penting melakukan observasi tentang hal yang berhubungan dengan transportasi di luar negri sebelum menginjakkan kaki disana, walaupun hanya dasarnya saja. Sistem transportasi Singapore termasuk sangat mudah, namun kita masih bisa tersasar. Akibat kita terlalu meremehkan hal kecil seperti ini, waktu pun terbuang percuma karena berurusan dengan transportasi. Mungkin pengalaman kita ini akan ditertawakan banyak orang, tapi kita bangga bisa nekat pergi sendiri tanpa pengalaman, dan akhirnya sukses juga kita lewati, juga bisa merasakan suka duka mengalami kejadian di negara orang.

Untungnya kita mengalaminya di Singapore, bukan di negara lain!

Also, we enjoy in Malaysia too!

Please wait for our next destination trip! 😉

1876511727363519140613

Advertisements