[Sekedar Bercerita] Traveling Sendirian itu…

I’m Feeling Sexy and Free~!!!

Ini sih saya mau curhat saja, hehehe, banyak yang berubah setelah saya melakukan perjalanan sendirian selama seminggu sebelum akhirnya bertemu rombongan di minggu kedua waktu ke Eropa kemarin.

Sebenarnya saya ada rencana mau coba traveling sendirian yah atleast di negara dekat dulu seperti Singapore atau Kuala Lumpur, tapi malah tempat paling jauh yang akhirnya jadi tempat ‘training’ saya :’D mengapa saya memutuskan pergi sendirian di Eropa? Pertama, murni kecelakaan karena gagal pergi dengan travel mate.

Padahal teman-teman yang biasa pergi sendiri sudah encourage saya supaya kaya mereka tapi saya belum niat karena saat itu saya dan travel mate rencana mau ke Eropa dan tidak adil kalau saya pergi sendirian.

Mungkin sudah jiwa-nya, saya cek harga maskapai di berbagai website sudah kaya minum obat (sakaw kalau tidak minum obat, hahaha), akhirnya nemu lah tiket murah di September, tapi ya itu travel mate saya malah php (memberi kabar juga enggak), tiketnya jadi naik, sebel banget saya, seandainya saya bisa ngapa-ngapain tanpa mikirin orang lain pasti saya sudah dapat tiketnya. Dan saat itu.. ting! Oia, pantesan teman-teman saya pada akhirnya pergi sendirian karena males mikirin orang lain saat mereka pengen banget pergi. Baiklah, saya jalani saja dulu, dan sepulangnya dari Eropa mindset saya berubah ternyata menyenangkan sesekali pergi sendirian, saya suka sih pergi bareng, tapi kalau pergi sendirian hayo aja 😉 Sebenarnya saya ada rencana ke Philippines sama teman-teman tapi ketika ditanya kapan mau pergi malah tidak dijawab, oke bai! Gini nih kalau pergi dengan orang. Saya putuskan tidak mau antusias lagi, capek, hahaha. Kalau mau pergi bareng hayok, ga mau ikutan? Monggo.

Saya heran dengan sebagian orang (tidak semua ya), padahal mau pergi tapi ketika ditanya ini itu malah php (kasih kabar juga enggak), atleast info lah kalau tidak mau ya bilang. Saya sampai akhirnya menganggap bahwa mereka ini tidak pernah mengalami seperti yang saya alami jadi tidak akan mengerti kalau cari tiket murah itu menyita waktu, cari-cari spot wisata, bikin itinerary, semua usaha butuh effort dan waktu, walaupun begitu saya suka melakukan ini tapi tidak ada rasa appreciate-kah sama orang-orang yang sukarela karena ingin perjalanannya menjadi menyenangkan?

Lebih baik saya appreciate ke diri sendiri saja, hehehe.

Apa sih kelebihan pergi sendirian? Pengalaman saya ke Eropa kemarin, pada saat beli tiket tidak perlu tanya sana sini pada bisanya kapan dan cuma sesuaikan jadwal saya sendiri saja termasuk saat spot wisata semau gue kemana. Saat di Eropa, mau berangkat sekarang atau nanti atau mager terserah saya, kesempatan ‘me time’ jauh lebih besar karena lebih konsentrasi mengunjungi spot dan mengambil foto tanpa ada obrolan yang meng-distract konsentrasi, kesempatan interaksi dengan orang asing lebih banyak karena jika terlalu asik dengan travel mate kadang orang asing segan untuk menyapa. Kekurangannya? Palingan tidak ada yang reminder untuk mencatat pengeluaran karena saya suka lupa dan akibatnya saya berkali-kali melakukan kesalahan yang sama dan berujung pada pengeluaran yang boros :’D

Tips dari saya kalau mau pergi dengan travel mate; pastikan destinasi yang ingin dituju benar-benar yang kalian inginkan, jika sampai akhirnya tinggal kalian saja yang tidak batal, tidak begitu sakit hati dan bisa pergi sendirian.

[Sekedar Bercerita] Kisah si Bule Hunter Bagian 1

boy-1298788_960_720

Ouch! Kenapa saya pikir istilah ini kasar ya? Maafkan kalau ada yang merasa tersinggung, ini saya cerita berdasarkan kejadian teman saya yang dari dulu saya sebenarnya sudah seuzon sama dia, hahaha. Karena tidak tahan pengen share, saya ceritakan disini karena sudah lumayan membuat saya ilfil.

Jadi nih, dia adalah teman di kantor saya sebelumnya, kami sama-sama fresh graduate yang bekerja di salah satu bank dimana rata-rata memang karyawannya fresh graduate sih. Saya heran, dia kok bisa ya lagi online dengan customer (kami saat itu sebagai call center) terus ketik-ketik handphone (saat itu layarnya masih monokrom, jadi kebayang ya itu tahun berapa #berasatuir), capek kan ya mencet-mecetin keypad yang cuma 12 tombol -_-” dan hp-nya selalu diletakkan di depan layar komputer seperti monitoring sesuatu. Jiwa kepo pun muncul dan saya tanya “lo ngapain sih sibuk banget sama hp”, dia jawab lagi chattingan sama pacarnya, hoo.. Jadi pacarnya ini adalah orang Romania ketemunya di chatting room dan berlanjut ke yahoo messenger, wow.. hebat banget belum pernah ketemu tapi tahan aja gitu 1 tahun ngobrol gak tahu tampangnya. Dia cerita pacarnya ini serius mau nikah sama dia dan teman saya rencananya setelah menikah mau dibawa ke Jepang karena pacarnya pindah kerja disitu. Sampai akhirnya kami sama-sama resign di waktu berbeda, saya di kantor baru dan teman saya melanjutkan S2. Nah, saat teman saya dinyatakan lulus kuliah, dia pasang pengumuman di timeline facebook dan nge-tag pacarnya, klise sih hanya bilang “Akuh lulus, akuh lulus! sambil mention si pacar” terus dijawablah sama pacarnya dengan Bahasa Romania dan karena saya kepo saya google translate, hahahaha, kata-katanya kurang lebih seperti ini “selamat yaa.. aku mencintaimu lebih dari apapun.. kamu beautiful, blah.. and the blah.. and the blah..”. Eh buset, saya mah eneg ada cowok ngomong begitu ke cewek, jangan-jangan temen saya selama berhubungan dibanjiri kata-kata itu, hueeghh -_-“. Tau gak sih, saya baru sadar kalau selama ini teman saya pasang profile picture bukan muka dia, melainkan gambar kartun atau gambar yang bukan dia. Kemudian begitu pasang muka asli dia, jrengggg! Apa yang saya takutkan terjadi, si pacar ini menghilang tanpa jejak, teman saya kalau update status dengan mention dia sudah tidak di-respon lagi, saya jadi sedih karena orang-orang pasti tahu betapa gondoknya dia 😦 dan sepertinya setelah itu mereka sudah tidak kontak-kontakan lagi, atleast itu yang saya perhatikan di timeline facebook, biasanya sih lumayan sering.

Setelah kejadian tersebut, dia pindah ke Bali dan aktif couchsurfing, saya pikir hebat ya menjadi guide turis jalan-jalan seperti sepedaan atau sekedar nongkrong di pantai, foto-fotonya dibanjiri teman-temannya yang orang asing, terus dia juga ke asia tenggara dan gathering dengan anggota couchsurfing lainnya. Sedangkan saya di kantor baru lagi struggling dengan karir, hahaha. Sampai suatu saat saya menemukan di timeline (lagi), dia update status dan ada komentar temannya kira-kira begini “eh gimana lo sama si…. (sebutkanlah Mr I)” terus sama dia dijawab menggantung. Hmm.. jangan-jangan lagi baper sama cowok nih, dan benar sajah! Cowok ini adalah orang Iran (atau Timur Tengah lah) anggota couchsurfing yang lagi ke Bali. Mulai lagi deh tuh timeline dia yang ada hubungannya sama cowok Iran. Mungkin karena cowok ini niatnya cuma mau traveling, temen saya yang tadinya ditanggapi lama-lama dicuekin ditambah lagi sepertinya si Iran banyak fans cewek yang komentar di foto dia (saya stalking lho, hahaha), dan si Iran karena cuma murni mau traveling ya cuek juga sama mereka sih. Dia dan Cowok Iran pun – End.

Sekitar tahun lalu, teman saya update status (lagi-lagi) menemani cowok kali ini orang Perancis (halah, siapa lagi ini), sampai ada foto-foto snorkeling, dan…. munculah foto dia pegangan tangan (tangannya doang yang ke-foto) sama cowok itu! Wah kemajuan nih, pikir saya, banyak teman-teman yang menyoraki “ciee.. ciee.. sama bule”, tapi teman saya malah gak klarifikasi (aneh ah, kalau pegangan tangan artinya sudah dekat dong, lagian seneng banget bikin teman-temannya penasaran #koksayayangribet). Tapi setelah lama-lama saya perhatikan di timeline, mereka cuma teman saja deh! (kan orang lain yang menilai, lol) jangan-jangan teman saya cuma mau bikin statement ini loh dia lagi ‘dekat’ sama bule, dan lagipula setelah saya perhatikan pegangan tangannya kelihatan memaksa! Kaya nangkep orang yang mau jatuh, bukan pegangan romantis (you know ah..). Selama yang saya perhatikan, cowok Perancis ini responnya baik sama dia dibanding cowok-cowok sebelumnya, akhirnya cowok Perancis ini pun pulang ke negaranya.

(berlanjut kesini….)

[Seputar Ngetrip] Menyaksikan Euro Pride di Kanal Amsterdam

Ini adalah pengalaman traveling anti-mainstream sebagai orang Indonesia! XD

Waktu ke Eropa kemarin, sebenarnya saya tidak sengaja mengecek event summer festival yang ada di Belanda dan ternyata di hari saya datang bertepatan dengan Euro/Gay Pride yang sudah memasuki minggu ke-2 (event-nya selama 2 minggu) dimana tanggal 6 Agustus (Sabtu) merupakan acara puncak yaitu Canal Pride (konvoi perahu-perahu yang dihias sedemikian rupa dan menyusuri kanal di Amsterdam).

Euro Pride sendiri adalah event summer tahunan yang diadakan oleh host negara terpilih diantara negara-negara Eropa yang sudah melegalkan pernikahan sesama jenis, nah negara Belanda mendapat giliran sebagai host tahun ini, kebetulan banget kan XD

Saya bahkan sampai cek spot segala dimana posisi yang paling kece untuk mengabadikan momen dengan kamera saya, akhirnya saya putuskan standby di Magere Brug salah satu jembatan diatas kanal yang mempertemukan 4 rute sungai. Mencari tahu yang terbaik untuk event ini sangat menarik bagi saya, seru! Bahkan ketika di hari-H, googlemaps muncul warna-warna pelangi yang meramaikan live map-nya saat saya mencari jalan ke kanal XD

Rute perahu-perahu tersebut berjalan, saya di posisi jam 16.00

Berdasarkan tips yang saya baca, jam 9 harus sudah standby di most wanted spot karena bakalan banyak orang-orang yang rebutan menempati spot tersebut. Niat awal saya berangkat jam 8, namun karena hujan jadi jam 10 saya baru keluar rumah. Di Stasiun Utrecht, sudah mulai banyak orang-orang pakai kostum bermacam-macam, dominannya sih warna pelangi, kemudian kereta yang saya naiki tiba di stasiun dekat kanal (bukan Amsterdam Central) yang malah sudah langsung ke spot yang saya inginkan (thank you googlemaps!).

Jam 11 saya tiba di Magere Brug, ternyata masih sepi! Baiklaah~ saya langsung ke spot tersebut dan standby sambil foto-foto keadaan sekitar (masih belum ramai juga, lol).

Stasiun Amsterdam Central bahkan sudah dipasang bendera seperti Independence Day 🙂

Karena hari itu adalah hari ‘merdeka’ nya kaum LGBT, jalan-jalan sambil gandengan tangan di public sudah biasa! XD

Dua jam kemudian mulai orang-orang berkerumun di dekat saya, wow, sudah mulai ramai nih. Semakin siang semakin panas dan benar-benar terik! Untung saya pakai topi dan sunblock (benar-benar prepare). Walaupun mulainya jam 14.00, tapi karena saya berada di spot agak di akhir sehingga baru bisa lihat paradenya jam 15:00 😦

Suasana saat itu meriah banget! Extra crowded, kebanyakan penonton sangat menikmati acara ini dan tidak sedikit membawa anak-anaknya yang masih kecil untuk turut menyaksikan 🙂 Tidak hanya kaum LGBT yang turut meramaikan dan berpartisipasi, banyak sekali orang-orang biasa juga terlibat untuk event ini.

Ramenya yang nonton~!!

Tibalah saat yang dinanti! Setelah perahu pertama muncul, saya langsung fokus sama kamera saya dan kegiatan foto-memfoto berlangsung selama dua jam (sampai ganti batere kamera, hahaha). Banyak konvoi perahu-perahu yang dihias dan diatasnya orang-orang dengan kostum menarik dan seksi (terutama para cowok, ehem) joget-joget sensual, haduh! XD

Pegawai toko pun ikut berpartisipasi! (kaosnya itu loh) 😛

Konvoi para perahu

Orang-orang di perahu ini jadi pusat perhatian saya! (seksi sekali) XD

Perahu-perahu seperti ini banyak sekali sampai-sampai saya tidak kuat lagi berdiri, lagipula teman-teman saya sudah menunggu di stasiun Amsterdam untuk jalan bareng. Saya rasa cukup lah pengalaman menyaksikan Gay Pride di Belanda pula 😉

Euphorianya tidak hanya di kawasan kanal, downtown-nya pun juga! Saya sedang menunggu teman-teman saya di halte kemudian di hadapan saya ada tiga pria yang kissing bareng! (saat itu saya berdoa pengen di-teleport langsung ke Indonesia saja!), kemudian di public area banyak saja yang mesra-mesraan XD gandengan tangan dll, saya pikir orang-orang ini bahagia banget yaa bebas melakukan apa saja karena sudah disamakan dengan orang-orang biasa serta dilindungi negara. Saya dan teman-teman sepanjang jalan sampai sebodo amat saking sudah kenyang melihat sesuatu yang tidak common di negara kami 😀

Sesampainya ke rumah Martijn, saya cerita ke Aaron (temannya Martijn – host saya di Utrecht) termasuk cerita tentang tiga pria kissing tadi tapi dia hanya bilang “Ahhh, itu sudah biasa!”, waduh 😀 Terus dia menambahkan “Cinta mah cinta aja, saya juga punya beberapa teman gay tapi kalau saya tidak suka cowok ya saya gak perlu menjadi gay, sesimpel itu”. Sepertinya Aaron seperti saya di generasi 80-an dan di-usianya sudah memiliki mindset yang mentoleransi 100% keberadaan LGBT terutama di Belanda.

Bagi saya, dengan menyaksikan event ini cukup dijadikan pengalaman menarik saja karena di belahan dunia lain ternyata ada sesuatu yang tidak ada di negara saya sendiri, dan dari sini saya belajar toleransi dan mengenal sebuah wawasan baru.

[Sekedar Sharing] Pertama Kali Menggunakan Airbnb

Pemandangan kompleks perumahan di Utrecht dari dalam rumah

Hola, saya kembali~! Setelah 2 minggu melalang buana ke Eropa Barat, saatnya saya berbagi cerita di blog! Berhubung banyak banget yang mau di-ceritakan, postingan akan di-publish terpisah aja 😀

Bagi yang sering traveling pasti tidak aneh mendengar kata Airbnb, fasilitas akomodasi ini lagi populer dimana-mana bahkan host saya di Belanda juga rencana pakai Airbnb ketika akan berkunjung ke Los Angeles.

Saya memutuskan pakai Airbnb karena semakin umur (sadar wes tue) sudah tidak bisa kompromi menginap di hostel yang kebanyakan tamu-nya abege labil dan berisiknya itu loh.. gak nahan! Saya ingin tidur dengan tenang, makan dengan tenang, santai dengan tenang, tanpa harus basa basi dengan penghuni sekamar maupun penghuni hostel di pantry. Walaupun saya ikut open trip waktu ke Eropa, namun di minggu pertama saya duluan tiba di Belanda sendirian. Saya memutuskan menginap di Utrecht karena saya tidak terlalu suka kota metropolitan yang crowded dan sesak seperti Amsterdam atau Rotterdam (cukup sudah saya merasakannya di Jakarta setiap hari T_T). Berhubung baru pertama kali menggunakan Airbnb, saya memilih host yang punya reputasi baik di testimonial, kalau dapat host dengan title superhost malah lebih bagus lagi.

Berdasarkan postingannya Mba Ade tentang tips memesan via Airbnb, saya tidak langsung klik ‘instant booking’ melainkan kirim private message ke host atleast menghormati sang host 😀 Dari 5 host yang saya message, 2 declined dan 1 PHP (hiks), namun 2 host menerima saya! Setelah mempertimbangan 2 host akhirnya saya pilih Martijn sang superhost sebagai host saya disana (beruntung banget!).

Pembicaraan antara saya dan Martijn (maaf ya Mba Ade kata-katanya saya contek sedikit, hehehe)

Satu hari menjelang keberangkatan ke Belanda, saya di private message oleh Martijn yang menanyakan kapan saya datang dan jika dia tidak ada di rumah, kunci ada di loker samping rumahnya yang bisa dibuka dengan 4 digit password. Baiklaaahh, tinggal bagaimana perjalanan saya dari Amsterdam ke Utrecht saja nih berhubung saya perdana traveling sendirian 😛

Untuk mencari rumahnya Martijn di Utrecht, googlemaps amat sangat membantu saya. Selain berfungsi sebagai live map, googlemaps juga memberikan informasi detail tentang kereta dan bis nomer berapa yang harus saya naiki berikut platform serta schedule waktunya sehingga tidak perlu buang-buang waktu nanya kesana kemari. Tidak rugi deh saya pasang paket internet provider di Indonesia mahal-mahal biar bisa akses googlemaps XD tapi lain kali pakai mifi/wifi portable saja ya lumayan bisa saving 50% dari harga paket internet yang saya pakai 😦

Pengalaman di Rumah Sang Superhost.

Pertama kali memasuki rumahnya Martijn di Utrecht, yang saya pikirkan adalah…. ini saya mesti lepas sepatu gak sih!? Karena takut rumahnya kotor, saya nyeker saja ke dalam sambil nentengin sepatu. Kesan pertama rumahnya Martijn itu, yaa.. namanya juga rumah bujang cowok, tas dan sepatu dimana-mana, laptop gletak aja di meja, tapi dapurnya dong.. bersih kinclong, toiletnya juga! Saat itu tidak ada orang, jadi mumpung lagi sendirian saya foto-foto deh rumahnya 😛

Ngarep punya dapur begini di rumah

Beberapa jam kemudian, Martijn pulang ke rumah dan kami pun berkenalan. Saya kaget dengan cowok Belanda, tinggi buangeet! Saya saja bicara dengan dia harus dongak, kepala saya hanya dibawah ketiaknya dia kali! Sampai-sampai saya bilang “kamu tuh tinggi banget!” dan dia cuma ketawa (tingginya 186cm loh!) :)) Oia, dia tidak sendirian pulang, melainkan bawa temannya dengan tinggi yang sama (hueee..) bernama Aaron yang saya anggap mukanya kaya boyband (atau persis kaya Prince William waktu umur 20-an), lucuuu! Tapi sialnya saya kenalan dengan Aaron dalam kondisi rambut saya berantakan, muka saya kucel, karena perjalanan panjang dari Indonesia kemari, arrgh! XD So far, Martijn orangnya ramah dan asik, yaah.. tipikal cowok gaul gimana sih, atleast orangnya menyenangkan. Dia tidak bisa lama-lama disitu karena ada shift malam. Selama 4 malam berikutnya kami tidak pernah ketemu karena saat dia kerja saya pulang dan saat dia pulang saya malah pergi.

Walaupun fasilitas tersedia di rumah seperti mesin cuci (yang diletakkan di kamar saya di loteng), dapur, dan tv di living room, namun tidak saya pakai. Boro-boro mau dipakai, saya saja sudah pergi pagi sekali dan pulang malam sekali jadi mau ngapa-ngapain sudah capek!

Living room

Orang Belanda seneng banget pakai sepeda, Martijn sempat menawarkan sepeda punya ceweknya yang katanya cuma setinggi 160cm (setinggi saya) tapi ketika saya duduk, kaki saya gantung dan tidak ada rem pula :(( daripada nabrak anak orang akhirnya tidak jadi deh, padahal saya mau ke grocery beli bekal buat masak di dapur.

Tempat tidurnya nyaman! Empuk-empuk cozyy, dan kamar mandinya juga bersih, ada air panasnya pula (memang harus ada!).

Satu hari menjelang check out, saya private message ke Martijn memberitahukan bahwa besok pagi-pagi saya harus pergi karena janjian sama rombongan open trip di Schiphol jam 9, Martijn menjawab dan berharap semoga saja kami bisa bertemu.

Jam 11 malam ketika saya selesai mandi mesin cuci di kamar saya ternyata sedang bekerja (saat itu saya pikir mungkin Martijn meninggalkan pakaian kotornya disini) dan setelah itu berbunyi ‘beep-beep’ terus menerus padahal putaran di dalamnya sudah berhenti, bagaimana saya mau tidur mana besok harus berangkat pagi-pagi. Saya pelajari bahasa tombol di mesin cuci (pakai Bahasa Belanda pula) duuh rasanya mau nangis, tanpa pikir panjang saya klik saja ‘pause/start’ barangkali si beep-beep jadi diam. Eehh, malah mencuci ulang dari awal, arrghh XD sudahlah, saya tinggalkan saja (pura-pura tidak tahu). Saat saya sedang bebenah diri di karpet tiba-tiba Aaron masuk ke kamar saya dong, ternyata baru ketahuan kalau Aaron pinjam mesin cucinya Martijn karena punya dia rusak, hadeuuhh.. ganteng-ganteng merepotkan orang saja -___-” dia pikir di kamar sudah tidak ada orang jadi dia mencuci disitu, tiba-tiba dia bingung kenapa mesinnya belum selesai mencuci padahal sudah disetting 50 menit, ketika saya beritahu apa yang saya lakukan terhadap mesin itu, dia ketawa dan bilang “yang kamu pencet itu artinya mencuci ulang dan saya harus berterima kasih sama kamu karena membuat pakaian saya dua kali lebih bersih”, saya jawab saja ya lagian cuci di kamar saya tidak bilang-bilang! Dia sih pasrah saja dan malah duduk di sofa samping saya O_O lah ini orang mau ngapain, pikir saya, ternyata dia mengajak ngobrol sambil menunggu mesinnya selesai bekerja. Baiklaah, kapan lagi ngobrol sama orang ganteng (padahal saya sudah ngantuk luar biasa). Aaron menyenangkan orangnya, dia cerita tentang ceweknya yang blasteran Indonesia-Belanda, sampai meng-screencapture jadwal kereta dan bis untuk saya besok (dia menunjukkan jadwal dari hpnya dalam posisi muka dekat sekali dengan saya, 1 inchi lagi pipi kami nempel kali, saya jadi tidak konsen mendengarkan karena grogi XD ). Dua jam kemudian kami masih ngobrol dan tidak lama Martijn masuk kamar dan bertanya ngapain kami berdua disini, akhirnya kami cerita tentang insiden mesin cuci dan Martijn ngakak aja gitu, duuh malu deh saya -____-” sambil bercanda dia bilang akan nulis testimonial tentang saya yang merusak propertinya, tapi gak lah.. testinya dia aman kok 😛 Anyway, Aaron juga punya 6 rumah yang disewakan untuk Airbnb lho! Jika penasaran dengan tampang boyband-nya Aaron bisa cek di website Airbnb di Utrecht dengan nama Finn.

Honestly they are very good host! Saya meng-appreciate hospitality-nya mereka, Martijn walaupun sibuk banget tapi komunikasi dengan dia justru lancar dan quick response, tidak heran sih dia dikasih gelar superhost.

Kesimpulan saya mengenai Airbnb pertama;

    1. Kalau ada sesuatu yang harus di-infokan ke host seperti preferensi makan dan minuman halal, bilang saja! Kalau tidak di-infokan, seandainya host-nya berniat mau kasih complimentary makanan atau minuman jadi tidak salah.
    2. Tanyakan ke host, untuk sepatu/sendal apakah boleh dipakai ke dalam (misal dari luar rumah ke kamar, atau dari kamar ke luar rumah). Di rumah Martijn, dia ke kamar saya dalam kondisi pakai sepatu dari luar rumah dan lantai kamar saya jadi berpasir! XD jadi besok-besoknya saya pakai sepatu dari kamar ke dapur untuk isi air ke botol kemudian keluar rumah tanpa harus nyeker di rumahnya.
    3. Tanyakan ke host, apa saja yang boleh diminta di dapur. Dapurnya Martijn banyak sekali makanan di kulkas, kopi, susu, cornflakes, wine ada diatas meja, saya agak ragu minta kopinya dia karena belum bertanya XD
    4. Dengan menggunakan Airbnb, saya merasakan langsung kehidupan orang lokal setempat, kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lokal di rumah jauh lebih banyak karena ada saja cerita ketika berinteraksi dengan mereka seperti pengalaman saya dengan Aaron, dibandingkan dengan hostel/hotel yang ujung-ujungnya ketemu dengan turis juga sehingga sharing mengenai lokasi dan budaya setempat tidak maksimal.

Sepertinya itu saja pengalaman saya tentang Airbnb yang membuat saya ingin menggunakan jasa ini lagi untuk trip selanjutnya. 😉

[Sekedar Sharing] Pengalaman Mengurus Visa Schengen

Halaaah, topik ini mainstream banget sih, sebenarnya sudah banyak blog yang sharing pengalaman mengurus visa schengen dan tentunya kalian sudah pada bosan 😛 Tapi berhubung blog saya belum pernah bahas tentang Eropa, saya putuskan untuk berbagi pengalaman saya sendiri dimulai dari urus visanya.

Berawal dari gagal pergi bareng travel mate (detailnya ada disini), akhirnya saya banting setir #halah untuk pergi sendiri, tapi saya jadi mikir “bagaimana kalau sendirian terus kesasar.. terus mendekam di pos satpam kaya anak hilang.. kedutaan telp ortu di Indonesia.. saya akhirnya di-deportasi..” bukannya mandiri jadi malah ngerepotin ortu >_< dan lain-lain segala keparnoan berlebihan yang menghantui saya 😛 akhirnya saya pun memutuskan pergi sendiri #lah . Maksutnya, saya ikut open tripnya Claudia Kaunang atau biasa dipanggil CK (instagram: @claudiakaunang). Saya sudah follow beliau dari jaman dia talkshow masih berdampingan dengan Trinity dan Rini Raharjanti tahun 2011 (ada postingannya lho). Kadang saya kepikiran kapan2 mau ikutan tripnya CK ah, tapi keinginan untuk jalan sendiri masih lebih kuat jadi selama ini saya pergi secara mandiri. Sampai akhirnya trip ke Eropa saya pakai jasanya CK 😀 (karena harga lebih terjangkau dari travel agent tentunya). Pengalaman trip bareng CK dimulai dari persiapan dll akan saya bahas di postingan tersendiri yaa.

Okay! Back to the topic. Setelah deal dengan team CK, saya mulai mempersiapkan segala dokumen yang akan dibawa ke Kedutaan Belanda (FYI, per 1 Juli 2016 Kedutaan Belanda menunjuk VFS Global sebagai pihak agent untuk mengurus Visa, kecewa? Trust me, lebih enak pakai jasa VFS Global karena berdasarkan pengalaman urus Visa New Zealand, staff-nya ramah dan bisa diajak ber-haha hihi dibandingkan kedutaan yang staff-nya itu.. serem). Dokumen yang saya submit antara lain:

  • Formulir yang harus diisi. Karena Belgium masuk ke dalam destinasi, saya sampai menuliskan Belgium sekaligus Brussels ke dalam daftar destinasi dan saya baru sadar ketika menunggu interview, mau diperbaiki tapi yang saya coret malah Belgium >_< keliatan banget tidak siap karena saya pikir sudah terima beres kalau pakai tur tapi saya lupa kalau saya apply visa sendiri – tidak pakai jasa travel agent. Mistake #1

  • Fotokopi Paspor + Paspor Asli. Waktu itu saya juga serahkan paspor lama tapi mereka tidak ambil.

  • Pas Foto 3,5 x 4,5 dengan background putih.

  • Bukti reservasi pesawat. Saya nekat beli tiket Qatar Airways KL – AMS dan Air Asia CKG – KL, kalau visa ditolak ya resiko hangus. 😛

  • Bukti reservasi hotel. Karena saya pergi dengan tur, saya serahkan bukti reservasi atas nama CK dan kalau bisa serahkan list daftar peserta tur ya biar kedutaan percaya bahwa kita memang pergi bareng dengan tur. Kesalahan saya, saya tidak serahkan list tersebut. Mistake #2 

  • Asuransi Perjalanan. Saya biasa pakai Zurich yang sudah ketahuan mendunia, bukti pembelian asuransi dijadikan sebagai surat ijin kita untuk apply visa, kalau tidak ada ini bakal diusir sama satpam keluar. 😦

  • Rekening Tabungan 3 bulan terakhir. Saya pakai rekening bank keluar masuk gaji saya karena memang paling aktif (jika rekeningnya masih dalam status payroll sebaiknya ganti menjadi rekening tabungan). Minimal saldo kurang lebih Rp 20,000,000 untuk trip selama 2 minggu.

  • Surat pernyataan dari HRD kantor kalau mereka mengetahui saya pergi dari tanggal segini sampai tanggal segitu, menjamin saya akan pulang ke Indonesia sesuai waktunya karena masih ada keterikatan hubungan kerja, dan tidak berniat mencari pekerjaan disana. Komplit kan, saya request ke HRD dengan kata2 tersebut dan point 8 ini menurut saya yang paling sakti agar visa approve karena ada jaminan dari lembaga/perusahaan yang terdaftar usahanya secara resmi di Indonesia dan jika karyawannya bermasalah, pihak kedutaan bisa minta pertanggung jawaban ke si pemberi jaminan dan si pemberi jaminan bisa berurusan dengan si karyawan sehingga si karyawan akan berpikir panjang jika suatu saat membuat masalah. Karena surat ini sepertinya Mistake #1 dan Mistake #2 diabaikan oleh kedutaan. XD

Akhirnya saat interview..

Ruangannya tidak terlalu besar, terdiri dari bangku yang menghadap loket seperti teller bank tapi mereka pakai kaca. Jujur saya stress menghadapi interview ini karena beberapa orang sebelum saya dimarahi staff kedutaan karena dokumen tidak lengkap, salah satunya:

Staff: “beberapa dokumen tidak lengkap, ibu tolong dilengkapkan dulu

Ibu2: “tapi kan…. *bla bla bla” (sambil begging)

Staff: “gak! gak! gak! saya tidak mau terima! ibu silahkan keluar dan kembali kesini dengan dokumen lengkap” dengan lunglai ibu tersebut keluar dan curhat dengan pihak travel agent

Hueee, gimana saya tidak stress, tapi ibu2 sebelah saya menenangkan dan menyemangkatkan saya bahwa saya pasti lolos. Hidup si ibu!

Tibalah giliran saya dipanggil #glek

Staff: sambil lihat2 paspor lama saya “ini kok paspornya expired 2015?

Saya: “itu paspor lama saya, yang baru ada disitu” (tidak dipegang sama dia)

Staff: “iyaaa, ini expired 2015

Saya: “ada disitu paspor barunyaa ToT “

Staff: “ooohh,ini, yang lama sudah tidak terpakai” sambil dilempar paspornya ke saya, Iiiiihhh…

Staff: “mau pergi dengan tujuan apa?

Saya: “holiday

Staff: “kemana saja?

Saya: “Belanda, Perancis, Jerman, Belgia…” padahal baru saya hafalkan sampai ke kota2nya sebelum interview, saking gugupnya saya lupa menyebutkan Luxembourg -__-“

Staff: “paling lama stay dimana?”

Saya: Belanda“. Pede lah jawab Belanda, saya advance 4 hari di Belanda pasti sudah masuk hitungan paling lama disana XD

Dokumen saya hanya dibalik satu kali (tidak dibolak-balik, harusnya pertanda baik yaa..), setelah dokumen disteples oleh dia, saya langsung bayar di loket pembayaran sebesar Rp 910,000 (setara 60 Euro). Dulu, keputusan visa keluar hanya 4 hari kerja, entah karena lagi proses migrasi ke VFS Global sehingga dokumen2 saya dikirim ke Kuala Lumpur dan harus menunggu selama 2 minggu -__-“

Dua minggu kemudian… visa saya keluar!

Yaaah, walaupun hanya dikasih 30 hari yang penting saya sudah di-ijinkan masuk Uni Eropa.